Dokter Indonesia Kembangkan AI untuk Deteksi Dini Gagal Jantung, Pasien Tak Lagi Bolak-balik Masuk RS
Selasa, 14 Juli 2026 - 17:40 WIB
loading...
Dokter Indonesia kembangkan AI untuk deteksi dini gagal jantung, Foto: Mei Sada Siratit
A
A
A
JAKARTA - Penyakit jantung masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya jumlah penderitanya yang menempati posisi kedua terbanyak di Asia setelah China, pasien gagal jantung juga kerap harus bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit akibat kondisinya kembali memburuk.
Melihat persoalan tersebut, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Primaya Hospital Tangerang, dr. Rony M Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), SubSp.Vas(K), FIHA, menghadirkan inovasi AI untuk membantu mendeteksi dini kondisi pasien.
Menurut dr. Rony, salah satu penyebab tingginya angka rawat ulang pasien gagal jantung adalah masih adanya cairan di paru-paru yang tidak terdeteksi saat pemeriksaan biasa menggunakan stetoskop. Kondisi paru-paru penuh cairan atau kongesti ini masih sering tidak terdengar meski dokter mengguunakan stetoskop.Hal itu karena keterbatasan pendengaran manusia.
Baca Juga : Tanda Gagal Jantung Bisa Dilihat dari Bentuk Kaki, Begini Cirinya
“Setelah kita lihat, salah satu faktor pencetus daripada rehospitalisasi atau rawat berulang, itu adalah kondisi di mana di dalam paru-parunya itu masih ada cairan atau kongesti yang subklinis,” ujarnya pada Selasa (14/7/2026).
“Dokternya tidak mengetahui. Jadi alat dengan stetoskopnya tidak mendengarkan adanya cairan di dalam paru tersebut,” tambahnya.
Untuk itu lah dr. Rony mengembangkan inovasi AI yang mampu menganalisis suara paru-paru. Nantinya alat ini dapat membantu dokter menentukan apakah pasien masih memiliki cairan sehingga belum layak dipulangkan.
“Kita mencoba membuat alat yang bisa membantu dokter. Yang bisa membedakan, ini loh masih ada air, ini loh masih ada cairan. Sehingga pasien yang kita periksa kalau dia positif artinya jangan dipulangin dulu.”
Tak hanya dapat digunakan dokter, pasien nantinya juga bisa menggunakannya secara mandiri di rumah. Pasien bisa menggunakan stetoskop portabel yang dihubungkan ke aplikasi ponsel.
Baca Juga : Perbedaan Gejala Henti Jantung, Serangan Jantung, dan Gagal Jantung
“Nanti di gadget ada aplikasi, alatnya disambungkan, kemudian pasien bisa mendengarkan sendiri. Kalau hasilnya positif, pasien bisa segera ke rumah sakit.”
Hasil tersebut nantinya akan dihubungkan oleh sistem ke cloud sehingga hasil pemeriksaan dapat dipantau secara jarak jauh oleh tenaga kesehatan. Menurut dr. Rony, konsep tersebut sejalan dengan pengembangan telemedicine dan home-based monitoring.
Sehingga pasien tidak perlu terlalu sering datang ke rumah sakit hanya untuk kontrol.
“Pengobatan yang bisa dikerjakan sendiri oleh pasien di rumah. Tidak bolak-balik ke rumah sakit, tidak antre BPJS berjam-jam, itu yang ingin kita bantu.”
Melihat persoalan tersebut, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Primaya Hospital Tangerang, dr. Rony M Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), SubSp.Vas(K), FIHA, menghadirkan inovasi AI untuk membantu mendeteksi dini kondisi pasien.
Menurut dr. Rony, salah satu penyebab tingginya angka rawat ulang pasien gagal jantung adalah masih adanya cairan di paru-paru yang tidak terdeteksi saat pemeriksaan biasa menggunakan stetoskop. Kondisi paru-paru penuh cairan atau kongesti ini masih sering tidak terdengar meski dokter mengguunakan stetoskop.Hal itu karena keterbatasan pendengaran manusia.
Baca Juga : Tanda Gagal Jantung Bisa Dilihat dari Bentuk Kaki, Begini Cirinya
“Setelah kita lihat, salah satu faktor pencetus daripada rehospitalisasi atau rawat berulang, itu adalah kondisi di mana di dalam paru-parunya itu masih ada cairan atau kongesti yang subklinis,” ujarnya pada Selasa (14/7/2026).
“Dokternya tidak mengetahui. Jadi alat dengan stetoskopnya tidak mendengarkan adanya cairan di dalam paru tersebut,” tambahnya.
Untuk itu lah dr. Rony mengembangkan inovasi AI yang mampu menganalisis suara paru-paru. Nantinya alat ini dapat membantu dokter menentukan apakah pasien masih memiliki cairan sehingga belum layak dipulangkan.
“Kita mencoba membuat alat yang bisa membantu dokter. Yang bisa membedakan, ini loh masih ada air, ini loh masih ada cairan. Sehingga pasien yang kita periksa kalau dia positif artinya jangan dipulangin dulu.”
Tak hanya dapat digunakan dokter, pasien nantinya juga bisa menggunakannya secara mandiri di rumah. Pasien bisa menggunakan stetoskop portabel yang dihubungkan ke aplikasi ponsel.
Baca Juga : Perbedaan Gejala Henti Jantung, Serangan Jantung, dan Gagal Jantung
“Nanti di gadget ada aplikasi, alatnya disambungkan, kemudian pasien bisa mendengarkan sendiri. Kalau hasilnya positif, pasien bisa segera ke rumah sakit.”
Hasil tersebut nantinya akan dihubungkan oleh sistem ke cloud sehingga hasil pemeriksaan dapat dipantau secara jarak jauh oleh tenaga kesehatan. Menurut dr. Rony, konsep tersebut sejalan dengan pengembangan telemedicine dan home-based monitoring.
Sehingga pasien tidak perlu terlalu sering datang ke rumah sakit hanya untuk kontrol.
“Pengobatan yang bisa dikerjakan sendiri oleh pasien di rumah. Tidak bolak-balik ke rumah sakit, tidak antre BPJS berjam-jam, itu yang ingin kita bantu.”
(wur)
Lihat Juga :