PLBN Badau, Wajah Keren Indonesia di Perbatasan

Kamis, 23 Juli 2020 - 14:03 WIB
"Sesuai aturan keimigrasian, kita tidak bisa menolak pemulangan WNI dari Malaysia, begitu juga sebaliknya. Namun untuk aktivitas perlintasan yang lainnya, itu bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Apalagi aktivitas angkutan barang itu distop total," kata Agato.

Menurut Agato, masih ditutupnya gerbang PLBN Badau sesuai instruksi dari pihak pusat dalam hal ini Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) selaku otoritas PLBN. Penutupan juga disebabkan gerbang perlintasan di Lubok Antu Malaysia masih ditutup rapat. (Baca juga: Kemenparekraf Gulirkan Gerakan BISA di Kabupaten Karimun ).

Tak hanya aktivitas orang yang melintas, aktivitas angkutan operasional Bus Angkutan Antar Lintas Batas Negara (ALBN) hingga truk-truk pengangkut CPO (crude plam oil) yang biasanya ramai dari Indonesia ke Malaysia juga distop.

"Sejauh ini (sebelum ada korona) ekspor CPO menghasilkan pemasukan terbesar di PLBN Badau. Bahkan, pemasukan dari aktivitas pengangkutan CPO yang melintas di PLBN Badau sudah mampu menutupi biaya pembangunan PLBN Badau," ungkap Agato.

Patut diakui, keberadaan PLBN Badau makin meningkatkan kualitas pelayanan lintas batas negara, keamanan dan kesejahteraan masyarakat, serta menumbuhkan pusat perekonomian baru di wilayah perbatasan khususnya Kecamatan Nanga Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!