Menilik Aktivitas Perdagangan Indonesia-Malaysia di Ujung Perbatasan Aruk

Selasa, 29 Mei 2018 - 14:30 WIB
Menilik Aktivitas Perdagangan...
Menilik Aktivitas Perdagangan Indonesia-Malaysia di Ujung Perbatasan Aruk
A A A
ARUK - MNC Travel mengajak tim MNC Media untuk mengamati aktivitas perdagangan antara Indonesia dan Malaysia yang berada di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Di sana, tim MNC dipandu salah satu petugas PLBN Aruk menuju ke titik 0 (zero).

Di titik 0 ini, aktivitas perdagangan antarkedua negara, Indonesia dan Malaysia dimulai. Titik 0 ini berpatok pada gapura atau gerbang kedua negara.

Perdagangan antar kedua negara tersebut berlangsung pada pukul 06.00-10.00 WITA untuk tahap pertama. Selanjutnya, perdagangan kedua negara itu bisa berjalan lagi pada tahap kedua, mulai pukul 15.00-17.30 WITA.

Infrastruktur di PLBN Aruk sendiri sudah terbilang megah. Pasalnya, pada Maret 2017 silam, PLBN Aruk diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, setelah pemerintah melalui Kementerian PUPR memutuskan untuk membangun ulang pos lintas tersebut. Dan sudah dilengkapi beberapa teknologi penunjang pegawai PLBN di sana.

Dari cerita Rahmat yang merupakan Kepala Sub bidang Kebersihan dan Keamanan PLBN Aruk, masyarakat Indonesia terutama warga Sajingan Besar dan Sambas yang paling dekat dengan perbatasan kerap membeli bahan-bahan pokok pangan dari negara tetangga.

Namun, Indonesia pun menawarkan kekayaan alam yang Malaysia tidak punya. "Kalau pedagang dari mereka (Malaysia) jualnya ya bahan pokok, kalau kita (Indonesia) kebanyakan hasil bumi, macam buah dan sayur-sayuran," katanya, Kamis (24/5/2018).

Kasubsi Hanggar Pabean dan Cukai (KPPBC) Tipe C Sintete PLBN Aruk, Maryadi menjelaskan, jika warga perbatasan dari Indonesia yang hendak berbelanja barang dagang asal Malaysia dibatasin secara nominal. "Kita batasin warga perbatasan dari kita ini 600 ringgit (untuk belanja), itu untuk sebulan," ucapnya.

Berbicara soal barang dagangan dari Indonesia yang hendak dijual ke Malaysia, barang dagangannya terlebih dahulu diperiksa melalui pos karantina. Jika pedagang Indonesia membawa sayur, harus dicek oleh petugas karantina pertanian. Jika membawa ikan, maka petugas karantina perikanan akan memeriksa kualitasnya.

Untuk menjual barang dagang itu sendiri, regulasi dari Indonesia melarang warga Malaysia melakukan transaksi penjualan daging. "Menghindari adanya penyakit yang berasal dari daging yang dijual," ujar Maryadi lagi.

Kenyataannya, untuk penjualan ayam justru warga perbatasan dari Indonesia kerap membeli dari Malaysia dibandingkan negeri sendiri. Harganya lebih murah, itu yang membuat warga Sajingan Besar dan Sambas tertarik membeli.

"Di tempat kita (Indonesia) jualnya bisa sampai Rp30 ribu lebih. Kalau mereka (pedagang Malaysia) cuma jual 6 ringgit per ekor (Rp21 ribu)," ujar salah satu warga Sajingan Besar ketika ditanya.

Sedangkan asal Malaysia, Alung dan Le Mien telah lama menjual bapok sekian puluh tahun. Namun, selama nilai mata uang mereka Ringgit naik jadi Rp3.500 per ringgit, penjualan mereka tidak selaku beberapa tahun yang lalu.

"Dulu ringgit masih 3.000 sampai 3.500, banyak yang beli barang kita. Sekarang agak sepi," kata Alung yang sudah berdagang di perbatasan titik 0 selama 20 tahun.

Di sana, juga ada transaksi pertukaran mata uang (money changer) secara mobile yang dilakoni oleh Belitrus. Bapak kelahiran Nusa Tenggara Timur (NTT) ini baru saja menjalani profesi sebagai penukar uang. Keuntungan yang ia dapat dari menukar uang tersebut dianggapnya cukup.

"Kalau saya beli mata uang Ringgit Rp3.550, kalau jual Rp3.500. Untungnga lumayanlah, sehari bisa dapat Rp200 ribu," katanya.

Melihat aktivitas perdagangan kedua negara ini, Corporate Sales Supervisor MNC Travel, Renny Eka Putri menilai, bahwa ekonomi di Indonesia bakal maju. Apalagi, Indonesia mempunyai kekayaan alam yang tidak dimiliki oleh negara tetangga.

"Menambah perekonomian (Indonesia), dengan menjual hasil bumi ke negara lain dibayarkan dengan ringgit otomatis penerimaan di Indonesia lebih tinggi," kata Renny.

Renny menambahkan kerjasama MNC Travel dan BNPP adalah untuk membantu menginformasikan kepada masyarakat terkait dengan PLBN yang ada di perbatasan-perbatasan.

"Iya, jadi dengan adanya publikasi dari media dapat memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan PLBN yang ada di perbatasan, dimana kondisinya sangat baik dan maju," kata dia.
(alv)
Berita Terkait
MNC Travel Resmikan...
MNC Travel Resmikan Cabang Baru, Ada Promo Cashback Puluhan Juta dan Tiket Gratis ke Bali!
Kemenparekraf Ajak Masyarakat...
Kemenparekraf Ajak Masyarakat Dukung Wisata lewat Tagar #DiIndonesiaAja
Mau Work from Hotel...
Mau Work from Hotel atau Staycation? Lido Lake Resort Direkomendasikan, Aman & Nyaman!
HUT ke-9, MNC Travel...
HUT ke-9, MNC Travel Bagi-bagi Paket Liburan ke Destinasi Super Prioritas, Ikuti 3 Langkah Mudah Ini!
MNC Travel Virtual Tour:...
MNC Travel Virtual Tour: Nikmati Ecotourism Plataran Menjangan Bali, Menangkan Staycation 2 Malam!
Ikuti Seru-seruan Virtual...
Ikuti Seru-seruan Virtual Tour MNC Travel, Berhadiah Staycation di Plataran Komodo!
Berita Terkini
Ruben Onsu Soroti Live...
Ruben Onsu Soroti Live TikTok Anak hingga Malam Hari, Hak Asuh Jadi Pertimbangan Serius
1 jam yang lalu
Kasus Hanania Travel,...
Kasus Hanania Travel, Aaliyah Massaid Akui Sedih Melihat Jemaah Umrah Gagal Berangkat
2 jam yang lalu
Dibully Sampai Hidupnya...
Dibully Sampai Hidupnya Hancur, Ini Balas Dendam Anna di Microdrama V+Short She Was Never Gone
13 jam yang lalu
Nakei Tampilkan Pendewasaan...
Nakei Tampilkan Pendewasaan Musik Lewat Single Kedua 'Setengah Hadir'
14 jam yang lalu
Samuel Cipta Hadirkan...
Samuel Cipta Hadirkan Makna Cinta Lewat Single Terbaru Jagat Rasa
14 jam yang lalu
Bukan Skill Game-nya,...
Bukan Skill Game-nya, Ini yang Membuat Konten Refa Ardhi Disukai Banyak Orang
15 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved