Meja Keabadian, Potret Indonesia dalam Kacamata Penyair Perempuan Korea

Rabu, 08 April 2026 - 16:40 WIB
Sagong Kyung sendiri bukan hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga figur aktif dalam ranah budaya. Ia merupakan direktur Lembaga Studi Budaya Korea-Indonesia sekaligus kurator seni budaya, serta peneliti batik yang memiliki perhatian besar terhadap warisan Nusantara. Selain Meja Keabadian, ia juga menulis sejumlah karya lain seperti Catatan Museum Jakarta dan Taman Tua di Jawa Barat. Pengalamannya semakin lengkap dengan kiprah sebagai pengajar di sekolah internasional Korea di Jakarta.

Peluncuran buku Meja Keabadian digelar pada Senin (6/4/2026) di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta, menghadirkan tokoh-tokoh penting, pejabat pemerintah, serta perwakilan dari sektor budaya, seni, dan akademik dari kedua negara. Rangkaian acara dikemas sebagai perjalanan budaya yang mengalir. Dimulai dari eksplorasi budaya Indonesia, dilanjutkan dengan seremoni peluncuran buku, diskusi bersama penulis, pertunjukan seni, hingga jamuan makan malam.

“Saya berharap pertemuan kita menjadi satu lagi ‘meja keabadian’, tempat sastra, seni, dan kenangan saling bertemu,” ujar Sagong Kyung. Pernyataan itu menegaskan bahwa “meja” dalam karyanya bukan sekadar objek, melainkan metafora ruang dialog yang terus hidup dan berkembang.

Peluncuran ini sekaligus menunjukkan bahwa Meja Keabadian tidak hanya hadir sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Melalui pendekatan yang puitis dan reflektif, Sagong Kyung berhasil menghadirkan Indonesia—terutama Jakarta—dalam sudut pandang yang segar, personal, dan lintas batas budaya, menjadikannya arsip emosional yang abadi dalam bentuk puisi.
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!