Bukti Klinis Jadi Kunci Pengembangan Terapi Penyakit Metabolik yang Lebih Tepat
Sabtu, 18 Juli 2026 - 12:18 WIB
loading...
A
A
A
Risiko tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan metabolisme, gaya hidup, serta penggunaan beberapa obat antipsikotik generasi kedua yang diketahui dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan terapi yang tidak hanya mempertimbangkan kesehatan mental, tetapi juga kesehatan metabolik secara bersamaan.
Hasil Penelitian Tambah Bukti Ilmiah
Dalam penelitian yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry, sebanyak *154 pasien* berusia 18 hingga 60 tahun dilibatkan sebagai peserta. Seluruhnya didiagnosis skizofrenia atau gangguan terkait, menggunakan antipsikotik generasi kedua, serta memiliki kondisi prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan.
Peserta dibagi secara acak menjadi kelompok yang menerima semaglutide dosis 1 miligram dan kelompok plasebo selama 30 minggu.
Pada akhir penelitian, kelompok terapi menunjukkan penurunan berat badan rata-rata sebesar 9,21 kilogram. Selain itu, terjadi penurunan kadar HbA1c sebesar 0,46 persen, yang menunjukkan perbaikan pengendalian gula darah.
Sebanyak 81 persen peserta pada kelompok terapi juga berhasil mencapai kadar HbA1c normal di bawah 5,7 persen, dibandingkan 19 persen pada kelompok plasebo.
Peneliti turut melaporkan adanya perbaikan profil lipid, termasuk peningkatan kadar kolesterol HDL dan penurunan trigliserida, yang menjadi indikator penting dalam kesehatan metabolik.
Aspek Keamanan Tetap Menjadi Prioritas
Selain efektivitas, penelitian juga mengevaluasi aspek keamanan terapi.
Selama masa penelitian, tidak ditemukan adanya perburukan gejala skizofrenia maupun penurunan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental. Efek samping yang paling sering dilaporkan berupa gangguan saluran cerna dengan profil keamanan yang dinilai konsisten dengan penelitian semaglutide sebelumnya.
Bagi komunitas ilmiah, hasil tersebut memberikan tambahan data mengenai penggunaan terapi pada pasien dengan kondisi medis dan psikiatri yang berlangsung secara bersamaan.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan terapi yang tidak hanya mempertimbangkan kesehatan mental, tetapi juga kesehatan metabolik secara bersamaan.
Hasil Penelitian Tambah Bukti Ilmiah
Dalam penelitian yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry, sebanyak *154 pasien* berusia 18 hingga 60 tahun dilibatkan sebagai peserta. Seluruhnya didiagnosis skizofrenia atau gangguan terkait, menggunakan antipsikotik generasi kedua, serta memiliki kondisi prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan.
Peserta dibagi secara acak menjadi kelompok yang menerima semaglutide dosis 1 miligram dan kelompok plasebo selama 30 minggu.
Pada akhir penelitian, kelompok terapi menunjukkan penurunan berat badan rata-rata sebesar 9,21 kilogram. Selain itu, terjadi penurunan kadar HbA1c sebesar 0,46 persen, yang menunjukkan perbaikan pengendalian gula darah.
Sebanyak 81 persen peserta pada kelompok terapi juga berhasil mencapai kadar HbA1c normal di bawah 5,7 persen, dibandingkan 19 persen pada kelompok plasebo.
Peneliti turut melaporkan adanya perbaikan profil lipid, termasuk peningkatan kadar kolesterol HDL dan penurunan trigliserida, yang menjadi indikator penting dalam kesehatan metabolik.
Aspek Keamanan Tetap Menjadi Prioritas
Selain efektivitas, penelitian juga mengevaluasi aspek keamanan terapi.
Selama masa penelitian, tidak ditemukan adanya perburukan gejala skizofrenia maupun penurunan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental. Efek samping yang paling sering dilaporkan berupa gangguan saluran cerna dengan profil keamanan yang dinilai konsisten dengan penelitian semaglutide sebelumnya.
Bagi komunitas ilmiah, hasil tersebut memberikan tambahan data mengenai penggunaan terapi pada pasien dengan kondisi medis dan psikiatri yang berlangsung secara bersamaan.
Lihat Juga :