Mengapa Kacang Mete Dapat Menurunkan Kolesterol Jahat? Cek Faktanya
Rabu, 06 September 2023 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
Obat-obatan tertentu seperti pil KB, retinoid, kortikosteroid, antivirus, antikonvulsan juga dapat meningkatkan kolesterol dan mungkin memerlukan beberapa penyesuaian.
Hormon yang diproduksi oleh kelenjar tiroid Anda menghilangkan kolesterol ekstra yang tidak dibutuhkan tubuh. Jadi, ketika memiliki tiroid yang kurang aktif atau hipotiroidisme, kadar kolesterol total dan LDL Anda akan meningkat.
Sementara, diabetes tipe 2 ditandai dengan tingginya gula darah, yang menempel pada protein, seperti molekul kolesterol, terutama partikel LDL (low-density lipoprotein) yang kecil dan padat, yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini karena hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin, memicu perubahan yang dapat menyebabkan peningkatan gula darah dan peradangan. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan hati Anda memompa lebih banyak kolesterol dan lemak darah atau trigliserida.
Baca Juga: Makan Cokelat Bikin Wajah Berjerawat, Mitos atau Fakta?
Jika Anda tidak banyak bergerak dan duduk dalam jangka waktu lama, maka enzim yang menetralkan kolesterol LDL yang berbahaya dan meningkatkan kolesterol baik atau HDL (high-density lipoprotein) turun hingga 95 persen. Lalu ada masalah seperti obesitas, yang memengaruhi cara tubuh Anda membuat dan mengelola lipoprotein, termasuk kolesterol dan trigliserida.
Faktanya, kolesterol dalam kadar normal juga bisa membentuk plak ketika terjadi peradangan di dalam tubuh. Penyakit gaya hidup merusak endotelium atau lapisan luar pembuluh darah di jantung. Robekan berarti darah mengalir deras untuk memperbaikinya dan menggumpal menjadi timbunan kolesterol yang tidak berbahaya untuk membentuk sumbatan besar. Hal ini, pada gilirannya memicu serangan jantung.
Hormon yang diproduksi oleh kelenjar tiroid Anda menghilangkan kolesterol ekstra yang tidak dibutuhkan tubuh. Jadi, ketika memiliki tiroid yang kurang aktif atau hipotiroidisme, kadar kolesterol total dan LDL Anda akan meningkat.
Sementara, diabetes tipe 2 ditandai dengan tingginya gula darah, yang menempel pada protein, seperti molekul kolesterol, terutama partikel LDL (low-density lipoprotein) yang kecil dan padat, yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini karena hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin, memicu perubahan yang dapat menyebabkan peningkatan gula darah dan peradangan. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan hati Anda memompa lebih banyak kolesterol dan lemak darah atau trigliserida.
Baca Juga: Makan Cokelat Bikin Wajah Berjerawat, Mitos atau Fakta?
Jika Anda tidak banyak bergerak dan duduk dalam jangka waktu lama, maka enzim yang menetralkan kolesterol LDL yang berbahaya dan meningkatkan kolesterol baik atau HDL (high-density lipoprotein) turun hingga 95 persen. Lalu ada masalah seperti obesitas, yang memengaruhi cara tubuh Anda membuat dan mengelola lipoprotein, termasuk kolesterol dan trigliserida.
Faktanya, kolesterol dalam kadar normal juga bisa membentuk plak ketika terjadi peradangan di dalam tubuh. Penyakit gaya hidup merusak endotelium atau lapisan luar pembuluh darah di jantung. Robekan berarti darah mengalir deras untuk memperbaikinya dan menggumpal menjadi timbunan kolesterol yang tidak berbahaya untuk membentuk sumbatan besar. Hal ini, pada gilirannya memicu serangan jantung.
(tdy)
Lihat Juga :