Waspada! Konsumsi Gula Berlebih Selama Liburan Dapat Memicu Depresi
Kamis, 29 Oktober 2020 - 15:07 WIB
loading...
A
A
A
Dia menambahkan bahwa ketika depresi, diet harus dioptimalkan dengan menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan otak, dan kebanyakan menghindari racun potensial ini. Studi ini juga mengungkapkan bahwa peradangan adalah efek fisiologis paling penting dari gula makanan yang berkaitan dengan kesehatan mental dan gangguan depresi. (Baca juga: BTS Tulis Kartu Pos kepada ARMY Isyaratkan Kemungkinan Subunit )
"Sejumlah besar orang dengan depresi memiliki tingkat peradangan sistemik yang tinggi. Kita juga tahu bahwa hormon peradangan dapat langsung mendorong otak ke keadaan depresi berat. Jadi, otak yang meradang biasanya adalah otak yang tertekan. Dan tambahan gula memiliki efek proinflamasi pada tubuh dan otak," tambahnya.
Para peneliti juga mengidentifikasi dampak gula pada komunitas bakteri yang hidup di usus manusia, atau microbiome, sebagai kontributor potensial untuk depresi. "Tubuh kita menampung lebih dari 10 triliun mikroba dan banyak dari mereka tahu cara meretas otak," ungkapnya.
"Banyak dari mikroba parasit itu yang tumbuh dengan gula tambahan, dan mereka dapat menghasilkan bahan kimia yang mendorong otak dalam keadaan gelisah, stres, dan depresi. Mereka juga mengalami peradangan," lanjutnya.
Studi ini merekomendasikan diet minimal yang diproses, kaya akan makanan nabati dan asam lemak omega-3, untuk manfaat psikologis yang optimal. Ilardi menjelaskan diet ini direkomendasikan tidak hanya selama liburan, tetapi sepanjang tahun.
"Sejumlah besar orang dengan depresi memiliki tingkat peradangan sistemik yang tinggi. Kita juga tahu bahwa hormon peradangan dapat langsung mendorong otak ke keadaan depresi berat. Jadi, otak yang meradang biasanya adalah otak yang tertekan. Dan tambahan gula memiliki efek proinflamasi pada tubuh dan otak," tambahnya.
Para peneliti juga mengidentifikasi dampak gula pada komunitas bakteri yang hidup di usus manusia, atau microbiome, sebagai kontributor potensial untuk depresi. "Tubuh kita menampung lebih dari 10 triliun mikroba dan banyak dari mereka tahu cara meretas otak," ungkapnya.
"Banyak dari mikroba parasit itu yang tumbuh dengan gula tambahan, dan mereka dapat menghasilkan bahan kimia yang mendorong otak dalam keadaan gelisah, stres, dan depresi. Mereka juga mengalami peradangan," lanjutnya.
Studi ini merekomendasikan diet minimal yang diproses, kaya akan makanan nabati dan asam lemak omega-3, untuk manfaat psikologis yang optimal. Ilardi menjelaskan diet ini direkomendasikan tidak hanya selama liburan, tetapi sepanjang tahun.
(tdy)
Lihat Juga :