Mengenal Ajian Jaran Goyang, Ilmu Pengasihan yang Populer di Suku Osing, Banyuwangi
Kamis, 17 Agustus 2023 - 19:39 WIB
loading...
Foto/MNC Media
A
A
A
JAKARTA - Bagi sebagian orang lagu dangdut dengan tajuk Jaran Goyang menjadi satu lagu tentang asmara yang dibawakan dengan ceria. Namun, siapa sangka di balik lagu tersebut terdapat hal-hal yang berbau mistis. Ya, jaran goyang rupanya salah satu bagian dari sastra lisan yang berupa mantra. Ajian yang berjenis pengasihan ini pertama kali berkembang di masyarakat Suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur.
Suku Osing sendiri mempercayai adanya empat ilmu yang terdiri dari ilmu merah, ilmu kuning, ilmu hitam, dan ilmu putih. Ilmu merah berkaitan dengan perasaan cinta, ilmu kuning mengenai jabaran, ilmu hitam untuk menyakiti, dan ilmu putih untuk menyembuhkan.
Ajian jaran goyang termasuk kategori ilmu merah atau dikenal dengan nama pelet. Meski demikian, mantra ini tidak digunakan untuk menyakiti atau membunuh seseorang, melainkan menyatukan dua orang agar bisa menikah atau memisahkannya dengan orang tercinta.
Menurut mitos yang berkembang, ajian ini pertama kali ditemukan pada masa Kerajaan Blambangan. Kala itu, kerajaan tersebut tengah diambang kehancuran, di mana rakyatnya mulai terpisah-pisah. Agar keturunan tak tercampur, mereka menikah dengan dasar kekerabatan. Akan tetapi sejumlah masyarakat menolak dijodohkan atau tidak direstui oleh keluarga mereka.
Dari sinilah penggunaan mantra Jaran Goyang yang berfungsi untuk menyatukan mereka. Sebelum menguasai ajian ini, seseorang harus melakukan persyaratan antara lain puasa selama tujuh hari, dan hanya diperbolehkan menyantap tiga kepal nasi setiap sahur maupun saat berbuka.
Suku Osing sendiri mempercayai adanya empat ilmu yang terdiri dari ilmu merah, ilmu kuning, ilmu hitam, dan ilmu putih. Ilmu merah berkaitan dengan perasaan cinta, ilmu kuning mengenai jabaran, ilmu hitam untuk menyakiti, dan ilmu putih untuk menyembuhkan.
Ajian jaran goyang termasuk kategori ilmu merah atau dikenal dengan nama pelet. Meski demikian, mantra ini tidak digunakan untuk menyakiti atau membunuh seseorang, melainkan menyatukan dua orang agar bisa menikah atau memisahkannya dengan orang tercinta.
Menurut mitos yang berkembang, ajian ini pertama kali ditemukan pada masa Kerajaan Blambangan. Kala itu, kerajaan tersebut tengah diambang kehancuran, di mana rakyatnya mulai terpisah-pisah. Agar keturunan tak tercampur, mereka menikah dengan dasar kekerabatan. Akan tetapi sejumlah masyarakat menolak dijodohkan atau tidak direstui oleh keluarga mereka.
Dari sinilah penggunaan mantra Jaran Goyang yang berfungsi untuk menyatukan mereka. Sebelum menguasai ajian ini, seseorang harus melakukan persyaratan antara lain puasa selama tujuh hari, dan hanya diperbolehkan menyantap tiga kepal nasi setiap sahur maupun saat berbuka.
Lihat Juga :