Ketika Kota Menjadi Kanvas, Pusaran Urban 6 Membaca Estetika Kehidupan Modern
Kamis, 23 Juli 2026 - 08:52 WIB
loading...
A
A
A
Nilai estetika negatif dipandang sebagai data penting yang dapat menunjukkan adanya ketidakadilan ruang. Sementara itu, seni dapat menjadi cara bagi warga untuk mengklaim hak atas kota, bukan sekadar dekorasi urban, tetapi juga sarana partisipasi, resistensi, dan pertemuan sosial.
Selain sesi utama, Pusaran Urban 6 diikuti 19 pemakalah yang terbagi dalam tiga bidang keilmuan, yakni Desain Komunikasi Visual, Kriya, dan Seni Murni. Presentasi makalah berlangsung melalui Zoom dan dimoderatori oleh para dosen FSRD IKJ.
Beragam kajian dipresentasikan, mulai dari Batik Lasem sebagai arsip visual urban dan hibriditas budaya, transformasi visual Semar dalam poster pementasan Mencari Semar Teater Koma, hingga kebaya sebagai narasi identitas serta gaya hidup perempuan perkotaan.
Bidang Seni Murni turut membahas seni urban sebagai estetika politemporal dalam seni kontemporer Jakarta, termasuk keterkaitannya dengan arsip digital, memori visual, dan kritik terhadap linearitas sejarah seni.
Melalui beragam perspektif tersebut, Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 menjadi ruang diskusi dan refleksi untuk memahami hubungan antara warga, seniman, serta perkembangan ruang perkotaan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi melalui seni dan desain guna mendukung pembangunan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Selain sesi utama, Pusaran Urban 6 diikuti 19 pemakalah yang terbagi dalam tiga bidang keilmuan, yakni Desain Komunikasi Visual, Kriya, dan Seni Murni. Presentasi makalah berlangsung melalui Zoom dan dimoderatori oleh para dosen FSRD IKJ.
Beragam kajian dipresentasikan, mulai dari Batik Lasem sebagai arsip visual urban dan hibriditas budaya, transformasi visual Semar dalam poster pementasan Mencari Semar Teater Koma, hingga kebaya sebagai narasi identitas serta gaya hidup perempuan perkotaan.
Bidang Seni Murni turut membahas seni urban sebagai estetika politemporal dalam seni kontemporer Jakarta, termasuk keterkaitannya dengan arsip digital, memori visual, dan kritik terhadap linearitas sejarah seni.
Melalui beragam perspektif tersebut, Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 menjadi ruang diskusi dan refleksi untuk memahami hubungan antara warga, seniman, serta perkembangan ruang perkotaan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi melalui seni dan desain guna mendukung pembangunan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
(dra)
Lihat Juga :