Transplantasi Sel Punca, Terobosan Masa Depan untuk Pasien Kanker Darah
Minggu, 18 Mei 2025 - 19:40 WIB
loading...
A
A
A
Kedua adalah Transplantasi Alogenik yang menggunakan sel punca dari donor yang cocok secara genetik. Umumnya dilakukan pada pasien leukemia atau kelainan genetik yang menyebabkan kerusakan sumsum tulang. Donor bisa berasal dari anggota keluarga atau pencarian donor melalui bank donor internasional.
“Keberhasilan transplantasi sangat bergantung pada kondisi penyakit, usia pasien, serta kecocokan donor. Transplantasi ini bisa memberikan remisi jangka panjang, bahkan kesembuhan,” kata dr. Nadia.
Selain menghancurkan sel kanker, terapi ini juga meregenerasi sistem imun pasien, memberi peluang tubuh untuk melawan sel kanker yang tersisa.
Meskipun menjanjikan, transplantasi sel punca memiliki tantangan besar yaitu ketersediaan donor. Hanya sekitar 25–30% pasien memiliki donor cocok dari keluarga. Selebihnya harus mencari donor dari luar.
“Edukasi masyarakat tentang pentingnya menjadi donor sangat krusial. Ketersediaan donor bisa menentukan hidup dan mati pasien,” ujar dr. Nadia.
Tantangan kedua adalah efek samping. Transplantasi berisiko menimbulkan efek samping serius seperti infeksi, penolakan transplantasi (graft versus host disease), hingga komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu, pemantauan intensif setelah prosedur sangat dibutuhkan.
Tantangan dan Peran Transplantasi Sel Punca di Era Terapi Baru
Di Indonesia, prosedur ini sudah bisa dilakukan di beberapa rumah sakit besar seperti MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, RS Kanker Dharmais, dan RSCM.
“Namun masih terdapat tantangan seperti terbatasnya fasilitas dan tenaga medis terlatih, keterbatasan jumlah pusat transplantasi, dan biaya yang tinggi. Upaya kolaborasi dan investasi di bidang hematologi sangat dibutuhkan agar lebih banyak pasien bisa mengakses pengobatan ini," tutur dr. Nadia.
Dokter Konsultan Senior Bidang Hemato-onkologi dari National Cancer Centre Singapore, Prof. William Hwang, MBBS, M Med, FRCP, FAMS menjelaskan, transplantasi sel punca tetap memegang peran penting, bahkan di tengah kemunculan terapi-terapi canggih seperti CAR-T dan antibodi bispesifik.
"Transplantasi sel punca tidak akan tergantikan dalam waktu dekat. Bahkan dengan hadirnya terapi CAR-T dan antibodi bispesifik, transplantasi tetap menjadi pengobatan kuratif utama untuk banyak jenis kanker darah," jelas Prof. Hwang.
“Keberhasilan transplantasi sangat bergantung pada kondisi penyakit, usia pasien, serta kecocokan donor. Transplantasi ini bisa memberikan remisi jangka panjang, bahkan kesembuhan,” kata dr. Nadia.
Selain menghancurkan sel kanker, terapi ini juga meregenerasi sistem imun pasien, memberi peluang tubuh untuk melawan sel kanker yang tersisa.
Meskipun menjanjikan, transplantasi sel punca memiliki tantangan besar yaitu ketersediaan donor. Hanya sekitar 25–30% pasien memiliki donor cocok dari keluarga. Selebihnya harus mencari donor dari luar.
“Edukasi masyarakat tentang pentingnya menjadi donor sangat krusial. Ketersediaan donor bisa menentukan hidup dan mati pasien,” ujar dr. Nadia.
Tantangan kedua adalah efek samping. Transplantasi berisiko menimbulkan efek samping serius seperti infeksi, penolakan transplantasi (graft versus host disease), hingga komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu, pemantauan intensif setelah prosedur sangat dibutuhkan.
Tantangan dan Peran Transplantasi Sel Punca di Era Terapi Baru
Di Indonesia, prosedur ini sudah bisa dilakukan di beberapa rumah sakit besar seperti MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, RS Kanker Dharmais, dan RSCM.
“Namun masih terdapat tantangan seperti terbatasnya fasilitas dan tenaga medis terlatih, keterbatasan jumlah pusat transplantasi, dan biaya yang tinggi. Upaya kolaborasi dan investasi di bidang hematologi sangat dibutuhkan agar lebih banyak pasien bisa mengakses pengobatan ini," tutur dr. Nadia.
Dokter Konsultan Senior Bidang Hemato-onkologi dari National Cancer Centre Singapore, Prof. William Hwang, MBBS, M Med, FRCP, FAMS menjelaskan, transplantasi sel punca tetap memegang peran penting, bahkan di tengah kemunculan terapi-terapi canggih seperti CAR-T dan antibodi bispesifik.
"Transplantasi sel punca tidak akan tergantikan dalam waktu dekat. Bahkan dengan hadirnya terapi CAR-T dan antibodi bispesifik, transplantasi tetap menjadi pengobatan kuratif utama untuk banyak jenis kanker darah," jelas Prof. Hwang.
Lihat Juga :