Studi: Pajak Karbon dan Kesehatan Bisa Pengaruhi Iklim hingga Tingkatkan Kualitas Pola Makan
Jum'at, 01 Juli 2022 - 22:07 WIB
Baca Juga: Pajak Karbon 2 Kali Gagal Eksekusi, Ini Alasan Sri Mulyani
“Tentu saja kita tidak bisa hanya menerapkan pajak dan menaikkan harga pangan lebih tinggi lagi di negara yang sudah bergelut dengan kelaparan, karena krisis ekonomi saat ini, tanpa terlebih dahulu medorong akses lebih luas terhadap produk makanan sehat lainnya. Itulah sebabnya kebijakan yang mensubsidi produksi dan distribusi sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan biji-bijian organik skala kecil yang diproduksi merupakan hal yang juga mendesak," jelas Among.
Produksi makanan saja dapat menyumbang lebih dari 30 persen dari semua emisi GRK secara global, dan makanan berbasis hewani bertanggung jawab atas 57 persen dari semua totalnya. "Untuk mengurangi permintaan produk pangan dari sistem yang tidak berkelanjutan dan juga mencapai tujuan iklim di tahun 2050, kita perlu berinvestasi dalam melakukan transisi ke sistem pangan yang lebih berkelanjutan yang menggunakan lebih sedikit hewan," jelas Among.
Berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan oleh University of Bonn, di Jerman, bahwa untuk mencapai tujuan iklim dan mencapai ketahanan pangan global, konsumsi daging harus dikurangi setidaknya 75 persen di banyak negara.
Sementara laporan yang diterbitkan oleh EAT-Lancet Commission, bahwa pola makan yang konsisten dengan tujuan iklim dan nutrisi sebagian besar dihasilkan dari makanan yang berbasis nabati. Institusi tersebut menekankan bahwa walaupun konsumsi makanan global seperti daging merah dan gula harus dikurangi lebih dari 50 persen, konsumsi buah-buahan, kacang-kacangan, sayuran, dan kacang-kacangan harus dilipat gandakan.
“Tentu saja kita tidak bisa hanya menerapkan pajak dan menaikkan harga pangan lebih tinggi lagi di negara yang sudah bergelut dengan kelaparan, karena krisis ekonomi saat ini, tanpa terlebih dahulu medorong akses lebih luas terhadap produk makanan sehat lainnya. Itulah sebabnya kebijakan yang mensubsidi produksi dan distribusi sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan biji-bijian organik skala kecil yang diproduksi merupakan hal yang juga mendesak," jelas Among.
Produksi makanan saja dapat menyumbang lebih dari 30 persen dari semua emisi GRK secara global, dan makanan berbasis hewani bertanggung jawab atas 57 persen dari semua totalnya. "Untuk mengurangi permintaan produk pangan dari sistem yang tidak berkelanjutan dan juga mencapai tujuan iklim di tahun 2050, kita perlu berinvestasi dalam melakukan transisi ke sistem pangan yang lebih berkelanjutan yang menggunakan lebih sedikit hewan," jelas Among.
Berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan oleh University of Bonn, di Jerman, bahwa untuk mencapai tujuan iklim dan mencapai ketahanan pangan global, konsumsi daging harus dikurangi setidaknya 75 persen di banyak negara.
Sementara laporan yang diterbitkan oleh EAT-Lancet Commission, bahwa pola makan yang konsisten dengan tujuan iklim dan nutrisi sebagian besar dihasilkan dari makanan yang berbasis nabati. Institusi tersebut menekankan bahwa walaupun konsumsi makanan global seperti daging merah dan gula harus dikurangi lebih dari 50 persen, konsumsi buah-buahan, kacang-kacangan, sayuran, dan kacang-kacangan harus dilipat gandakan.
Lihat Juga :