Unilever dan Google Berkolaborasi Dorong Digitalisasi Bank Sampah
Kamis, 20 Agustus 2020 - 10:20 WIB
loading...
A
A
A
Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia Nurdiana Darus menambahkan, permasalahan pengelolaan sampah plastik maupun sampah secara keseluruhan memerlukan perhatian serius dari kita semua. Unilever sendiri secara global sudah mencanangkan komitmen untuk mengurangi setengah dari penggunaan plastik baru, mempercepat penggunaan plastik daur ulang , serta mengumpulkan dan memproses kemasan plastik lebih banyak daripada yang dijual paling lambat tahun 2025.
“Dalam upaya mewujudkan komitmen tersebut, kami melihat bahwa perubahan pola pikir, kebiasaan, hingga ke tatanan sistem saat ini dibutuhkan untuk memastikan plastik tidak melulu menjadi sumber masalah, tapi justru memberikan keuntungan bagi kita. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai pemerintah, pihak produsen seperti Unilever, dan seluruh lapisan masyarakat,” ujar Nurdiana.
Salah satu upaya yang dilakukan Unilever untuk mencapai target tersebut, seperti sudah banyak diketahui, adalah dengan memperkenalkan program Bank Sampah berbasis komunitas sejak 2008. Hingga saat ini, perusahaan multinasional itu telah membangun 3.858 unit bank sampah dan mengurangi 12.487 ton sampah non-organik. (Baca Juga: Kiat Dampingi Anak Sekolah di Rumah )
Lalu, sejalan dengan upaya pemerintah untuk menggalakkan digitalisasi Bank Sampah, Unilever juga berkolaborasi dengan Google mendampingi pebisnis Bank Sampah mendaftarkan diri di platform Google My Business (https://www.google.com/business/). Informasi mengenai Bank Sampah mereka akan muncul saat pengguna mencari nama bisnis atau nama bidang usaha di search engine dan Google Maps.
Saat ini, lebih dari 300 Bank Sampah binaan Unilever telah terdaftar di Google My Business. Untuk mengetahui data bank sampah mana yang telah terhubung dengan platform Google My Business, Anda dapat mengunjungi situs www.unilever.co.id/sustainable-living/yayasan-unilever-indonesia/program-lingkungan/.
“Dalam upaya mewujudkan komitmen tersebut, kami melihat bahwa perubahan pola pikir, kebiasaan, hingga ke tatanan sistem saat ini dibutuhkan untuk memastikan plastik tidak melulu menjadi sumber masalah, tapi justru memberikan keuntungan bagi kita. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai pemerintah, pihak produsen seperti Unilever, dan seluruh lapisan masyarakat,” ujar Nurdiana.
Salah satu upaya yang dilakukan Unilever untuk mencapai target tersebut, seperti sudah banyak diketahui, adalah dengan memperkenalkan program Bank Sampah berbasis komunitas sejak 2008. Hingga saat ini, perusahaan multinasional itu telah membangun 3.858 unit bank sampah dan mengurangi 12.487 ton sampah non-organik. (Baca Juga: Kiat Dampingi Anak Sekolah di Rumah )
Lalu, sejalan dengan upaya pemerintah untuk menggalakkan digitalisasi Bank Sampah, Unilever juga berkolaborasi dengan Google mendampingi pebisnis Bank Sampah mendaftarkan diri di platform Google My Business (https://www.google.com/business/). Informasi mengenai Bank Sampah mereka akan muncul saat pengguna mencari nama bisnis atau nama bidang usaha di search engine dan Google Maps.
Saat ini, lebih dari 300 Bank Sampah binaan Unilever telah terdaftar di Google My Business. Untuk mengetahui data bank sampah mana yang telah terhubung dengan platform Google My Business, Anda dapat mengunjungi situs www.unilever.co.id/sustainable-living/yayasan-unilever-indonesia/program-lingkungan/.
(tsa)
Lihat Juga :