Heartology Layani Pasien Jantung dengan Teknologi Terkini
Kamis, 01 Oktober 2020 - 00:40 WIB
loading...
Jumlah pusat pelayanan, kelengkapan fasilitas dan langkanya dokter jantung di Indonesia, tidak sebanding dengan tingginya jumlah penderita jantung. / Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Tiap 29 September diperingati sebagai Hari Jantung Sedunia . Penyakit kardiovaskular masih menjadi ancaman dunia (global threat) dan merupakan penyakit yang berperan utama sebagai penyebab kematian di seluruh dunia.
(Baca juga: Waspada! Obesitas Rentan Terinfeksi Covid-19 dan Komplikasi )
Penyakit jantung merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan penyebab nomor satu kematian di dunia. Data WHO menyebutkan, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Sementara berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah makin meningkat tiap tahunnya. Setidaknya, 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung.
Consultant Cardiologist Cardiovascular Intensivist & Interventional Cardiologist Brawijaya Hospital, dr. Dafsah Arifa Juzar, SpJP, mengatakan, jumlah pusat pelayanan, kelengkapan fasilitas dan langkanya dokter jantung di Indonesia, tidak sebanding dengan tingginya jumlah penderita jantung . "Akibatnya, banyak penderita jantung yang tidak tertangani dengan secara optimal," ucapnya dalam Media Gathering Heartology, Selasa (29/9).
Dia menuturkan bahwa saat ini penderita jantung banyak berobat di luar negeri walaupun memiliki sisi negatif seperti tidak bisa segera, biaya lebih mahal, kendala bahasa, akses ke dokter dan RS yang tepat, serta adanya pembatasan karena Covid-19.
(Baca juga: Waspada! Obesitas Rentan Terinfeksi Covid-19 dan Komplikasi )
Penyakit jantung merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan penyebab nomor satu kematian di dunia. Data WHO menyebutkan, lebih dari 17 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Sementara berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah makin meningkat tiap tahunnya. Setidaknya, 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderita penyakit jantung.
Consultant Cardiologist Cardiovascular Intensivist & Interventional Cardiologist Brawijaya Hospital, dr. Dafsah Arifa Juzar, SpJP, mengatakan, jumlah pusat pelayanan, kelengkapan fasilitas dan langkanya dokter jantung di Indonesia, tidak sebanding dengan tingginya jumlah penderita jantung . "Akibatnya, banyak penderita jantung yang tidak tertangani dengan secara optimal," ucapnya dalam Media Gathering Heartology, Selasa (29/9).
Dia menuturkan bahwa saat ini penderita jantung banyak berobat di luar negeri walaupun memiliki sisi negatif seperti tidak bisa segera, biaya lebih mahal, kendala bahasa, akses ke dokter dan RS yang tepat, serta adanya pembatasan karena Covid-19.
Lihat Juga :