Nyeri Pinggang Jangan Dibiarkan, Bisa Jadi Ini Gejala Penyakit Serius!
Senin, 01 Februari 2021 - 14:30 WIB
Namun perbedaannya, pada nr-AxSpA, inflamasi tidak terlihat pada hasil foto rontgen melainkan dengan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI), walaupun orang tersebut merasakan gejala. “Sedangkan pada AS, inflamasi sudah terdeteksi saat pemeriksaan radiografi,” bebernya.
Guna melihat adanya nr-AxSpA atau tidak, biasanya dokter akan merekomendasikan pasien untuk melakukan MRI. Pada umumnya, nr-AxSpA dianggap sebagai tahap pertama sebelum penyakit memburuk menjadi AS. Dalam kurung waktu 2 sampai 10 tahun, sekitar 10 - 40% pasien dengan nr- AxSpA akan berkembang menjadi AS. Untuk itu, tatalaksana yang cepat dan tepat memegang kontribusi yang sangat besar dalam mempertahankan kualitas hidup yang baik bagi pasien.
Baca Juga : Waspada Covid Tongue, Gejala Covid-19 yang Menyerupai Sariawan
Pasien dengan AS biasanya akan mengalami gejala seperti peradangan (rasa sakit, dan kekakuan) di bagian bahu, pinggul, atau tumit dan kadang disertai pula dengan kondisi mudah lelah dan kehilangan energi untuk beraktivitas. Karena sifatnya yang progresif, pada pasien dengan AS berat dapat terjadi penyatuan ruas-ruas tulang belakang menyerupai batang bambu, sehingga penderita sulit bergerak, menjadi bungkuk. Penyakit ini dikenal dengan nama “Bamboo Spine”.
Dikatakan Hanum Yahya, Country Head of Public Affairs, Communications & Patient Engagement - Novartis Indonesia, beban yang ditimbulkan oleh penyakit kronis sangatlah besar bagi kualitas hidup pasien dan caregivers. “Novartis Indonesia berkomitmen untuk secara berkelanjutan turut serta dalam upaya meningkatkan sistem kesehatan di Indonesia, selain melalui dialog yang dengan para pembuat kebijakan, juga dengan bekerjasama dengan para ahli turut mengedukasi masyarakat luas tentang penyakit Autoimun Axial Spondyloarthritis agar mendapatkan diagnosa serta tata laksana yang tepat,” kata Hanum.
Guna mendapat diagnosis axSpA dan memastikan perawatan yang tepat, segera kunjungi rheumatologist atau ahli reumatologi. Nantinya, rheumatologist akan menyesuaikan perawatan dengan gejala dan tingkat keparahan kondisi setiap individu. Perlu diketahui, tidak ada cara untuk memprediksi dengan tepat perawatan mana yang paling cocok karena setiap perawatan memiliki manfaat dan risikonya masing-masing.
Guna melihat adanya nr-AxSpA atau tidak, biasanya dokter akan merekomendasikan pasien untuk melakukan MRI. Pada umumnya, nr-AxSpA dianggap sebagai tahap pertama sebelum penyakit memburuk menjadi AS. Dalam kurung waktu 2 sampai 10 tahun, sekitar 10 - 40% pasien dengan nr- AxSpA akan berkembang menjadi AS. Untuk itu, tatalaksana yang cepat dan tepat memegang kontribusi yang sangat besar dalam mempertahankan kualitas hidup yang baik bagi pasien.
Baca Juga : Waspada Covid Tongue, Gejala Covid-19 yang Menyerupai Sariawan
Pasien dengan AS biasanya akan mengalami gejala seperti peradangan (rasa sakit, dan kekakuan) di bagian bahu, pinggul, atau tumit dan kadang disertai pula dengan kondisi mudah lelah dan kehilangan energi untuk beraktivitas. Karena sifatnya yang progresif, pada pasien dengan AS berat dapat terjadi penyatuan ruas-ruas tulang belakang menyerupai batang bambu, sehingga penderita sulit bergerak, menjadi bungkuk. Penyakit ini dikenal dengan nama “Bamboo Spine”.
Dikatakan Hanum Yahya, Country Head of Public Affairs, Communications & Patient Engagement - Novartis Indonesia, beban yang ditimbulkan oleh penyakit kronis sangatlah besar bagi kualitas hidup pasien dan caregivers. “Novartis Indonesia berkomitmen untuk secara berkelanjutan turut serta dalam upaya meningkatkan sistem kesehatan di Indonesia, selain melalui dialog yang dengan para pembuat kebijakan, juga dengan bekerjasama dengan para ahli turut mengedukasi masyarakat luas tentang penyakit Autoimun Axial Spondyloarthritis agar mendapatkan diagnosa serta tata laksana yang tepat,” kata Hanum.
Guna mendapat diagnosis axSpA dan memastikan perawatan yang tepat, segera kunjungi rheumatologist atau ahli reumatologi. Nantinya, rheumatologist akan menyesuaikan perawatan dengan gejala dan tingkat keparahan kondisi setiap individu. Perlu diketahui, tidak ada cara untuk memprediksi dengan tepat perawatan mana yang paling cocok karena setiap perawatan memiliki manfaat dan risikonya masing-masing.
Lihat Juga :