Awas Salah! Ini Cara Baca Hasil Rapid Test yang Benar

Selasa, 22 September 2020 - 12:33 WIB
loading...
Awas Salah! Ini Cara...
Selama pandemi COVID-19, rapid test menjadi begitu penting dilakukan untuk mendeteksi paparan virus. Foto Ilustrasi/Shutterstock
A A A
JAKARTA - Selama pandemi COVID-19, rapid test menjadi begitu penting dilakukan untuk mendeteksi paparan virus corona di dalam tubuh kita. Jika tes sudah dilakukan dan membaca hasilnya, kebingungan bisa jadi muncul. Maka, penting buat kita mengetahui "seluk-beluk" rapid test dan cara membaca hasilnya dengan benar.

Rapid test bertujuan mencari antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang dibuat oleh tubuh sebagai respons terhadap ancaman virus corona. Antibodi dapat membantu melawan infeksi. Jika antibodi terdeteksi dalam tubuh seseorang, artinya tubuh orang tersebut pernah terpapar atau dimasuki virus corona, bahkan virus lain. (Baca Juga: 5 Makanan yang Harus Anda Hindari saat Terkena Flu )

"Seperti tes gula darah, yang dilihat adalah antibodinya. Kemudian sumber sampelnya dari darah, jadi teteskan darah saja di dalam kit itu, lalu akan ketahuan apakah dia positif atau negatif," kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dalam jumpa pers baru-baru ini.

Antibodi membutuhkan waktu beberapa hari atau minggu untuk berkembang setelah tubuh mengalami infeksi dan mungkin tinggal di dalam darah selama beberapa minggu atau lebih setelah pemulihan. Karena itu, rapid test tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus corona baru.

Lebih lanjut Prof. Ari menjelaskan bahwa sama seperti tes kehamilan yang menggunakan urin, ketika muncul garis 1 pada kontrol, menandakan negatif. Tapi, jika muncul garis di IgG atau muncul garis di IgM, bahkan muncul garis di IgG dan IgM, itu menunjukkan pasien positif. Sedangkan, jika tidak muncul di kontrol C menandakan rapid test tidak valid.

"Kalau memang dalam darah ini mengandung antibodi, tentu kalau yang terkontrol itu akan positif karena dia mengalir. Sampel tersebut berjalan, menyerap, kalau dia mengandung antibodi, karena yang di dalam kit tersebut antigen maka dia akan reaksi menghasilkan adanya warna. Kalau warna tersebut muncul, berarti ada reaksi antigen, antibodi," jelasnya.

Pada keadaan asimptomatik atau tidak adanya gejala klinis apapun, menunjukkan belum terdeteksi antibodi dan masih mungkin hasil rapid test negatif. Jika pernah kontak dengan pasien COVID-19 , Prof Ari menyarankan untuk menunggu 2 minggu. Kemudian, kalau simptomatik, IgM di awal itu respons ketika sesuatu ada infeksi, maka yang akan muncul adalah antibodi M dulu dan sejalan dengan perjalanan penyakit. Dalam keadaan tersebut, jika sudah mulai membaik akan muncul IgG.

"Gambar ini ingin menunjukkan pada kita, ketika pasien itu pada saat diperiksa IgM-nya masih negatif, IgG masih negatif tapi ada riwayat kontak, maka bisa saja positif tapi masih masuk window periode infeksi. Window periode itu artinya sudah mulai ada inkubasi, tapi belum ada gejala. Di masa ini masih negatif, tapi sebenarnya dia masih dalam masa perjalanan ke situ," beber Prof. Ari.

"Kemudian ketika IgM-nya terdeteksi muncul, pasien ini sudah mulai mengalami fase awal infeksi. Kemudian ketika muncul kedua-duanya, IgG, IgM-nya muncul, itu artinya memang dalam fase aktif. Kemudian ketika IgM-nya sudah negatif, kemudian IgG-nya positif, ini yang bisa dibilang punya riwayat. Ada kemungkinan dia ada riwayat sudah pernah terinfeksi," tambahnya.

Rapid test mungkin memberikan hasil yang cepat, tapi sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis infeksi aktif. Rapid test hanya mendeteksi antibodi yang dikembangkan sistem kekebalan sebagai respons terhadap virus , bukan virus itu sendiri.

"Sekali lagi ini yang dilihat antibodinya dan yang diambil adalah darah pada finger print di kit, pada serum, atau plasma. Memang ini tugas dari petugas kesehatan yang ada di lapangan, tapi masyarakat juga harus mengetahui secara kasar karena ini sistemnya seperti test pack. Seperti tes kehamilan," paparnya. (Baca Juga: Ini Daftar Makanan yang Tidak Boleh Anda Panaskan Kembali )

Diperlukan beberapa hari hingga beberapa minggu untuk mengembangkan antibodi yang cukup untuk dideteksi dalam tes. Selain itu, pemeriksaan rapid test hanya merupakan penapisan awal atau pemeriksaan penyaringan. Selanjutnya, hasil pemeriksaan harus tetap dikonfirmasi melalui pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR).

"Memang lebih bagus kita cocokan dengan PCR. Sekali lagi tools ini memang mudah, bisa dikerjakan di mana-mana. Tetap harus konfirmasi dengan molekuler karena dengan pemeriksaan molekuler secara langsung bisa dipastikan di tubuh pasien tersebut memang ada virus," tandasnya.
(tsa)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jelang Iduladha, Aldi...
Jelang Iduladha, Aldi Taher Serukan Makan Daging Tanpa Takut Kolesterol
Jangan Tunggu Keluhan,...
Jangan Tunggu Keluhan, Pemeriksaan Mata Anak Perlu Dilakukan Sejak Dini
5 Manfaat Kopi yang...
5 Manfaat Kopi yang Jarang Diketahui, Bikin Panjang Umur hingga Cegah Penyakit Kronis
Waspada Virus Hanta,...
Waspada Virus Hanta, Menkes Budi Minta Screening ke WHO, Siapkan Rapid Test dan PCR
Nunung Tekankan Pentingnya...
Nunung Tekankan Pentingnya Perawatan Alami untuk Kesehatan Tubuh dan Benjolan
Gaya Hidup Sehat Perempuan...
Gaya Hidup Sehat Perempuan Dimulai dari Deteksi Dini
Hidup dengan Multiple...
Hidup dengan Multiple Sclerosis, Penderita Kelihatan Baik-baik Saja meski Berjuang Dalam Diam
Asosiasi Minta Rancangan...
Asosiasi Minta Rancangan Aturan Peringatan Kesehatan Tak Bertentangan dengan UU Hak Kekayaan Intelektual
9 WNI Jalani Pemeriksaan...
9 WNI Jalani Pemeriksaan Kesehatan di Turki Sebelum Kembali ke Indonesia
Rekomendasi
Mossad Pasok Milisi...
Mossad Pasok Milisi Kurdi dengan Senjata yang Disita dari Hamas dan Hizbullah
Drone Terjang Galilea...
Drone Terjang Galilea Barat Beberapa Menit setelah Netanyahu Pergi
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Berita Terkini
Indonesia Manufacturing...
Indonesia Manufacturing Symposium 2026, Membangun Sistem Enterprise
Album Baru Slank Republik...
Album Baru Slank Republik Fufu Fafa Resmi Meluncur, Sarat Kritik Sosial
Liburan Sekolah Penuh...
Liburan Sekolah Penuh dengan Keseruan: Menjelajahi Pesona Malaysia, Singapura & Thailand
Sinopsis Sinetron Terikat...
Sinopsis Sinetron 'Terikat Janji' Eps 62: Dipa Terus Memprovokasi Novan, Sementara Davina Merasakan Firasat Buruk
Shopee Campus Cup Diperpanjang!...
Shopee Campus Cup Diperpanjang! Waktunya All Out & Kumpulkan Poin untuk Bawa Kampus Kamu Jadi Juara!
Kini Merawat Kulit Jadi...
Kini Merawat Kulit Jadi Lebih Personal, Teknologi EXO3 Siap Manjakan Kulitmu dari Rumah
Infografis
Bukan Senjata Nuklir,...
Bukan Senjata Nuklir, Ini 4 Cara Terbaik Melawan Dominasi Barat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved