alexametrics

Hari Disabilitas, Ivan Penyandang Tunarungu Berbagi Kisah Inspiratif

loading...
Hari Disabilitas, Ivan Penyandang Tunarungu Berbagi Kisah Inspiratif
Ivan Octa Putra tidak pernah mengeluh dengan keterbatasannya. / Foto: Diana Rafikasari
A+ A-
JAKARTA - Keterbatasan bukan sebuah alasan untuk berpangku tangan. Setiap orang punya kesempatan dan memiliki hak untuk mencapai keinginannya. Begitu pun dengan yang dilakukan Ivan Octa Putra. Penyandang tunarungu ini tetap bekerja layaknya orang biasa.

Ivan, pemuda 29 tahun, tidak pernah mengeluh dengan keterbatasannya. Meski tidak bisa mendengar, Ivan ingin hidupnya mandiri. Karena itu, dia mencoba menjadi pengemudi GrabCar di Bandung untuk menghidupi dirinya. Kisah Ivan ini pun menginspirasi banyak orang di Hari Disabilitas Internasional yang jatuh setiap 3 Desember.

"Jadi kali pertama, awalnya saya itu freelance. Menunggu pesanan dan baru bayar nanti tapi saya ingin banget kerja di Grab untuk meningkatkan taraf hidup saya. Apalagi saya baru selesai kuliah. Awalnya mau masuk Grab, mau tambah pengalaman baru dan taraf hidup juga," kata Ivan saat jumpa pers di The Westin, Jakarta, Selasa (3/12).



"Kalau di rumah aja bingung mau ngapain. Kalau freelance juga enggak selamanya ada orderan. Saya cuma diam aja jadi freelance fotografer dan sehari saya cuma dapet 1 orderan. Saya akhirnya melamar di Grab dan akhirnya bisa bantu keluarga," lanjutnya.

Meskipun tahu risiko bekerja di jalanan, namun anak kedua dari 5 bersaudara itu tetap bekerja, karena ingin membantu sesama dan mendorong perekonomian untuk mendapat kehidupan yang lebih layak. Ivan juga tidak khawatir mengemudikan mobil lantaran sudah terbiasa sejak dulu, dan saat ini, dia sudah bekerja di bidang tersebut selama 12 bulan. Ivan bersyukur karena disabilitas seperti dirinya diberikan kesempatan bekerja.

"Awalnya sulit karena belum ada aksesnya. Penumpang ngomong apa? Pas awal ada telepon, saya mematikan teleponnya dan message. Sekarang sudah nyaman dan Alhamdulillah. Dengan adanya inisiatif Grab, adanya akses bekok kiri kanan, kita jadi nyaman dan tahu apa yang diinginkan penumpang. Ada panduan isyaratnya, sudah sampai atau apa," terangnya.

Jebolan Unikom jurusan DKV itu merasa bekerja sebagai pengemudi cukup mudah. Di sisi lain, bekerja sebagai pengemudi taksi online membawa Ivan ke berbagai pengalaman menarik. Tidak sedikit yang terkejut ketika bertemu Ivan, hingga menambah jumlah followers Instagram-nya.

"Ada penumpang saya jemput dari stasiun. Sudah saya antarkan dan sudah dekat sampai tujuan, saya bingung alamat rumahnya. Jadi banyak bercandanya di dalam mobil, ada curhat. Ketika udah 1 minggu, saya mengantarkan mereka, ada yang follow Instagram saya dan dia bilang, 'Saya penumpang yang dulu. Saya tau akun Instagram dari kartu yang di belakang," ungkapnya.

"Dulu waktu malam-malam ada order, saya tanya sudah sesuai aplikasi ya? Pas sampai di sana, perawakan metal dan kayak mabuk, aroma alkoholnya kuat. Saya tetep anterin. Saya pakai alat dengar, jadi saya dengar sedikit suara. Saya tahu mereka mengejek-mengejek saya dari kartu yang ada di belakang tapi saya tetap jaga etika saya sebagai driver," tambahnya.

Menurut Ivan, dia sebenernya terlahir normal. Sayangnya di usia 6 bulan, dia mengalami hal yang membuat pendengarannya hilang. Saat menumpang pesawat bersama sang ibu, Ivan secara tiba-tiba tidak bisa mendengar hingga sekarang.

"Waktu itu mama saya cerita waktu bayi, 6 bulan diajak naik pesawat dan mungkin ada suara mesin pesawat yang terlalu keras. Waktu itu saya nangis dan saya jadi tuli gitu aja. Ada kerusakan dari gendang telinganya," tandasnya.
(nug)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak