Peringati Hari Sumpah Pemuda, Komunitas Seni Budaya Paroki Kelapa Gading Gelar Lenong Kestra Yu Niti
Sabtu, 11 November 2023 - 23:55 WIB
loading...
Komunitas Seni Budaya Paroki Kelapa Gading menggelar pertunjukkan budaya berjudul Lenong Kestra Yu Niti. Acara yang dihelat di iNews Tower, Jakarta. Foto/Aziz Indra
A
A
A
JAKARTA - Komunitas Seni Budaya Paroki Kelapa Gading menggelar pertunjukkan budaya berjudul 'Lenong Kestra Yu Niti' . Acara yang dihelat di iNews Tower, Jakarta, Sabtu (11/11/2023) ini digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.
"Kenapa sumpah pemuda? Karena lebih pada kesatuan makanya makanya judulnya Yu Niti Lenong Kestra," kata Ketua Seni Budaya Paroki Kelapa Gading Gereja St Yakobus Elisabeth Noviana Chandra.
"Di mana kita gabungkan banyak elemen musik tradisi dan modern kemudian dari lintas agama, genre, dan usia," tamabhnya.
Konser seni budaya ini mengangkat cerita yang cukup ringan tentang seorang wanita bernama Upik yang berasal dari Minang dan jatuh cinta dengan Boim yang berasal dari Betawi. Keduanya harus sama-sama menurunkan ego masing-masing agar bisa bersatu.
Baca Juga: Hary Tanoesoedibjo Sebut Seni Budaya Jadi Pemersatu Bangsa
"Yang satu matrilineal dan satunya patrilineal, terus mereka menurunkan ego biar bisa bersatu. Sebenarnya ceritanya sederhana tapi dikemas dengan banyak alat musik dan tradisi," jelasnya.
Cerita ini juga dibalut dengan seni teater khas Betawi yaitu lenong. Menurutnya mengemas dengan lenong bisa lebih bebas mengekspresikan secara lebih lucu. "Kita tinggal di Jakarta, identik dengan Betawi," ujarnya.
"Kenapa sumpah pemuda? Karena lebih pada kesatuan makanya makanya judulnya Yu Niti Lenong Kestra," kata Ketua Seni Budaya Paroki Kelapa Gading Gereja St Yakobus Elisabeth Noviana Chandra.
"Di mana kita gabungkan banyak elemen musik tradisi dan modern kemudian dari lintas agama, genre, dan usia," tamabhnya.
Konser seni budaya ini mengangkat cerita yang cukup ringan tentang seorang wanita bernama Upik yang berasal dari Minang dan jatuh cinta dengan Boim yang berasal dari Betawi. Keduanya harus sama-sama menurunkan ego masing-masing agar bisa bersatu.
Baca Juga: Hary Tanoesoedibjo Sebut Seni Budaya Jadi Pemersatu Bangsa
"Yang satu matrilineal dan satunya patrilineal, terus mereka menurunkan ego biar bisa bersatu. Sebenarnya ceritanya sederhana tapi dikemas dengan banyak alat musik dan tradisi," jelasnya.
Cerita ini juga dibalut dengan seni teater khas Betawi yaitu lenong. Menurutnya mengemas dengan lenong bisa lebih bebas mengekspresikan secara lebih lucu. "Kita tinggal di Jakarta, identik dengan Betawi," ujarnya.
Lihat Juga :