Kembali Hadir, Bunga Penutup Abad Akan Dipentaskan di TIM
Sabtu, 03 November 2018 - 00:19 WIB
Kembali Hadir, Bunga Penutup Abad Akan Dipentaskan di TIM
A
A
A
JAKARTA - Pementasan teater "Bunga Penutup Abad" akan kembali digelar untuk kali ketiga. Pementasan itu akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat pada 17 dan 18 November 2018.
Pementasan teater ini digelar untuk melanjutkan kesuksesan sebelumnya saat dihelat di Jakarta pada Agustus 2016, dan Maret 2017 di Bandung. Kala itu, jumlah penonton berhasil mencapai 2.653 penonton.
Melihat antusias penikmat teater yang tinggi terutama dari kalangan anak muda, Titimangsa Foundation selaku pihak yang menginisiasi pementasan teater ini pun kembali mementaskan ulang karya yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.
Kali ini, meski menghadirkan para pemain yang sama, pementasan yang dihadirkan dikemas lebih menarik dan berbeda. Reza Rahadian sebagai Minke, Chelsea Islan sebagai Annelies, Lukman Sardi sebagai Jean Marais, serta pemain cilik berbakat Sabia Arifin sebagai May Marais. Yang berbeda di pentas ini adalah Marsha Timothy yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh menggantikan Happy Salma yang menjadi produser dalam pentas teater ini.
Produser teater Bunga Penutup Abad, Happy Salma mengungkapkan bahwa antusiasme pemain dan masyarakat dengan 'Bunga Penutup Abad' adalah salah satu alasan dipentaskan ulang, ditambah banyak yang ingin mengenal lebih dekat karya Pramoedya Ananta Toer yang dialihbahasakan dalam 40 bahasa.
"Ketika dipentaskan di GKJ, antusiasnya luar biasa. Sold out. Ketika saya tanya tambah hari atau tidak, Reza paling keras bilang tidak. Bilangnya, teh tidak mungkin, saya belum saja pentas sudah tambah hari. Chelsea ragu-ragu. Sampai akhirnya premier film, saya datangi seperti groupies-nya. Reza bilang, saya enggak yakin tapi mau menceburkan diri ke panggung. Ternyata dia ketagihan dan antusiasme penonton tinggi menonton kembali," ujar Happy Salma kepada SINDOnews seusai jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, baru-baru ini.
Ketika pentas di Bandung pun, tiketnya ludes lagi. Happy kembali menjelaskan ketika Titimangsa Foundation menggelar pameran tribute pada sosok sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul 'Namaku Pram', akhirnya ide dipentaskan ulang tercetus lagi.
"Waktu itu Reza bilang kayaknya seru deh kalau dipentaskan lagi. Antusias pemain, dan masih menyambut yang luar biasa. Dengan kali ini perubahannya ada Nyai Ontosoroh diperankan oleh Marsha Timothy," sambung Happy.
Sutradara Wawan Sofwan pun menuturkan pentas yang kali ketiga ini adalah anugerah. "Ketika kami dapat kesempatan untuk mementaskan karya sastra dua tahun lalu, saya pikir ini adalah keberuntungan karena harus mengadaptasi sebuah novel. Diajak main lagi di Bandung adalah bonus. Tapi ketika datang tawaran ketiga buat kami adalah anugerah. Karena tidak semua kelompok teater bisa mengulang kembali," kata Wawan.
Artis peran Marsha Timothy yang didapuk menggantikan Happy Salma memerankan karakter utama Nyai Ontosoroh dalam pementasan teater Bunga Penutup Abad ini mengaku butuh tiga hari untuk memikirkan apakah menerima atau tidak tawaran tersebut.
Tawaran memerankan Nyai Ontosoroh kepada Marsha datang dari produser Happy Salma dan sutradara Wawan Sofwan. Keterlibatan istri aktor Vino G Bastian ini diharapkan mampu memberi penyegaran setelah dua pementasan sebelumnya, Nyai Ontosoroh diperankan Happy.
"Aku sampai perlu waktu tiga hari untuk berpikir, bukan karena enggak mau, tapi mampu enggak perankan karakter ini. Setelah pikir dan diskusi sama teman-teman mereka bilang jangan tolak, karena kesempatan enggak datang dua kali," ungkap Marsha.
Lebih lanjut, aktris kelahiran Jakarta, 8 Januari 1979 ini mengaku mau menerima tawaran ini lantaran dia ingin belajar teater lagi. Marsha kali pertama bermain teater ketika mementaskan pertunjukan Perempuan-Perempuan Chairil.
"Waktu itu sebenarnya rasanya kapok, di depan panggung rasanya mau sakit jantung. Karena pengin belajar lagi, aku tanya dulu sama Happy 'Kok lu ajak gua? Lu yakin? Yang lain sudah pada tahu belum (pemain lain)'. Dia bilang permintaan sutradara dan Happy juga," kata Marsha.
Karena alasan itulah ibu kandung dari Jizzy Pearl Bastian ini mau menerima. Ia mengaku bangga bisa dipercaya oleh Happy untuk memerankan Nyai Ontosoroh. "Rasanya bangga dapat kepercayaan dari Wawan dan Happy. Saya baru sekali di teater, cuma satu segmen, dan enggak terlalu banyak. Di sini dikasih kesempatan Perankan Nyai Ontosoroh," kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, aktor Lukman Sardi mengaku adrenaline berbeda ketika bermain teater. "Kalau kita bicara basic akting munculnya di teater film awalnya dari teater penting untuk kita selalu balik ke rumah untuk melatih lagi sehingga eksplorasi dalam film akan lebih baik dan kaya lagi kayak memberikan energi baru lagi untuk berikutnya," paparnya.
"Saya kira aktor bermain film dan panggung teater ini sebuah pola yang bagus kalau bisa diterapkan terus bahwa industri film dan teater berjalan beriringan sehingga kesempatan aktor yang ada bisa masuk teater kalau di luar begitu enggak ada syuting film bisa tiga bulan ikut teater sebuah hal luar biasa sehingga dapat energi dan proses baru muncul di film dengan hal baru lagi makanya jadi penting," kata putra mendiang Idris Sardi, yang merupakan musisi senior.
Senada dengan Lukman, aktor Reza Rahadian menilai pentas teater lebih seksi dibandingkan film, karena di panggung teater adrenaline rush-nya beda banget, di mana ada sesuatu yang magical atau enggak bisa diungkapkan. "Rasanya bisa satu panggung dengan teman-teman lain kolaborasi bersama di waktu dan tempat yang sama susah diungkapkan," tegas Reza.
"Buat saya panggung teater itu enggak bisa dibilang enggak lebih seksi dari film, justru panggung teater memiliki keindahan magic sendiri dibandingkan film yang punya kekurangan dan kelebihan sendiri. Jadi teater dan film ini dua dunia yang enggak bisa dipisahkan, tidak ada film dalam dunia panggung dan banyak pemain panggung karena seni dasar hidup ada dalam panggung," ungkapnya.
Pementasan ini juga didukung oleh orang-orang yang berdedikasi di bidangnya yaitu Happy Salma sebagai produser, Wawan Sofwan sebagai sutradara, Iskandar Loedin (pimpinan artistik), Deden Jalaludin Bulqini (penata multimedia), Ricky Lionardi (penata musik) dan Deden Siswanto (penata kostum).
Bunga Penutup Abad mengisahkan tentang kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh khawatir dengan keberadaan Annelies dan mengutus seorang pegawainya yang bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman untuk mengikutinya. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi mereka.
Pementasan teater ini digelar untuk melanjutkan kesuksesan sebelumnya saat dihelat di Jakarta pada Agustus 2016, dan Maret 2017 di Bandung. Kala itu, jumlah penonton berhasil mencapai 2.653 penonton.
Melihat antusias penikmat teater yang tinggi terutama dari kalangan anak muda, Titimangsa Foundation selaku pihak yang menginisiasi pementasan teater ini pun kembali mementaskan ulang karya yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.
Kali ini, meski menghadirkan para pemain yang sama, pementasan yang dihadirkan dikemas lebih menarik dan berbeda. Reza Rahadian sebagai Minke, Chelsea Islan sebagai Annelies, Lukman Sardi sebagai Jean Marais, serta pemain cilik berbakat Sabia Arifin sebagai May Marais. Yang berbeda di pentas ini adalah Marsha Timothy yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh menggantikan Happy Salma yang menjadi produser dalam pentas teater ini.
Produser teater Bunga Penutup Abad, Happy Salma mengungkapkan bahwa antusiasme pemain dan masyarakat dengan 'Bunga Penutup Abad' adalah salah satu alasan dipentaskan ulang, ditambah banyak yang ingin mengenal lebih dekat karya Pramoedya Ananta Toer yang dialihbahasakan dalam 40 bahasa.
"Ketika dipentaskan di GKJ, antusiasnya luar biasa. Sold out. Ketika saya tanya tambah hari atau tidak, Reza paling keras bilang tidak. Bilangnya, teh tidak mungkin, saya belum saja pentas sudah tambah hari. Chelsea ragu-ragu. Sampai akhirnya premier film, saya datangi seperti groupies-nya. Reza bilang, saya enggak yakin tapi mau menceburkan diri ke panggung. Ternyata dia ketagihan dan antusiasme penonton tinggi menonton kembali," ujar Happy Salma kepada SINDOnews seusai jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, baru-baru ini.
Ketika pentas di Bandung pun, tiketnya ludes lagi. Happy kembali menjelaskan ketika Titimangsa Foundation menggelar pameran tribute pada sosok sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul 'Namaku Pram', akhirnya ide dipentaskan ulang tercetus lagi.
"Waktu itu Reza bilang kayaknya seru deh kalau dipentaskan lagi. Antusias pemain, dan masih menyambut yang luar biasa. Dengan kali ini perubahannya ada Nyai Ontosoroh diperankan oleh Marsha Timothy," sambung Happy.
Sutradara Wawan Sofwan pun menuturkan pentas yang kali ketiga ini adalah anugerah. "Ketika kami dapat kesempatan untuk mementaskan karya sastra dua tahun lalu, saya pikir ini adalah keberuntungan karena harus mengadaptasi sebuah novel. Diajak main lagi di Bandung adalah bonus. Tapi ketika datang tawaran ketiga buat kami adalah anugerah. Karena tidak semua kelompok teater bisa mengulang kembali," kata Wawan.
Artis peran Marsha Timothy yang didapuk menggantikan Happy Salma memerankan karakter utama Nyai Ontosoroh dalam pementasan teater Bunga Penutup Abad ini mengaku butuh tiga hari untuk memikirkan apakah menerima atau tidak tawaran tersebut.
Tawaran memerankan Nyai Ontosoroh kepada Marsha datang dari produser Happy Salma dan sutradara Wawan Sofwan. Keterlibatan istri aktor Vino G Bastian ini diharapkan mampu memberi penyegaran setelah dua pementasan sebelumnya, Nyai Ontosoroh diperankan Happy.
"Aku sampai perlu waktu tiga hari untuk berpikir, bukan karena enggak mau, tapi mampu enggak perankan karakter ini. Setelah pikir dan diskusi sama teman-teman mereka bilang jangan tolak, karena kesempatan enggak datang dua kali," ungkap Marsha.
Lebih lanjut, aktris kelahiran Jakarta, 8 Januari 1979 ini mengaku mau menerima tawaran ini lantaran dia ingin belajar teater lagi. Marsha kali pertama bermain teater ketika mementaskan pertunjukan Perempuan-Perempuan Chairil.
"Waktu itu sebenarnya rasanya kapok, di depan panggung rasanya mau sakit jantung. Karena pengin belajar lagi, aku tanya dulu sama Happy 'Kok lu ajak gua? Lu yakin? Yang lain sudah pada tahu belum (pemain lain)'. Dia bilang permintaan sutradara dan Happy juga," kata Marsha.
Karena alasan itulah ibu kandung dari Jizzy Pearl Bastian ini mau menerima. Ia mengaku bangga bisa dipercaya oleh Happy untuk memerankan Nyai Ontosoroh. "Rasanya bangga dapat kepercayaan dari Wawan dan Happy. Saya baru sekali di teater, cuma satu segmen, dan enggak terlalu banyak. Di sini dikasih kesempatan Perankan Nyai Ontosoroh," kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, aktor Lukman Sardi mengaku adrenaline berbeda ketika bermain teater. "Kalau kita bicara basic akting munculnya di teater film awalnya dari teater penting untuk kita selalu balik ke rumah untuk melatih lagi sehingga eksplorasi dalam film akan lebih baik dan kaya lagi kayak memberikan energi baru lagi untuk berikutnya," paparnya.
"Saya kira aktor bermain film dan panggung teater ini sebuah pola yang bagus kalau bisa diterapkan terus bahwa industri film dan teater berjalan beriringan sehingga kesempatan aktor yang ada bisa masuk teater kalau di luar begitu enggak ada syuting film bisa tiga bulan ikut teater sebuah hal luar biasa sehingga dapat energi dan proses baru muncul di film dengan hal baru lagi makanya jadi penting," kata putra mendiang Idris Sardi, yang merupakan musisi senior.
Senada dengan Lukman, aktor Reza Rahadian menilai pentas teater lebih seksi dibandingkan film, karena di panggung teater adrenaline rush-nya beda banget, di mana ada sesuatu yang magical atau enggak bisa diungkapkan. "Rasanya bisa satu panggung dengan teman-teman lain kolaborasi bersama di waktu dan tempat yang sama susah diungkapkan," tegas Reza.
"Buat saya panggung teater itu enggak bisa dibilang enggak lebih seksi dari film, justru panggung teater memiliki keindahan magic sendiri dibandingkan film yang punya kekurangan dan kelebihan sendiri. Jadi teater dan film ini dua dunia yang enggak bisa dipisahkan, tidak ada film dalam dunia panggung dan banyak pemain panggung karena seni dasar hidup ada dalam panggung," ungkapnya.
Pementasan ini juga didukung oleh orang-orang yang berdedikasi di bidangnya yaitu Happy Salma sebagai produser, Wawan Sofwan sebagai sutradara, Iskandar Loedin (pimpinan artistik), Deden Jalaludin Bulqini (penata multimedia), Ricky Lionardi (penata musik) dan Deden Siswanto (penata kostum).
Bunga Penutup Abad mengisahkan tentang kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh khawatir dengan keberadaan Annelies dan mengutus seorang pegawainya yang bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman untuk mengikutinya. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi mereka.
(nug)