Karya Seni Pinggir Jalan yang Viral: Ketika Spanduk Pecel Lele Lamongan Curi Perhatian Gen Z di TikTok
Selasa, 14 Juli 2026 - 12:33 WIB
loading...
A
A
A
"Kami belajar dari pengalaman. Warna harus mencolok, gambar harus menarik, dan teks harus mudah dibaca dalam beberapa detik. "Semua itu penting agar orang yang lewat langsung tertarik untuk mampir," katanya.
Di tengah perkembangan teknologi cetak digital yang semakin cepat, pekerjaan para pelukis spanduk manual tetap menghadapi berbagai kesulitan. Banner yang dicetak sekarang bisa diproduksi lebih cepat dan harganya lebih terjangkau. Meski begitu, banyak pedagang masih memilih spanduk lukis karena dianggap memiliki tampilan visual yang lebih menonjol.
Menurut Fajar, karya lukis tangan memiliki nilai yang tidak bisa dicapai oleh mesin cetak.
"Spanduk manual punya karakter tersendiri. Setiap kali menggambar dengan kuas, hasilnya selalu berbeda, jadi tidak ada dua spanduk yang benar-benar identik. Itu yang membuatnya terasa hidup," ujarnya.
Melalui akun TikTok @fajar.spanduk, seni menghiasi spanduk khas Lamongan kini tidak hanya digunakan sebagai media iklan warung makan saja. Konten tersebut berhasil mengubah cara masyarakat melihat karya para pelukis tradisional sebagai bagian dari warisan budaya visual Indonesia yang layak dihargai.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu membawa tren yang hanya berlangsung singkat. Dengan kreator yang tepat, platform digital justru bisa menjadi tempat untuk mengenalkan kembali karya-karya lokal kepada generasi muda sekaligus memastikan tradisi seni lukis spanduk Lamongan tetap hidup meski di tengah arus modernisasi yang cepat.
Di tengah perkembangan teknologi cetak digital yang semakin cepat, pekerjaan para pelukis spanduk manual tetap menghadapi berbagai kesulitan. Banner yang dicetak sekarang bisa diproduksi lebih cepat dan harganya lebih terjangkau. Meski begitu, banyak pedagang masih memilih spanduk lukis karena dianggap memiliki tampilan visual yang lebih menonjol.
Menurut Fajar, karya lukis tangan memiliki nilai yang tidak bisa dicapai oleh mesin cetak.
"Spanduk manual punya karakter tersendiri. Setiap kali menggambar dengan kuas, hasilnya selalu berbeda, jadi tidak ada dua spanduk yang benar-benar identik. Itu yang membuatnya terasa hidup," ujarnya.
Melalui akun TikTok @fajar.spanduk, seni menghiasi spanduk khas Lamongan kini tidak hanya digunakan sebagai media iklan warung makan saja. Konten tersebut berhasil mengubah cara masyarakat melihat karya para pelukis tradisional sebagai bagian dari warisan budaya visual Indonesia yang layak dihargai.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu membawa tren yang hanya berlangsung singkat. Dengan kreator yang tepat, platform digital justru bisa menjadi tempat untuk mengenalkan kembali karya-karya lokal kepada generasi muda sekaligus memastikan tradisi seni lukis spanduk Lamongan tetap hidup meski di tengah arus modernisasi yang cepat.
(unt)
Lihat Juga :