KDRT Jangan Dijadikan Bahan Candaan? Coba Pikir -Pikir Lagi Deh Buddies!

Senin, 31 Oktober 2022 - 15:47 WIB
loading...
KDRT Jangan Dijadikan...
Psikologi Almakiyah Alqi prihatin karena KDRT dijadikan olok-olokan. Foto/MNC Media
A A A
JAKARTA - Buddies walaupun sudah hampir dua minggu Lesti mencabut laporan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap suaminya Rizki Billar, tagar Boikot leslar sampai sekarang masih saja menggema dimana – mana terutama di media sosial. Banyak pihak yang kecewa meluapkan emosinya yang berujung jadi pembulian terhadap korban KDRT.

Terkait hal ini konselor Psikologi, Almakiyah Alqi mengaku prihatin karena KDRT adalah masalah serius yang tidak lucu untuk dijadikan bahan olokan.

“Sangat disayangkan isu KDRT menjadi bahan olok-olok, bahan prank, bahan gimik dan sebagainya karena ini serius. Bukan isu domestik dalam rumah tangga seseorang aja ini sudah isu negara. Karena negara ini banyak sekali mengeluarkan program dan anggaran demi untuk mencegah angka kekerasan dalam rumah tangga, artinya negara merasa dan meyakini bahwa kasus KDRT ini adalah isu penting dalam mewujudkan generasi berkualitas di negara kita,” jelas Alqi.

Orang – orang yang menjadikan isu KDRT guyonan pun bisa dibilang adalah orang yang minim sensitifitas dan empati.“Makanya kalau ada orang yang melakukan gimmick, prank, lelucon, atau apapun itu berkaitan dengan isu KDRT saya bisa pastikan mereka adalah orang yang minim sensitifitas, minim empati, dan jangan-jangan minum edukasi,” lanjutnya.

Baca Juga : Blackpink Sibuk Tur Dunia, Jisoo Kirim Hadiah Truk Kopi buat Hyeri

Guyonan dan tekanan terhadap korban KDRT bisa berdampak serius yaitu semakin takutnya korban KDRT untuk melapor dan bicara. Padahal kasus KDRT adalah masalah kompleks. Korban KDRT tak bisa langsung meninggalkan pelaku, dibutuhkan berbagai persiapan dari korban untuk bisa lepas baik secara mental fisik dan ekonomi.

Selain itu ada yang Namanya cycle of abuse. Salah satu fasenya disebut dengan honeymoon, yakni fase di mana pelaku dan korban berselisih dengan baik atau memilih berdamai. jika sudah seperti itu si korban akan meragukan dirinya sendiri. Alhasil, ia
juga akan ragu dalam mengambil keputusan.

“Jadi setelah berantem tuh honeymoon phase, jadi fasenya kayak jatuh cinta lagi gitu. Setelah itu waktu berjalan kita nggak ada yang tahu apakah si pelaku akan murni. Nantinya berubah atau tidak nggak ada yang tahu tapi kebanyakan siklusnya akan berulang kembali sampai bisa 10 15 kali hingga akhirnya si korban memutuskan untuk lepas. Jadi bayangin aja sama siklusnya pelaku melakukan kekerasan tapi korban melawan, lalu pelaku melemah, korban ikut melemah, honeymoon phase lagi. Gitu terus sampai memutuskan berpisah,” ujar Alqi.

Untuk itu, Alqi meminta masyarakat lebih memahami kondisi korban, sebelum menyalahkan korban yang memilih berdamai dengan pasangannya.

“Begitu sulitnya seseorang korban untuk lepas dari pengaruh kekerasan rumah tangga karena banyak faktor jadi saya juga nggak bisa menyalahkan sepenuhnya. butuh support mental, di sisi lain masyarakat sekitar juga harus memahami bahwa kita nggak bisa semudah itu menyalahkan korban gitu karena ada proses di situ yang membuat kita perlu dukungan moril aja kepada mereka," tambahnya.

Baca Juga : Aurel Hermansyah Terhibur Aksi Bunda Corla, Atta Halilintar Beri Saweran Rp100 Juta

Menurut Alqi KDRT bisa kita cegah dengan cara lebih mengenal pasangan sebelum menikah, apabila pasangan menunjukan sifat yang temperamental atau mudah marah baiknya pikirkan kembali. Selain itu tidak ada salahnya mengikuti kelas pra nikah yang ada di KUA untuk bisa lebih mengenal pasangan kita sebelum naik ke jenjang selanjutnya. Dan terakhir membuat perjanjian pra nikah.

“Perjanjian pra nikah itu adalah cara kita untuk melindungi masing-masing kita sendiri gitu. Bukan merugikan salah satunya, tapi kita berdua sepakat untuk melindungi diri kita masing-masing. Jadi menurut saya itu sudah harus lebih di lazimkan aja di Indonesia” tutupnya.
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Evan Marvino Bantah...
Evan Marvino Bantah Tudingan KDRT Terhadap Istri: Tidak Ada Pemukulan
Trauma Jadi Korban KDRT,...
Trauma Jadi Korban KDRT, Tami Tinggalkan Rumah dan Cari Tempat Tinggal Baru
Akui Pernah Lakukan...
Akui Pernah Lakukan KDRT ke Istri, Dede Sunandar Ungkap Alasannya
Anak Dede Sunandar Disebut...
Anak Dede Sunandar Disebut Lindungi Ibunya Saat Dugaan KDRT Terjadi
Istri Dede Suandar Mengaku...
Istri Dede Suandar Mengaku Alami KDRT, Anak Ikut Jadi Korban
Kasus KDRT Kembali Diungkit...
Kasus KDRT Kembali Diungkit Lewat DM, Rizky Billar Pertimbangkan Langkah Hukum
Penembakan Massal Guncang...
Penembakan Massal Guncang AS, 8 Bocah Tewas, Pelaku Juga Terbunuh
Puspadaya Perindo Terima...
Puspadaya Perindo Terima Aduan dan Dampingi Korban Dugaan KDRT di Matraman Jaktim
Ada-ada Saja, Perempuan...
Ada-ada Saja, Perempuan Ini Dirantai Pacarnya di Tempat Tidur agar Tak Selingkuh
Rekomendasi
Mobil Maung Tabrak Rambu...
Mobil Maung Tabrak Rambu di Tol Dalam Kota, Begini Kronologinya
Didukung BPDP dan Ditjenbun,...
Didukung BPDP dan Ditjenbun, AKPY Percepat Transfer Teknologi ke Pekebun Sawit Morowali
Jaksa Minta Lanjutan...
Jaksa Minta Lanjutan Sidang Dokter Tifa Digelar 2 Pekan Lagi, Hakim Menolak
Berita Terkini
MNC Animation Hadirkan...
MNC Animation Hadirkan ENTONG & KIKO di Event FOMBEX 2026 ICE BSD
Sejak Gary Iskak Meninggal,...
Sejak Gary Iskak Meninggal, Richa Novisha Masih Trauma Dengar Sirine Ambulans
Demi Film Baru, Davina...
Demi Film Baru, Davina Karamoy Rela Potong Rambut yang Dipanjangkan 6 Tahun
Pria Juga Bisa Mood...
Pria Juga Bisa Mood Swing, Dokter Ungkap Tanda Hormon Testosteron Rendah
Pramono Anung Resmikan...
Pramono Anung Resmikan Mayapada Hospital Jakarta Timur, Fokus Layani Ibu dan Anak
5 Aktivitas Seru di...
5 Aktivitas Seru di Cimory Dairyland Puncak
Infografis
China Uji Coba Bom Hidrogen...
China Uji Coba Bom Hidrogen Hasilkan Suhu 1.000 Derajat Celsius
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved