Hadapi Covid-19, Produk Jamu dan OHT Didukung Jadi Fitofarmaka

Jum'at, 10 Juli 2020 - 23:03 WIB
"Fitofarmaka memang harus uji klinis berdasarkan standar WHO . Biayanya memang mahal, bisa mencapai Rp6 miliar, kita mau jual produk seharga berapa kalau uji klinisnya saja mencapai Rp6 miliar dan butuh waktu yang lama," ungkap Setya melalui pernyataan tertulisnya, Jumat (10/7).

(Baca juga: 6 Manfaat Beras Merah, Jaga Kekebalan Tubuh hingga Kesehatan Jantung )

Setya memaparkan bahwa banyak pelaku industri jamu dan obat herbal yang mengeluarkan produk yang memiliki potensi antivirus, salah satunya adalah produk yang dirilis pihaknya, yakni Fit-O. Suplemen kesehatan untuk memperkuat imunitas tubuh ini memang telah mengantongi izin edar dari BPOM, namun mereka masih tetap kesulitan untuk mendapatkan kategori Fitofarmaka.

"Selain biayanya yang tinggi, perlu waktu yang lama untuk memperoleh kategori Fitofarmaka agar bisa diresepkan oleh dokter, padahal dalam sebulan terakhir ini Fit-O sudah banyak digunakan di Kota Malang dan terbukti membantu puluhan pasien positif Covid-19," terang Setya.

Wali Kota Malang, Sutiaji juga mengatakan jika Fit-O telah digunakan di Kota Malang dalam 3 minggu terakhir ini, dan puluhan pasien positif dinyatakan telah sembuh. Meski demikian, pihaknya mengakui tidak mudah memberikan Fit-O ke rumah sakit di Malang lantaran belum termasuk fitofarmaka. Hal itu pun disampaikannya dalam rapat terbatas dengan Dewan Ketahanan Nasional, Selasa (7/7) lalu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!