Krisis BBM Bayangi Aktivitas Harian, Tren Bike to Work Kembali Dilirik?
Rabu, 29 April 2026 - 12:31 WIB
loading...
Ancaman krisis BBM sebagai dampak dari ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran semakin nyata setelah setelah penyesuaian tarif BBM per 18 April. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Ancaman krisis BBM sebagai dampak dari ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran semakin nyata setelah setelah penyesuaian tarif BBM per 18 April. Dalam usaha menggunakan energi secara bijak, masyarakat mulai berbondong-bondong mencari cara agar bisa tetap bertahan di tengah situasi ini. Tujuannya bukan semata mempertahankan suplai bahan bakar nasional, tetapi juga melakukan penghematan pengeluaran secara cermat.
Beberapa memilih memperbanyak penggunaan modatransportasi umum, namun banyak juga yang memilih bersepeda sebagai pilihan alternatif mobilitas. Sejumlah Pemerintah daerah juga mulai menerapkan regulasi. Di beberapa kota/kabupaten, Aparatur Sipil Negara (ASN) diminta untuk bersepeda ke kantor dalam upaya mengurangi penggunaan BBM.
Bagi masyarakat, sepeda dirasa menjadi alternatif kendaraan yang paling relevan dalam menjawab krisis energi ini. Bukan tentang transportasi jarak jauh seperti ke kantor, masyarakat juga mulai marak bersepeda untuk transportasi jarak dekat yang mungkin berjarak di bawah 5 kilometer.
Pergeseran kali ini tidak hanya dilihat sebagai respon sementara terhadap krisis. Di Indonesia, komunitas Bike to Work(B2W) adalah salah satu penggerak utama kampanye penggunaan sepeda untuk aktivitas sehari-hari, terutama bagi pekerja kantoran dan profesional muda.
Stephanus Hendro Subroto, Ketua Umum Perkumpulan Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia (B2W Indonesia), berharap aksi ini bukan menjadi gerakan sementara, melainkan keberlanjutan. Menurutnya, sejak lama, masalah di Indonesia tidak hanya krisis energi, tetapi juga polusi udara dan kemacetan. Harapannya gerakan ini bukan sementara saja, tetapi bisa bertahan dan menurunkan ketergantungan kita pada kendaraan bermotor.
“Tentunya kami siap menjadi rumah untuk membimbing pesepeda-pesepeda muda agar terus bersepeda dengan aman,” kata Hendro, dalam keterangannya dikutip Rabu (29/4/2026).
Pelaku bike to work, Dwi Julian (@djulsu) juga menyuarakan pendapatnya sebagai pelaku yang sudah menjalankan bersepeda ke kantor sejak 2 tahun lalu. Baginya krisis ini bisa menjadi dampat positif jika dimaknai dengan baik oleh masyarakat.
“Memang tidak 100% lepas dari BBM, tetapi setidaknya bisa 90%,” jelas Dwi.
Bagi Dwi bersepeda tidak harus dimulai dari perjalanan jauh. Perjalanan jarak pendek seperti belanja ke minimarket atau beli makanan saja sudah cukup untuk berdampak bagi bumi.
“Nggak perlu ekstrem, maksudnya harus sepedaan jauh-jauh, nggak,” katanya.
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap bersepeda sebagai alternatif mobilitas, berbagai pertanyaan pun bermunculan di media sosial—mulai dari jenis sepeda yang tepat hingga rekomendasi brand yang sesuai untuk penggunaan harian. Dalam percakapan tersebut, Polygon, brand sepeda asal Indonesia, kerap menjadi salah satu nama yang paling banyak disebut.
Menurut Hendro, Polygon dikenal sebagai brand lokal dengan kualitas yang telah teruji, namun tetap menawarkan harga yang relatif terjangkau bagi berbagai kalangan. Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Dwi Julian, pengguna Polygon selama dua tahun terakhir.
Dwi mengaku sepeda miliknya, Strattos S2, memberikan kenyamanan untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk perjalanan ke kantor. “Sepeda saya Strattos S2, dan nyaman sekali untuk gowes ke kantor,” ujarnya.
Untuk kebutuhan mobilitas harian, Polygon menghadirkan beragam pilihan sepeda yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Tidak selalu harus menggunakan sepeda balap, sepeda kategori urban seperti Polygon Zeta Velo dan Path Series menjadi pilihan yang lebih relevan untuk penggunaan sehari-hari di perkotaan.
Selain itu, Polygon juga menawarkan lini sepeda listrik dengan teknologi pedal assist, yang memberikan dorongan tenaga sesuai kayuhan seperti Kalosi Miles dan Kalosi Lanes EVO yang mendukung perjalanan hingga jarak 100 kilometer.
Dari kebutuhan yang lahir karena krisis, bertransformasi menjadi pilihan yang lebih sadar—baik dari sisi efisiensi, kesehatan, maupun keberlanjutan lingkungan. Jika tren ini terus berkembang dan didukung oleh ekosistem yang memadai, bukan tidak mungkin bersepeda akan menjadi pemandangan yang semakin umum di jalanan kota.
Beberapa memilih memperbanyak penggunaan modatransportasi umum, namun banyak juga yang memilih bersepeda sebagai pilihan alternatif mobilitas. Sejumlah Pemerintah daerah juga mulai menerapkan regulasi. Di beberapa kota/kabupaten, Aparatur Sipil Negara (ASN) diminta untuk bersepeda ke kantor dalam upaya mengurangi penggunaan BBM.
Bagi masyarakat, sepeda dirasa menjadi alternatif kendaraan yang paling relevan dalam menjawab krisis energi ini. Bukan tentang transportasi jarak jauh seperti ke kantor, masyarakat juga mulai marak bersepeda untuk transportasi jarak dekat yang mungkin berjarak di bawah 5 kilometer.
Pergeseran kali ini tidak hanya dilihat sebagai respon sementara terhadap krisis. Di Indonesia, komunitas Bike to Work(B2W) adalah salah satu penggerak utama kampanye penggunaan sepeda untuk aktivitas sehari-hari, terutama bagi pekerja kantoran dan profesional muda.
Stephanus Hendro Subroto, Ketua Umum Perkumpulan Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia (B2W Indonesia), berharap aksi ini bukan menjadi gerakan sementara, melainkan keberlanjutan. Menurutnya, sejak lama, masalah di Indonesia tidak hanya krisis energi, tetapi juga polusi udara dan kemacetan. Harapannya gerakan ini bukan sementara saja, tetapi bisa bertahan dan menurunkan ketergantungan kita pada kendaraan bermotor.
“Tentunya kami siap menjadi rumah untuk membimbing pesepeda-pesepeda muda agar terus bersepeda dengan aman,” kata Hendro, dalam keterangannya dikutip Rabu (29/4/2026).
Pelaku bike to work, Dwi Julian (@djulsu) juga menyuarakan pendapatnya sebagai pelaku yang sudah menjalankan bersepeda ke kantor sejak 2 tahun lalu. Baginya krisis ini bisa menjadi dampat positif jika dimaknai dengan baik oleh masyarakat.
“Memang tidak 100% lepas dari BBM, tetapi setidaknya bisa 90%,” jelas Dwi.
Bagi Dwi bersepeda tidak harus dimulai dari perjalanan jauh. Perjalanan jarak pendek seperti belanja ke minimarket atau beli makanan saja sudah cukup untuk berdampak bagi bumi.
“Nggak perlu ekstrem, maksudnya harus sepedaan jauh-jauh, nggak,” katanya.
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap bersepeda sebagai alternatif mobilitas, berbagai pertanyaan pun bermunculan di media sosial—mulai dari jenis sepeda yang tepat hingga rekomendasi brand yang sesuai untuk penggunaan harian. Dalam percakapan tersebut, Polygon, brand sepeda asal Indonesia, kerap menjadi salah satu nama yang paling banyak disebut.
Menurut Hendro, Polygon dikenal sebagai brand lokal dengan kualitas yang telah teruji, namun tetap menawarkan harga yang relatif terjangkau bagi berbagai kalangan. Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Dwi Julian, pengguna Polygon selama dua tahun terakhir.
Dwi mengaku sepeda miliknya, Strattos S2, memberikan kenyamanan untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk perjalanan ke kantor. “Sepeda saya Strattos S2, dan nyaman sekali untuk gowes ke kantor,” ujarnya.
Untuk kebutuhan mobilitas harian, Polygon menghadirkan beragam pilihan sepeda yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Tidak selalu harus menggunakan sepeda balap, sepeda kategori urban seperti Polygon Zeta Velo dan Path Series menjadi pilihan yang lebih relevan untuk penggunaan sehari-hari di perkotaan.
Selain itu, Polygon juga menawarkan lini sepeda listrik dengan teknologi pedal assist, yang memberikan dorongan tenaga sesuai kayuhan seperti Kalosi Miles dan Kalosi Lanes EVO yang mendukung perjalanan hingga jarak 100 kilometer.
Dari kebutuhan yang lahir karena krisis, bertransformasi menjadi pilihan yang lebih sadar—baik dari sisi efisiensi, kesehatan, maupun keberlanjutan lingkungan. Jika tren ini terus berkembang dan didukung oleh ekosistem yang memadai, bukan tidak mungkin bersepeda akan menjadi pemandangan yang semakin umum di jalanan kota.
(dra)
Lihat Juga :