Kaki Gajah Masih Jadi Masalah, Yuk Kenali agar Bisa Mencegahnya

Selasa, 09 Oktober 2018 - 20:32 WIB
Kaki Gajah Masih Jadi...
Kaki Gajah Masih Jadi Masalah, Yuk Kenali agar Bisa Mencegahnya
A A A
JAKARTA - Filariasis atau yang yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit kaki gajah masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Pasalnya, baik anak-anak maupun dewasa, pria atau wanita, bisa tertular penyakit kaki gajah.

Filariasis atau penyakit kaki gajah disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu wucheria bancrofti, brugia malayi dan brugia timori, yang ditularkan dengan perantaraan nyamuk sebagai vektornya. Berbeda dengan penyakit DBD atau malaria yang hanya ditularkan oleh satu jenis nyamuk tertentu, penyakit kaki gajah dapat ditularkan oleh semua jenis nyamuk, baik genus anopheles, culex, aedes, dan armigeres.

''Semua jenis nyamuk bisa membawa parasit mikrofilaria ini,'' tutur Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2TVZ) Kementerian Kesehatan RI, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc.

Penyakit kaki gajah ditularkan saat seekor nyamuk menghisap darah seseorang yang mengandung anak cacing filaria yang disebut mikrofilaria, menjadi parasit di dalam tubuh nyamuk selama lebih kurang dua minggu dan berubah menjadi larva L3. Saat nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah orang lain, larva L3 masuk ke dalam tubuh, tumbuh dan berkembang selama berbulan-bulan menjadi cacing filaria dewasa di dalam pembuluh dan kelenjar getah bening (kelanjar limfa) manusia.

Beberapa bulan kemudian, cacing filaria dewasa mampu menghasilkan cacing-cacing kecil mikrofilaria yang beredar aktif di peredaran darah tepi pada waktu malam hari. Namun saat siang hari, mikrofilaria berada di kapiler darah organ dalam.

''Itulah sebabnya mengapa survei darah jari yang dilakukan di daerah endemis dilakukan selalu pada malam hari,'' imbuh dr. Jane.

Penyakit kaki gajah pada fase klinis akut ditandai dengan gejala demam berulang selama 3-5 hari, hilang jika cukup istirahat namun dapat timbul kembali setelah bekerja berat. Fase kronis penyakit kaki gajah dibagi menjadi beberapa stadium. Di antaranya stadium I ditandai bengkak pada anggota tubuh hilang saat bangun pagi, tidak ada lipatan kulit (masih halus) dan kulit yang bengkak tetap cekung setelah ditekan selama beberapa detik (pitting edema).

Stadium II, gejala bengkak pada anggota tubuh tidak hilang saat bangun pagi, tidak ada lipatan kulit (masih halus) dan pitting edema. Stadium III ditandai bengkak menetap, lipatan kulit dangkal, kulit masih halus dan normal, non pitting edema. Stadium IV ditandai bengkak menetap, lipatan kulit dangkal dan ada benjolan (nodul) di kulit.

Stadium V ditandai bengkak menetap dan membesar, lipatan kulit dalam dan ada nodul di kulit. Stadium VI ditandai bengkak menetap dan membesar, lipatan kulit dangkal dan dalam, mossy foot gambaran seperti berlumut serta Stadium VII ditandai bengkak menetap dan membesar, lipatan kulit dalam, nodul-nodul, mossy foot dan penderita tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari.

''Penyakit kaki gajah ini bersifat menahun (kronis), bila tidak mendapat pengobatan, akan menimbulkan kecacatan yang menetap seumur hidup, misalnya berupa bengkak atau pembesaran di beberapa anggota tubuh misalnya kaki, lengan, atau buah zakar (skrotum),'' jelasnya.

Seseorang yang menderita penyakit kaki gajah akan berdampak pada psikologis penderita dan keluarganya, misalnya disembunyikan oleh keluarga atau sengaja menyembunyikan diri. Penderita tidak dapat bekerja secara optimal, hidupnya bergantung kepada orang lain sehingga menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara.

''Meski telah menyelesaikan pengobatan, pembengkakan yang dialami sebagian besar penderita tidak dapat disembuhkan (bersifat menetap). Penderita dan keluarga penderita penyakit kaki gajah harus bisa dan mampu mencegah dan membatasi kecacatan secara mandiri agar tidak bertambah parah,'' tandasnya.

Sementara penatalaksanaan kasus filariasis mandiri antara lain, mencuci bagian tubuh yang bengkak dengan air bersih dan sabun, memberi salep antibiotik atau antijamur sesuai indikasi, meninggikan bagian yang mengalami pembengkakkan, menggerakkan bagian yang bengkak agar peredaran darah tetap lancar, dan memakai alas kaki atau pakaian yang tidak ketat.
(nug)
Berita Terkait
Orang Tua Wajib Tahu!...
Orang Tua Wajib Tahu! Proses Terbentuknya Lengkungan Kaki Anak Tidak Instan
5 Penyakit yang Bisa...
5 Penyakit yang Bisa Dilihat dari Kaki, Bengkak Tanda Masalah di Ginjal dan Jantung
8 Manfaat Angkat Kaki...
8 Manfaat Angkat Kaki ke Tembok, Menyehatkan Jantung dan Pencernaan
Apa yang Terjadi jika...
Apa yang Terjadi jika Seseorang Berjalan 20.000 Langkah Sehari?
5 Manfaat Jalan Tanpa...
5 Manfaat Jalan Tanpa Alas Kaki, Nomor 1 Membantu Mengatur Sistem Saraf
Studi: Jalan Kaki 5.000...
Studi: Jalan Kaki 5.000 Langkah Sehari Kurangi Risiko Depresi
Berita Terkini
Rumah Warisan atau Ditinggalkan?...
Rumah Warisan atau Ditinggalkan? Ki Atmo dan Dua Spiritualis Beri Saran Berbeda untuk Narasumber Ini?!
1 jam yang lalu
Diduga Jadi Target Berikutnya,...
Diduga Jadi Target Berikutnya, Mas Den Akui Hidup dalam Ketakutan setelah Kehilangan Keluarga!
1 jam yang lalu
Bongkar: Tidur Sambil...
Bongkar: Tidur Sambil Duduk? Dandy Panjawi Bongkar Kebiasaan Unik yang Bikin Azia Riza Melongo!
2 jam yang lalu
Tak Mau Berhenti di...
Tak Mau Berhenti di Indonesian Idol, Dandy Panjawi Siap Sikat Casting Film hingga Rilis Mini Album?!
2 jam yang lalu
Strategi Menyiapkan...
Strategi Menyiapkan Generasi Emas Indonesia, Dimulai dari Tumbuh Kembang Anak
3 jam yang lalu
Penuh Plot Twist! Simak...
Penuh Plot Twist! Simak Sinopsis Love Beyond Memory, Microdrama Seru di V+Short
3 jam yang lalu
Infografis
6 Penyakit Berbahaya...
6 Penyakit Berbahaya yang Bisa Dicegah dengan Berjalan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved