Waspada! Konsumsi Gula Berlebih Selama Liburan Dapat Memicu Depresi

Kamis, 29 Oktober 2020 - 15:07 WIB
"Salah satu karakteristik umum dari depresi yang timbul di musim dingin adalah ketagihan gula. Jadi, kita memiliki hingga 30% populasi yang menderita setidaknya beberapa gejala depresi akibat musim dingin, menyebabkan mereka menginginkan karbohidrat dan sekarang mereka terus-menerus dihadapkan dengan permen saat liburan," papar Ilardi.

Menurut para peneliti, menghindari tambahan gula makanan mungkin sangat menantang. Pasalnya di sisi lain, gula memberikan dorongan suasana hati dan membuat beberapa orang dengan penyakit depresi meningkatkan emosional sementara.

"Gula memiliki efek peningkatan suasana hati segera, tetapi dalam dosis tinggi gula juga dapat meningkatkan konsekuensi jangka panjang yang paradoks dan membuat suasana hati menjadi lebih buruk, mengurangi kesejahteraan, meningkatkan peradangan dan menyebabkan penambahan berat badan," kata peneliti KU.

Dia menambahkan bahwa ketika depresi, diet harus dioptimalkan dengan menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan otak, dan kebanyakan menghindari racun potensial ini. Studi ini juga mengungkapkan bahwa peradangan adalah efek fisiologis paling penting dari gula makanan yang berkaitan dengan kesehatan mental dan gangguan depresi. (Baca juga: BTS Tulis Kartu Pos kepada ARMY Isyaratkan Kemungkinan Subunit )

"Sejumlah besar orang dengan depresi memiliki tingkat peradangan sistemik yang tinggi. Kita juga tahu bahwa hormon peradangan dapat langsung mendorong otak ke keadaan depresi berat. Jadi, otak yang meradang biasanya adalah otak yang tertekan. Dan tambahan gula memiliki efek proinflamasi pada tubuh dan otak," tambahnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!