KDRT Jangan Dijadikan Bahan Candaan? Coba Pikir -Pikir Lagi Deh Buddies!
Senin, 31 Oktober 2022 - 15:47 WIB
loading...
A
A
A
Guyonan dan tekanan terhadap korban KDRT bisa berdampak serius yaitu semakin takutnya korban KDRT untuk melapor dan bicara. Padahal kasus KDRT adalah masalah kompleks. Korban KDRT tak bisa langsung meninggalkan pelaku, dibutuhkan berbagai persiapan dari korban untuk bisa lepas baik secara mental fisik dan ekonomi.
Selain itu ada yang Namanya cycle of abuse. Salah satu fasenya disebut dengan honeymoon, yakni fase di mana pelaku dan korban berselisih dengan baik atau memilih berdamai. jika sudah seperti itu si korban akan meragukan dirinya sendiri. Alhasil, ia
juga akan ragu dalam mengambil keputusan.
“Jadi setelah berantem tuh honeymoon phase, jadi fasenya kayak jatuh cinta lagi gitu. Setelah itu waktu berjalan kita nggak ada yang tahu apakah si pelaku akan murni. Nantinya berubah atau tidak nggak ada yang tahu tapi kebanyakan siklusnya akan berulang kembali sampai bisa 10 15 kali hingga akhirnya si korban memutuskan untuk lepas. Jadi bayangin aja sama siklusnya pelaku melakukan kekerasan tapi korban melawan, lalu pelaku melemah, korban ikut melemah, honeymoon phase lagi. Gitu terus sampai memutuskan berpisah,” ujar Alqi.
Untuk itu, Alqi meminta masyarakat lebih memahami kondisi korban, sebelum menyalahkan korban yang memilih berdamai dengan pasangannya.
“Begitu sulitnya seseorang korban untuk lepas dari pengaruh kekerasan rumah tangga karena banyak faktor jadi saya juga nggak bisa menyalahkan sepenuhnya. butuh support mental, di sisi lain masyarakat sekitar juga harus memahami bahwa kita nggak bisa semudah itu menyalahkan korban gitu karena ada proses di situ yang membuat kita perlu dukungan moril aja kepada mereka," tambahnya.
Selain itu ada yang Namanya cycle of abuse. Salah satu fasenya disebut dengan honeymoon, yakni fase di mana pelaku dan korban berselisih dengan baik atau memilih berdamai. jika sudah seperti itu si korban akan meragukan dirinya sendiri. Alhasil, ia
juga akan ragu dalam mengambil keputusan.
“Jadi setelah berantem tuh honeymoon phase, jadi fasenya kayak jatuh cinta lagi gitu. Setelah itu waktu berjalan kita nggak ada yang tahu apakah si pelaku akan murni. Nantinya berubah atau tidak nggak ada yang tahu tapi kebanyakan siklusnya akan berulang kembali sampai bisa 10 15 kali hingga akhirnya si korban memutuskan untuk lepas. Jadi bayangin aja sama siklusnya pelaku melakukan kekerasan tapi korban melawan, lalu pelaku melemah, korban ikut melemah, honeymoon phase lagi. Gitu terus sampai memutuskan berpisah,” ujar Alqi.
Untuk itu, Alqi meminta masyarakat lebih memahami kondisi korban, sebelum menyalahkan korban yang memilih berdamai dengan pasangannya.
“Begitu sulitnya seseorang korban untuk lepas dari pengaruh kekerasan rumah tangga karena banyak faktor jadi saya juga nggak bisa menyalahkan sepenuhnya. butuh support mental, di sisi lain masyarakat sekitar juga harus memahami bahwa kita nggak bisa semudah itu menyalahkan korban gitu karena ada proses di situ yang membuat kita perlu dukungan moril aja kepada mereka," tambahnya.
Lihat Juga :