Mengenal Prediabetes, Bisa Berkembang Jadi Diabetes Tipe 2
Selasa, 30 Januari 2024 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
Mengurangi stres: Karena stres mungkin merupakan faktor risiko prediabetes, mengelola tingkat stres dapat membantu mencegah kondisi tersebut.
Memiliki pola makan yang sehat: Pola makan yang tinggi serat, protein tanpa lemak, dan karbohidrat kompleks tetapi rendah gula sederhana, membantu menjaga kadar glukosa darah tetap stabil.
Berpegang teguh pada jadwal makan yang ketat: Makan dalam porsi kecil secara teratur sepanjang hari membantu mencegah lonjakan dan penurunan kadar glukosa darah. Pastikan untuk makan pada waktu yang sama setiap hari dan hindari ngemil berlebihan di antara waktu makan.
Berhenti merokok: Nikotin adalah stimulan yang meningkatkan kadar glukosa darah. Merokok dapat menyebabkan resistensi insulin dan merupakan faktor risiko diabetes.
Menghindari gula berlebih: Makanan dan minuman dengan tambahan gula dapat menyebabkan perubahan ekstrim pada glukosa darah dan berkontribusi pada penambahan berat badan.
Tetap berpegang pada asupan kopi dalam jumlah sedang: Kafein adalah stimulan lain yang meningkatkan kadar glukosa darah. Namun, beberapa penelitian mengaitkan kopi dengan peningkatan sensitivitas insulin.
Tidur yang cukup: Sebuah studi 2015 menunjukkan bahwa orang yang memiliki kualitas tidur rendah juga menghadapi risiko pradiabetes yang lebih tinggi.
Orang dengan faktor risiko pradiabetes atau kadar glukosa darah tinggi mungkin perlu memantau kadarnya di rumah dan minum obat untuk menurunkan glukosa darah.
Seorang dokter mungkin meresepkan beberapa orang dengan obat prediabetes, seperti metformin, untuk mengatasi gejalanya.
rasa haus yang meningkat atau tak henti-hentinya
kelelahan atau perasaan lemah
merasa lemas atau pusing
penglihatan kabur
Baca Juga: 7 Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Merusak Otak, Waspada Duduk Terlalu Lama
Siapa pun yang mengalami gejala-gejala ini mungkin ingin menemui dokter untuk mendapatkan pendapat medis.
Orang yang terdiagnosis prediabetes tidak perlu khawatir. Sebaliknya, mereka dapat menggunakan hal ini sebagai kesempatan untuk fokus pada pola makan dan olahraga yang berpotensi membalikkan perkembangan penyakit.
Memiliki pola makan yang sehat: Pola makan yang tinggi serat, protein tanpa lemak, dan karbohidrat kompleks tetapi rendah gula sederhana, membantu menjaga kadar glukosa darah tetap stabil.
Berpegang teguh pada jadwal makan yang ketat: Makan dalam porsi kecil secara teratur sepanjang hari membantu mencegah lonjakan dan penurunan kadar glukosa darah. Pastikan untuk makan pada waktu yang sama setiap hari dan hindari ngemil berlebihan di antara waktu makan.
Berhenti merokok: Nikotin adalah stimulan yang meningkatkan kadar glukosa darah. Merokok dapat menyebabkan resistensi insulin dan merupakan faktor risiko diabetes.
Menghindari gula berlebih: Makanan dan minuman dengan tambahan gula dapat menyebabkan perubahan ekstrim pada glukosa darah dan berkontribusi pada penambahan berat badan.
Tetap berpegang pada asupan kopi dalam jumlah sedang: Kafein adalah stimulan lain yang meningkatkan kadar glukosa darah. Namun, beberapa penelitian mengaitkan kopi dengan peningkatan sensitivitas insulin.
Tidur yang cukup: Sebuah studi 2015 menunjukkan bahwa orang yang memiliki kualitas tidur rendah juga menghadapi risiko pradiabetes yang lebih tinggi.
Orang dengan faktor risiko pradiabetes atau kadar glukosa darah tinggi mungkin perlu memantau kadarnya di rumah dan minum obat untuk menurunkan glukosa darah.
Seorang dokter mungkin meresepkan beberapa orang dengan obat prediabetes, seperti metformin, untuk mengatasi gejalanya.
Perkembangan menjadi diabetes tipe 2
Tanda-tanda prediabetes telah berkembang menjadi diabetes tipe 2 antara lain:rasa haus yang meningkat atau tak henti-hentinya
kelelahan atau perasaan lemah
merasa lemas atau pusing
penglihatan kabur
Baca Juga: 7 Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Merusak Otak, Waspada Duduk Terlalu Lama
Siapa pun yang mengalami gejala-gejala ini mungkin ingin menemui dokter untuk mendapatkan pendapat medis.
Orang yang terdiagnosis prediabetes tidak perlu khawatir. Sebaliknya, mereka dapat menggunakan hal ini sebagai kesempatan untuk fokus pada pola makan dan olahraga yang berpotensi membalikkan perkembangan penyakit.
(tdy)
Lihat Juga :