alexametrics

Syuting di Hutan, Pemeran Tepian Kelana Dikencingi Monyet

loading...
Syuting di Hutan, Pemeran Tepian Kelana Dikencingi Monyet
Web series Tepian Kelana mengangkat kisah dua anak muda menjelajah pedalaman Kalimantan Timur. / Foto: KoranSINDO/Thomas Manggalla
A+ A-
JAKARTA - Sejak Jumat (8/2) lalu, web series berjudul "Tepian Kelana" sudah bisa dinikmati oleh khalayak melalui gadget. Web series yang diluncurkan PT Pertamina itu mengambil latar belakang tempat di wilayah Gunung Gergaji, Kalimantan Timur.

Daerah tersebut memiliki Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang sedang diusulkan menjadi World Heritage UNESCO. Film arahan Dimas Prasetyo ini pun mencoba untuk menyajikan hal yang berbeda.

Kehadiran Tepian Kelana sendiri berlandaskan keprihatinan terhadap anak muda yang terlalu asyik dengan gadget sehingga menghilangkan hubungan sosial dengan lainnya. Di sini tersaji pesan positif mengenai keluarga, persahabatan dan mencintai maupun melestarikan alam.



Tepian Kelana mengangkat kisah dua anak muda menjelajah pedalaman Kalimantan Timur. Mini series ini menampilkan dua pendatang baru yang mewakili generasi milenial Faris Nahdi yang berperan sebagai Dani Bastian, seorang anak muda individualistis dan ambisius yang berprofesi sebagai content creator.

Kemudian bintang muda berbakat Devi Rahma yang beperan sebagai Vira. Cewek yang suka petualangan ini digambarkan sebagai seorang vlogger. Dalam video ini Dani dan Vira terlibat dalam suatu kisah perjalanan menantang di hutan Kalimantan. Penuh ketegangan, konflik, dan tentu saja sarat makna.

Baik Faris maupun Devi punya pengalaman unik selama proses syuting di tengah hutan. Mulai dari melihat langsung buaya di alur Sungai Mahakam, menyaksikan orang utan bergelantungan, digigit pacet, sampai dikencingi monyet. "Kita harus bisa bertahan di tengah kondisi alam yang benar-benar enggak bisa terduga," tegas Devi.

Kondisi alam dan cuaca yang sulit diprediksi membuat proses pembuatan web series ini sempat tertunda satu hari, karena hujan lebat hampir sehari penuh yang membuat air sungai pasang. Saat itu para kru sulit untuk tidur nyenyak. "Kita bisa mendengar suara-suara alam seperti kayu yang saling bertubrukan di sungai itu kita dengar. Itu enggak pernah kita alami sebelumnya," papar Faris.

Selama 12 hari berada di tengah hutan dan tidak ada sinyal telekomunikasi, para kru termasuk pemain hidup tanpa gawai. "Ya, akhirnya selama pembuatan web series ini menyadarkan kita di sekeliling kita masih ada orang lain. Selama syuting hidup kita juga lebih tertib. Tidur jam 9 malam, Bangun pagi jam 5. Karena kita enggak main smartphone," tutur Faris.

Sementara itu, PT Pertamina melalui Media Communication Manager, Arya Dwi Paramita mengungkapkan bahwa lewat web series ini Pertamina ingin menyampaikan pesan pentingnya sinergi dalam meraih kesuksesan kepada generasi milenial. "Sinergi bisa dilakukan dengan rekan kerja, teman, partner hingga sinergi dengan alam dan lingkungan," imbuhnya.

Pada saat yang sama, Corporate Secretary PT Pertamina, Syahrial Mukhtar berharap, melalui web series ini generasi muda khususnya milenial bisa menyadari pentingnya bersinergi dengan sekitar. Sebab, menurutnya, segala hal akan lebih baik jika dilakukan bersama-sama.

"Kita berharap ini jadi upaya membuat teman-teman milenial kembali menyadari kalau kita menjalankan sesuatu sendiri akan berbeda hasilnya dibandingkan bersama-sama," ujar Syahrial.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak