Menapaktilasi Perjalanan Pesinden Legendaris Mimi Marni
Minggu, 10 Januari 2021 - 03:31 WIB
loading...
A
A
A
Seiring berjalannya waktu, nama Mimi Marni semakin dikenal kalangan luas. Tidak hanya di wilayah Ciayumajakuning saja. Dalam perjalanannya, Mimi juga pernah menginjakkan kaki di Sumatera, untuk perform di sana. "Di sana Mimi bersama grupnya tinggal selama 3 tahun, manggung dari satu tempat ke tempat lain. Mimi membentuk grup Warna Sari tahun 1976 yang kemudian diganti jadi Marni Grup pada 1982," kata dia.
"Nah, setelah ada Marni Grup ini, sudah mulai beragam. Ada tarlingan, dangdut dan bobodoran. Awalnya Mimi fokus di (jenis) Kliningan (sebagai Sinden). Untuk album pun beragam, bahkan ada yang musik qasidah. Namun kasetnya belum ketemu semua," lanjutnya.
Pentas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, memiliki nilai tersendiri bagi seorang musisi. Mimi, selama perjalanan kariernya, sudah pernah menjajah tempat tersebut. "Sekitar tahun 1988, 2 kali Mimi pentas di sana," tandas Wina.
Perjalanan Mimi dari satu panggung ke panggung lainnya, berlangsung hingga sekitar 1998. Selain faktor usia, adanya regenerasi dari anak didiknya, membuat Mimi mulai kembali ke rumah. Tahun 2000-an, Mimi mulai fokus dengan kegiatan keagamaan. Mengikuti pengajian rutin, membaca buku-buku tema agama adalah kegiatan Mimi di masa senjanya.
"Bisa dikatakan puncak kejayaan Mimi itu dari 1983 sampai 1988. Mimi tutup usia pada 2012 lantaran sakit, meninggalkan seorang putri dan dua orang cucu," kata Wina.
"Sekarang bisa dikatakan tidak ada lagi regenerasi. Karena anak didik Mimi pun sekarang sudah sepuh, dan tidak ada penerusnya. Adapun dari keturunannya, tidak ada yang mengikuti jejak Mimi. Saya sendiri lebih ke seni rupa," ungkap Wina.
Berharap perjalanan Mimi Marni dan semangatnya bisa dijadikan pelajaran untuk generasi muda, Wina berinisiatif untuk menggelar pameran sebuah arsip di rumah peninggalan almarhumah, Gang Bisma Blok Kliwon, Desa Beber, Kecamatan Ligung. Pameran ini berlangsung dari 7-22 Januari 2021, dengan menampilkan dokumen-dokumen sang legenda.
"Nah, setelah ada Marni Grup ini, sudah mulai beragam. Ada tarlingan, dangdut dan bobodoran. Awalnya Mimi fokus di (jenis) Kliningan (sebagai Sinden). Untuk album pun beragam, bahkan ada yang musik qasidah. Namun kasetnya belum ketemu semua," lanjutnya.
Pentas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, memiliki nilai tersendiri bagi seorang musisi. Mimi, selama perjalanan kariernya, sudah pernah menjajah tempat tersebut. "Sekitar tahun 1988, 2 kali Mimi pentas di sana," tandas Wina.
Perjalanan Mimi dari satu panggung ke panggung lainnya, berlangsung hingga sekitar 1998. Selain faktor usia, adanya regenerasi dari anak didiknya, membuat Mimi mulai kembali ke rumah. Tahun 2000-an, Mimi mulai fokus dengan kegiatan keagamaan. Mengikuti pengajian rutin, membaca buku-buku tema agama adalah kegiatan Mimi di masa senjanya.
"Bisa dikatakan puncak kejayaan Mimi itu dari 1983 sampai 1988. Mimi tutup usia pada 2012 lantaran sakit, meninggalkan seorang putri dan dua orang cucu," kata Wina.
"Sekarang bisa dikatakan tidak ada lagi regenerasi. Karena anak didik Mimi pun sekarang sudah sepuh, dan tidak ada penerusnya. Adapun dari keturunannya, tidak ada yang mengikuti jejak Mimi. Saya sendiri lebih ke seni rupa," ungkap Wina.
Berharap perjalanan Mimi Marni dan semangatnya bisa dijadikan pelajaran untuk generasi muda, Wina berinisiatif untuk menggelar pameran sebuah arsip di rumah peninggalan almarhumah, Gang Bisma Blok Kliwon, Desa Beber, Kecamatan Ligung. Pameran ini berlangsung dari 7-22 Januari 2021, dengan menampilkan dokumen-dokumen sang legenda.
Lihat Juga :