Review Film Marry Me: Sejujurnya, Menikah Butuh Uang!
Rabu, 07 Februari 2024 - 13:11 WIB
Sang kekasih mau menikahinya asalkan si perempuan bisa memberikan uang sebesar Rs1,8 laks, atau sekitar Rp35 juta dengan kurs rupiah saat ini. Tentunya niatan ini ditolak oleh pihak rumah sakit tempat dia meminta perawatan tersebut.
Sang perempuan India dan a Man dalam film Marry Me punya kesamaan, yaitu sama-sama mau berkorban apa pun tanpa pikir panjang akibat pengorbanannya bisa menghilangkan nyawa sendiri. Kalau dipikir dengan akal sehat, akibat perbuatannya justru akan membuat semua rencananya menikah gagal total dan berakhir di pemakaman. Rasanya itu langkah yang kontroversial.
Terlepas dari kontroversinya dalam dunia nyata, tema-tema cinta yang penuh ujian yang diangkat menjadi film seakan tidak pernah ada habisnya. Semakin kuat sang tokoh diuji, semakin penonton akan suka dan merasa hanyut dalam cerita. Meskipun tidak berharap hal itu hadir di dunia nyata, menitik air mata haru selepas menonton film akan memberikan pengalaman yang cukup menghibur juga.
Masih teringat kisah Titanic (1997)? Kisah cinta Rose dan Jack meski sesaat ternyata masih diingat selamanya. Bagaimana tragisnya Jack yang memberi sebuah kayu untuk Rose terapung dan membiarkan dirinya tenggelam menjadi contoh sebuah pengorbanan yang tanpa batas.
Foto:Joni Astin Film
Ada lagi The Fault in Our Stars (2014). Bercerita tentang kisah cinta dua penderita kanker yang masih remaja, mereka berhak bahagia dalam keterbatasan. Hazel Grace Lancester dan Augustus Walter bertemu di sebuah support group penderita kanker. Mereka punya hobi yang sama dan saling bertukar buku. Kesamaan pemikiran dan penderitaan menyatukan keduanya meskipun tidak berlangsung lama.
The Fault in Our Stars mendapatkan sambutan dan kritikan yang bagus saat penayangan perdananya. Banyak yang mengatakan bahwa tokoh Hazel dan Augustus punya kemesraan yang natural. Film ini pun sempat menduduki box office pada minggu pertama penayangannya dan meraih keuntungan kotor lebih dari USD307 juta di dunia dari biaya produksi yang hanya berkisar USD12 juta saja.
Dalam dunia perfilman Indonesia pun sama. Kisah-kisah percintaan sudah diolah sedemikian rupa dan tetap menarik perhatian penonton. Ada pula film remake dibuat lebihsegar terinspirasi dari kesuksesan film yang sama pada tahun 1970-an, yaitu Gita Cinta dari SMA.
Versi terbaru yang rilis pada 2017 diberi judul baru Galih dan Ratna. Dibintangi oleh Refal Hady dan Sheryl Sheinafia, film ini dibuat dengan latar situasi yang lebih kekinian tetapi dengan konflik yang sama. Sayangnya, beberapaulasan tidak memberikan apresiasi yang terlalu tinggi pada film ini karena dirasa kurang greget dalam alur ceritanya.
Sebuah tantangan sebenarnya bagi para penulis film Indonesia untuk bisa menyajikan sebuah alur cerita film romansa penuh ujian lain dan segar bagi para penonton. Film pendek Marry Me bisa menjadi awal pemberi harapan itu.
Biaya KUA seyogyanya tidak memberatkan. Dilansir dari situs Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, bahwa biaya nikah di KUA pada jam dan hari kerja adalah nol rupiah, alias gratis. Namun, apabila di luar ketentuan di atas berharga Rp600 ribu.
Di luar biaya nikah negara ini, mempelai dan keluarga umumnya melaksanakan resepsi pernikahan. Resepsi semacam ini bisa disesuaikan dengan aturan adat atau kebiasaan setempat.
Bicara soal adat, Indonesia kaya akan suku dengan beragam pula pelaksanaan upacara pernikahan. Salah satu yang menarik perhatian terkait adat dalam pernikahan biasanya berupa pemberian sejumlah uang atau emas untuk salah satu mempelai dari pasangannya. Pemberian ini sifatnya wajib dengan jumlah besaran yang disepakati kedua belah keluarga.
Sang perempuan India dan a Man dalam film Marry Me punya kesamaan, yaitu sama-sama mau berkorban apa pun tanpa pikir panjang akibat pengorbanannya bisa menghilangkan nyawa sendiri. Kalau dipikir dengan akal sehat, akibat perbuatannya justru akan membuat semua rencananya menikah gagal total dan berakhir di pemakaman. Rasanya itu langkah yang kontroversial.
Terlepas dari kontroversinya dalam dunia nyata, tema-tema cinta yang penuh ujian yang diangkat menjadi film seakan tidak pernah ada habisnya. Semakin kuat sang tokoh diuji, semakin penonton akan suka dan merasa hanyut dalam cerita. Meskipun tidak berharap hal itu hadir di dunia nyata, menitik air mata haru selepas menonton film akan memberikan pengalaman yang cukup menghibur juga.
Masih teringat kisah Titanic (1997)? Kisah cinta Rose dan Jack meski sesaat ternyata masih diingat selamanya. Bagaimana tragisnya Jack yang memberi sebuah kayu untuk Rose terapung dan membiarkan dirinya tenggelam menjadi contoh sebuah pengorbanan yang tanpa batas.
Foto:Joni Astin Film
Ada lagi The Fault in Our Stars (2014). Bercerita tentang kisah cinta dua penderita kanker yang masih remaja, mereka berhak bahagia dalam keterbatasan. Hazel Grace Lancester dan Augustus Walter bertemu di sebuah support group penderita kanker. Mereka punya hobi yang sama dan saling bertukar buku. Kesamaan pemikiran dan penderitaan menyatukan keduanya meskipun tidak berlangsung lama.
The Fault in Our Stars mendapatkan sambutan dan kritikan yang bagus saat penayangan perdananya. Banyak yang mengatakan bahwa tokoh Hazel dan Augustus punya kemesraan yang natural. Film ini pun sempat menduduki box office pada minggu pertama penayangannya dan meraih keuntungan kotor lebih dari USD307 juta di dunia dari biaya produksi yang hanya berkisar USD12 juta saja.
Dalam dunia perfilman Indonesia pun sama. Kisah-kisah percintaan sudah diolah sedemikian rupa dan tetap menarik perhatian penonton. Ada pula film remake dibuat lebihsegar terinspirasi dari kesuksesan film yang sama pada tahun 1970-an, yaitu Gita Cinta dari SMA.
Versi terbaru yang rilis pada 2017 diberi judul baru Galih dan Ratna. Dibintangi oleh Refal Hady dan Sheryl Sheinafia, film ini dibuat dengan latar situasi yang lebih kekinian tetapi dengan konflik yang sama. Sayangnya, beberapaulasan tidak memberikan apresiasi yang terlalu tinggi pada film ini karena dirasa kurang greget dalam alur ceritanya.
Sebuah tantangan sebenarnya bagi para penulis film Indonesia untuk bisa menyajikan sebuah alur cerita film romansa penuh ujian lain dan segar bagi para penonton. Film pendek Marry Me bisa menjadi awal pemberi harapan itu.
Nikah Itu Mahal!
Mengapa bisa ada pengorbanan yang di luar akal sehat? Salah satunya karena tuntutan berat pelaksanaan prosesi pernikahan .Biaya KUA seyogyanya tidak memberatkan. Dilansir dari situs Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, bahwa biaya nikah di KUA pada jam dan hari kerja adalah nol rupiah, alias gratis. Namun, apabila di luar ketentuan di atas berharga Rp600 ribu.
Di luar biaya nikah negara ini, mempelai dan keluarga umumnya melaksanakan resepsi pernikahan. Resepsi semacam ini bisa disesuaikan dengan aturan adat atau kebiasaan setempat.
Bicara soal adat, Indonesia kaya akan suku dengan beragam pula pelaksanaan upacara pernikahan. Salah satu yang menarik perhatian terkait adat dalam pernikahan biasanya berupa pemberian sejumlah uang atau emas untuk salah satu mempelai dari pasangannya. Pemberian ini sifatnya wajib dengan jumlah besaran yang disepakati kedua belah keluarga.
Lihat Juga :