Dari Laut ke Masa Depan, Kolaborasi Dukung Hilirisasi Rumput Laut Nasional
Sabtu, 11 Oktober 2025 - 13:00 WIB
loading...
A
A
A
Meizani Irmadhiany, Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, lebih lanjut menambahkan, KI akan mendukung beberapa upaya dengan keterlibatan langsung dalam program penguatan kapasitas masyarakat pesisir. “Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, namun juga menempatkan komunitas sebagai bagian penting terciptanya ketahanan lingkungan jangka panjang, dalam hal ini di antaranya praktik budi daya rumput laut yang berkelanjutan di wilayah Nusa Tenggara,” katanya.
Selain itu, imbuh Meizani, transformasi ekonomi biru tidak dapat dilepaskan dari pemberdayaan komunitas pesisir, “Dengan model pengelolaan berbasis komunitas, pelatihan teknis, dan penggunaan teknologi tepat guna, kita dapat membangun industri rumput laut yang tangguh sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang adil dan berkelanjutan.”
Indonesia Seaweed Initiative lahir dari realitas bahwa masyarakat pesisir adalah tulang punggung ekonomi biru Indonesia, tapi masih terjebak kerentanan. Lebih dari 187 juta penduduk tinggal di wilayah pesisir, dengan jutaan keluarga bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan. Nelayan kecil dan pembudidaya rumput laut menjadi aktor utama, namun berpendapatan rendah, rentan terhadap fluktuasi harga global, serta minim akses terhadap pembiayaan dan teknologi.
Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar dunia, memasok lebih dari 60% kebutuhan global. Hal ini menghadirkan peluang sangat besar untuk menjajaki cara menjadikan industri rumput laut sebagai katalis transformasi: dari ekonomi subsisten yang rawan kemiskinan menuju ekonomi yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Melalui Indonesia Seaweed Initiative, pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil bersatu untuk membuka jalan bagi model industri laut baru—yang bukan hanya menjawab permintaan pasar global, tetapi juga mengangkat kesejahteraan masyarakat pesisir, memperkuat resiliensi ekosistem, dan menempatkan Indonesia di garis depan ekonomi biru dunia.
Selain itu, imbuh Meizani, transformasi ekonomi biru tidak dapat dilepaskan dari pemberdayaan komunitas pesisir, “Dengan model pengelolaan berbasis komunitas, pelatihan teknis, dan penggunaan teknologi tepat guna, kita dapat membangun industri rumput laut yang tangguh sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang adil dan berkelanjutan.”
Indonesia Seaweed Initiative lahir dari realitas bahwa masyarakat pesisir adalah tulang punggung ekonomi biru Indonesia, tapi masih terjebak kerentanan. Lebih dari 187 juta penduduk tinggal di wilayah pesisir, dengan jutaan keluarga bergantung pada laut sebagai sumber penghidupan. Nelayan kecil dan pembudidaya rumput laut menjadi aktor utama, namun berpendapatan rendah, rentan terhadap fluktuasi harga global, serta minim akses terhadap pembiayaan dan teknologi.
Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar dunia, memasok lebih dari 60% kebutuhan global. Hal ini menghadirkan peluang sangat besar untuk menjajaki cara menjadikan industri rumput laut sebagai katalis transformasi: dari ekonomi subsisten yang rawan kemiskinan menuju ekonomi yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Melalui Indonesia Seaweed Initiative, pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil bersatu untuk membuka jalan bagi model industri laut baru—yang bukan hanya menjawab permintaan pasar global, tetapi juga mengangkat kesejahteraan masyarakat pesisir, memperkuat resiliensi ekosistem, dan menempatkan Indonesia di garis depan ekonomi biru dunia.
(dra)
Lihat Juga :