Taiwan Temukan Pestisida di Indomie Soto Banjar Limau Kuit

Jum'at, 12 September 2025 - 13:00 WIB
Meski bermanfaat, senyawa ini telah lama dikategorikan sebagai karsinogen kelas 1 oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) sejak 1994. Paparan EtO dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan.

Dalam jangka pendek, efek yang ditimbulkan bisa berupa iritasi mata, kulit, gangguan pernapasan, mual, muntah, hingga kerusakan sistem saraf pusat. Sedangkan untuk paparan jangka panjang, risiko kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih serius, termasuk kemungkinan kanker payudara, leukemia, hingga gangguan reproduksi.

Perbedaan Standar Internasional



Kasus ini juga menyoroti adanya perbedaan standar regulasi antarnegara. Taiwan menerapkan sistem “nol toleransi” untuk residu EtO pada makanan, artinya kadar sekecil apa pun dianggap melanggar aturan.

Uni Eropa sejak 1991 bahkan sudah melarang penggunaan EtO dalam sterilisasi pangan. Sementara itu, Amerika Serikat masih mengizinkan penggunaannya untuk sterilisasi rempah dengan batas hingga 50 ppm, meskipun diawasi sangat ketat.

Di Indonesia, BPOM menetapkan ambang batas EtO jauh lebih tinggi, yaitu 85 ppm sesuai Peraturan BPOM No. 229 Tahun 2022 tentang Pedoman Mitigasi Risiko Senyawa EtO. Berdasarkan standar nasional tersebut, temuan 0,1 mg/kg atau setara 0,1 ppm yang dilaporkan Taiwan masih tergolong aman untuk konsumen lokal.

Baca Juga: Penggemar Mie Instan Ngakak, Mangkuk di Kemasan Indomie Kosong Jelang Puasa
(dra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!