Waspadai Gejala Kanker Lambung yang Mirip Maag
Rabu, 18 November 2020 - 00:30 WIB
loading...
A
A
A
Faktor risiko kanker lambung kebanyakan diderita oleh pasien berusia 60-80 tahun dan disebabkan oleh helicobactor pylori, rokok, obesitas, makanan yang diproses atau diasinkan, dan genetika. “Penyebab meningkatnya risiko kanker lambung secara kondisi medis karena adanya infeksi helicobacter pylori pada lambung, metaplasia usus, atrophic gastritis kronis, anemia pernisiosa, ataupun polip lambung,” terang Prof. Aru.
Sedangkan secara genetik, penyebab meningkatnya risiko kanker lambung adalah jika ibu, ayah, kakak, atau adik memiliki kanker gaster, golongan darah A, Li-fraumeni syndrome, familial adenomatous polypsis (FAP), dan hereditary nonpolyposis colon cancer. “Diagnosis dan terapi pada stadium dini tentu diharapkan akan memiliki tingkat keparahan dan prognosis yang lebih baik ketimbang bila dideteksi serta diterapi ketika sudah masuk stadium lanjut," timpal dr. Ervina.
"Untuk itu penting sekali untuk kita dapat mengenali gejala-gejala gangguan lambung apa saja yang harus diwaspadai dan ditindaklanjuti, apakah berupa penyakit lambung biasa yang umum dikenal sebagai sindroma dyspepsia ataukah mengarah ke keganasan atau kanker lambung,” lanjutnya.
Agar tidak terlambat melakukan deteksi dini kanker, masyarakat perlu mewaspadai gejala umum kanker. Seperti terjadinya benjolan, rasa lemah dan lesu, berat badan menurun drastis, nyeri yang tidak hilang, bab berubah pola, suara menjadi bindeng atau serak, nafsu makan hilang, mual dan muntah, nyeri perut, tahi lalat membesar dan meradang, perdarahan di waktu tidak lazim atau lama, serta bab dan batuk berdarah.
Prof. Aru Sudoyo mamaparkan enam kondisi yang perlu diwaspadai sebagai gejala kanker lambung. Kondisi pertama adalah adanya nyeri abdomen yaitu nyeri perut atau abdomen yang awalnya terasa ringan, namun karena sibuk sehingga tidak diperhatikan, serta tidak hilang dengan makan sehingga lama-kelamaan nyeri semakin berat sampai tak tertahankan.
"Gejala yang paling sering dari kanker lambung (antara 60%- 90%) mirip sakit maag,” papar Prof. Aru.
Sedangkan secara genetik, penyebab meningkatnya risiko kanker lambung adalah jika ibu, ayah, kakak, atau adik memiliki kanker gaster, golongan darah A, Li-fraumeni syndrome, familial adenomatous polypsis (FAP), dan hereditary nonpolyposis colon cancer. “Diagnosis dan terapi pada stadium dini tentu diharapkan akan memiliki tingkat keparahan dan prognosis yang lebih baik ketimbang bila dideteksi serta diterapi ketika sudah masuk stadium lanjut," timpal dr. Ervina.
"Untuk itu penting sekali untuk kita dapat mengenali gejala-gejala gangguan lambung apa saja yang harus diwaspadai dan ditindaklanjuti, apakah berupa penyakit lambung biasa yang umum dikenal sebagai sindroma dyspepsia ataukah mengarah ke keganasan atau kanker lambung,” lanjutnya.
Agar tidak terlambat melakukan deteksi dini kanker, masyarakat perlu mewaspadai gejala umum kanker. Seperti terjadinya benjolan, rasa lemah dan lesu, berat badan menurun drastis, nyeri yang tidak hilang, bab berubah pola, suara menjadi bindeng atau serak, nafsu makan hilang, mual dan muntah, nyeri perut, tahi lalat membesar dan meradang, perdarahan di waktu tidak lazim atau lama, serta bab dan batuk berdarah.
Prof. Aru Sudoyo mamaparkan enam kondisi yang perlu diwaspadai sebagai gejala kanker lambung. Kondisi pertama adalah adanya nyeri abdomen yaitu nyeri perut atau abdomen yang awalnya terasa ringan, namun karena sibuk sehingga tidak diperhatikan, serta tidak hilang dengan makan sehingga lama-kelamaan nyeri semakin berat sampai tak tertahankan.
"Gejala yang paling sering dari kanker lambung (antara 60%- 90%) mirip sakit maag,” papar Prof. Aru.
Lihat Juga :