Love Scam Mengganas, Detektif Jubun Ingatkan Bahaya Ini Mengintai
Selasa, 03 Februari 2026 - 12:01 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Modus penipuan berkedok asmara atau love scam kian mengkhawatirkan. Tak lagi sekadar kejahatan personal, praktik ini telah berkembang menjadi kejahatan finansial terorganisir berskala global yang menelan korban dalam jumlah besar, termasuk di Indonesia.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sejak 22 November 2024 hingga 31 Desember 2025, terdapat 3.494 laporan masyarakat yang menjadi korban love scam. Total kerugian yang ditimbulkan mencapai angka fantastis, yakni Rp 49,198 miliar.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa love scam kini menjadi tren kejahatan finansial yang meningkat tajam dan dilakukan oleh sindikat lintas negara.
Fenomena ini juga telah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk kasus terbaru di Yogyakarta.
Menanggapi fenomena tersebut, Detektif Jubun, pendiri Aman Sentosa Investigation Agency (ASIA), menyatakan keprihatinannya. Jubun dikenal sebagai detektif swasta profesional dengan pengalaman lebih dari 17 tahun, kerap menangani kasus perselingkuhan, penipuan, hingga pencarian orang hilang, termasuk untuk kalangan artis dan pejabat.
Menurut Jubun, love scam adalah kejahatan yang paling berbahaya karena menyerang sisi emosional korban, bukan sekadar logika.
“Love scam bukan kejahatan biasa. Pelaku bekerja dengan kesabaran tinggi, membangun kedekatan emosional, menciptakan rasa percaya, bahkan cinta. Saat korban sudah terikat secara psikologis, di situlah uang dan aset mulai dikuras perlahan,” ujar Detektif Jubun, belum lama ini.
Dia menambahkan, banyak korban sebenarnya adalah orang-orang rasional dan berpendidikan, namun kalah oleh manipulasi emosi yang dimainkan secara sistematis.
“Dalam banyak kasus yang saya tangani, korban tidak sadar sedang ditipu. Mereka baru tersadar ketika uang habis, hutang menumpuk, dan pelaku menghilang tanpa jejak,” katanya.
Jubun juga mengungkapkan bahwa sebagian besar love scam saat ini dikendalikan oleh sindikat internasional, memanfaatkan media sosial, aplikasi kencan, hingga platform pesan instan.
“Pelaku sering menggunakan identitas palsu, foto curian, bahkan skrip percakapan yang sudah dirancang rapi. Ini bukan kerja individu, tapi jaringan. Karena itu, korban sering kesulitan melapor atau melacak pelaku,” jelas pemilik akun Instagram @yangjubun.
Dia mengapresiasi langkah OJK melalui Indonesia Anti Scam Center (IASC), namun menegaskan bahwa pencegahan paling efektif tetap berada di tingkat masyarakat.
Sebagai penutup, Detektif Jubun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama terhadap hubungan daring yang terlalu cepat membicarakan uang, investasi, atau kondisi darurat.
“Jika seseorang yang baru dikenal mulai bicara soal bisnis, investasi, atau meminta bantuan finansial dengan alasan cinta, itu sudah lampu merah. Jangan ragu berhenti, verifikasi, dan cari pendapat pihak ketiga,” tegas Jubun.
Dia menekankan, cinta sejati tidak pernah datang dengan permintaan transfer uang.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sejak 22 November 2024 hingga 31 Desember 2025, terdapat 3.494 laporan masyarakat yang menjadi korban love scam. Total kerugian yang ditimbulkan mencapai angka fantastis, yakni Rp 49,198 miliar.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa love scam kini menjadi tren kejahatan finansial yang meningkat tajam dan dilakukan oleh sindikat lintas negara.
Fenomena ini juga telah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk kasus terbaru di Yogyakarta.
Menanggapi fenomena tersebut, Detektif Jubun, pendiri Aman Sentosa Investigation Agency (ASIA), menyatakan keprihatinannya. Jubun dikenal sebagai detektif swasta profesional dengan pengalaman lebih dari 17 tahun, kerap menangani kasus perselingkuhan, penipuan, hingga pencarian orang hilang, termasuk untuk kalangan artis dan pejabat.
Menurut Jubun, love scam adalah kejahatan yang paling berbahaya karena menyerang sisi emosional korban, bukan sekadar logika.
“Love scam bukan kejahatan biasa. Pelaku bekerja dengan kesabaran tinggi, membangun kedekatan emosional, menciptakan rasa percaya, bahkan cinta. Saat korban sudah terikat secara psikologis, di situlah uang dan aset mulai dikuras perlahan,” ujar Detektif Jubun, belum lama ini.
Dia menambahkan, banyak korban sebenarnya adalah orang-orang rasional dan berpendidikan, namun kalah oleh manipulasi emosi yang dimainkan secara sistematis.
“Dalam banyak kasus yang saya tangani, korban tidak sadar sedang ditipu. Mereka baru tersadar ketika uang habis, hutang menumpuk, dan pelaku menghilang tanpa jejak,” katanya.
Jubun juga mengungkapkan bahwa sebagian besar love scam saat ini dikendalikan oleh sindikat internasional, memanfaatkan media sosial, aplikasi kencan, hingga platform pesan instan.
“Pelaku sering menggunakan identitas palsu, foto curian, bahkan skrip percakapan yang sudah dirancang rapi. Ini bukan kerja individu, tapi jaringan. Karena itu, korban sering kesulitan melapor atau melacak pelaku,” jelas pemilik akun Instagram @yangjubun.
Dia mengapresiasi langkah OJK melalui Indonesia Anti Scam Center (IASC), namun menegaskan bahwa pencegahan paling efektif tetap berada di tingkat masyarakat.
Sebagai penutup, Detektif Jubun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama terhadap hubungan daring yang terlalu cepat membicarakan uang, investasi, atau kondisi darurat.
“Jika seseorang yang baru dikenal mulai bicara soal bisnis, investasi, atau meminta bantuan finansial dengan alasan cinta, itu sudah lampu merah. Jangan ragu berhenti, verifikasi, dan cari pendapat pihak ketiga,” tegas Jubun.
Dia menekankan, cinta sejati tidak pernah datang dengan permintaan transfer uang.
(unt)
Lihat Juga :