Mengangkat Fashion Lokal

Senin, 02 Februari 2015 - 09:57 WIB
Mengangkat Fashion Lokal
Mengangkat Fashion Lokal
A A A
BERTAJUK “Sunday Dress Up 2015”, fashion Indonesia ingin berbicara lebih luas dengan mengangkat kekuatan lokal. Dihelat pada Minggu (1/2), ajang ini juga mengajak masyarakat mencintai produk fashion lokal.

Meski Jakarta pagi itu diguyur hujan deras, antusiasme terhadap gerakan mencintai fashion lokal tetap berlangsung. Sekitar 1.000 pencinta dan penggiat fashion dari berbagai komunitas, sekolah mode, para stakeholder, termasuk desainer serta jajaran pemerintah ikut menyuarakan gerakan fashion lokal yang dimulai dari depan patung kuda di Jalan Merdeka Barat menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Sekitar 10 komunitas dan lembaga ikut bergabung di ajang ini. Beberapa misalnya dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (Formi), dan Sekolah Mode Bunka, termasuk desainer yang tergabung dalam Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).

Ivan Gunawan dan Lenny Agustin, Deden Siswanto, Ali Charisma, Sony Muchlison, dan Sofie, merupakan beberapa desainer yang terlihat ambil andil menyuarakan fashion lokal di ajang ini. Tak hanya lewat suara, fashionista dari berbagai elemen ini ikut menampilkan busana terbaiknya yang berunsur lokal lewat batik maupun tenun, dengan tema tahun ini “Urban Style”.

“Tahun ini penyelenggara IFW kembali mengajak masyarakat lebih luas, khususnya para pelaku dan penikmat mode untuk ramai-ramai menyuarakan rasa cinta, bangga, dan dukungan terhadap produk fashion lokal dalam “Sunday Dress Up 2015” yang sudah dua kali kami adakan,” sebut Dina Midiani, Direktur Indonesia Fashion Week saat acara. Menurut Dina, ajang “Sunday Dress Up 2015” ditujukan agar masyarakat makin sadar fashion lokal.

“Kita akan menjadikan IFW sebagai etalasenya kecintaan terhadap fashion lokal. Sementara “Sunday Dress Up 2015” ini untuk meningkatkan kepekaan pada fashion lokal dan kita berharap acara ini juga diduplikasi menularkan kecintaan lokal di daerah-daerah selain Jakarta,” pungkas Dina. Menteri Pariwisata Arif Yahya yang membuka acara tersebut mengemukakan, fashion masuk dalam sektor bisnis yang besar dan jika dibulatkan, bisa menyokong pendapatan hingga Rp200 triliun atau sebanyak 30% dari bidang ekonomi kreatif.

Tak hanya itu, fashion juga menyerap banyak tenaga kerja sekitar 4 juta di industri ini. “Fashion kita bisa unggul di seluruh dunia, terutama karena proposisi pakaian muslim untuk pasar domestik dan internasional begitu berpotensi. Yang kemudian fashion muslim akan kita buat dengan istilah modes fashion agar inklusif dan nonmuslim bisa memakainya,” kata Arief. Pada ajang IFW yang keempat ini fokus mengangkat ragam kreativitas fashion lokal Indonesia.

Ke depan kata Arief, “Sunday Dress Up pun 2015” dapat digabungkan dengan acara seperti Jakarta Great Sale pada pertengahan tahun agar semakin meningkatkan antusiasme masyarakat terhadap kekuatan fashion lokal. IFW 2015 ini juga sudah mulai melangkah ke arah B2B atau business to business dengan keikutsertaan sekitar 665 label di dalamnya. Minat berbagai label dan desainer meningkat hingga 1.200 peserta.

Namun, IFW hanya bisa menampung 700 fashion desaigner yang telah melewati masa kurasi untuk menampilkan produk berbeda. Kegiatan IFW untuk memajukan fashion lokal pun tak hanya sampai di situ. Salah satu desainer anggota APPMI Lenny Agustin mengungkapkan, ada berbagai kegiatan lain seperti pelatihan dan pengenalan batik di sekolah-sekolah di Jakarta.

“Saya kebetulan pegang tiga sekolah dan mereka sangat tertarik untuk tahu itu batik dan unsur lokal lain. Bagi saya, mengajak generasi muda sebagai pengenalan ideologi fashion lokal akan lebih melekat nantinya,” tambah Lenny. Sementara itu, Ivan Gunawan yang ikut serta dalam acara itu, mengungkapkan memberi dukungan yang kuat untuk gerakan fashion lokal.

Keterlibatan generasi muda untuk fashion lokal amat penting, termasuk dirinya sebagai desainer untuk menyuarakan lebih mencintai produk dalam negeri. “Jangan pernah takut pakai fashion lokal dan pakai produk dari desainer lokal,” pesannya.

Dyah ayu pamela
(ars)
Berita Terkait
Bikin Sulit Bernapas,...
Bikin Sulit Bernapas, Hindari Pemicu Asma dengan Mosehat
Kejutkan Pelanggan,...
Kejutkan Pelanggan, Brand Fashion Lokal Ini Bagikan Pandora Box
Mengandung Ekstrak Daun...
Mengandung Ekstrak Daun Kelor, Mosehat Diyakini Mampu Luruhkan Batu Ginjal
Jaga Kebersihan Lantai...
Jaga Kebersihan Lantai agar Selalu Nyaman Berada di Rumah
Dukung Pemulihan Pariwisata,...
Dukung Pemulihan Pariwisata, Eazy Property Lavaya Bali Gelar Soft Launching
Penunjang Kinerja Profesional...
Penunjang Kinerja Profesional dengan Mobilitas Tinggi
Berita Terkini
Nyaris Kaya Mendadak,...
Nyaris Kaya Mendadak, Driver Ojol Tak Menyangka Temuan Ini Disebut Jeratan Gaib
3 jam yang lalu
Miyako Gelar Lomba Desain,...
Miyako Gelar Lomba Desain, Ajak Mahasiswa Berkreasi dan Dukung Pendidikan di NTT
4 jam yang lalu
Tantri Kotak Beberkan...
Tantri Kotak Beberkan Awal Mula Jadi Korban Penipuan, Bermula dari Teman Sekolah Anak
4 jam yang lalu
Insting Buruknya Jadi...
Insting Buruknya Jadi Nyata! Pengemudi Ojol Ngaku Jadi Target Ilmu Hitam hingga Alami Kecelakaan
4 jam yang lalu
Sinopsis Sinetron Tobat...
Sinopsis Sinetron 'Tobat Jatuh Cinta' Eps 4: Tingkah Lucu Warga Kampung Sindang Barang Tetap Mewarnai Suasana
5 jam yang lalu
Industri Perfilman Indonesia...
Industri Perfilman Indonesia Masuki Era Baru Pendanaan Digital, Puluhan Proyek Film Siap Dikembangkan
5 jam yang lalu
Infografis
Temulawak, Tanaman Obat...
Temulawak, Tanaman Obat Lokal yang Memiliki Banyak Khasiat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved