Tak Hanya Sebabkan Anemia, Kurang Zat Besi Juga Hambat Perkembangan Otak Anak
Kamis, 28 Januari 2021 - 14:15 WIB
loading...
A
A
A
Diperkirakan 30-80% anak di negara berkembang, mengalami kekurangan zat besi pada usia 1 tahun. Anak-anak ini akan mengalami keterlambatan perkembangan kognitif maupun psikomotor, dan ketika mereka mencapai usia sekolah mereka akan mengalami gangguan kinerja dalam tes bahasa keterampilan, keterampilan motorik, dan koordinasi, setara dengan defisit 5 hingga 10 poin dalam IQ.
Kekurangan gizi yang terjadi pada masa ini bersifat irreversible; bila sudah rusak maka permanen, dan tidak bisa diperbaiki. Zat besi merupakan nutrisi yang berfungsi penting untuk perkembangan otak, termasuk neurotransmitter atau pengantar sinyal saraf. “Zat besi juga berperan dalam pembentukan myelin saraf, serta berperan meningkatkan kecerdasan dan kemampuan belajar pada anak,” ujar Prof. Fika.
Baca Juga : Jalan Cepat Terbukti Tingkatkan Umur Panjang
Kekurangan zat besi tidak terjadi secara mendadak, namun bertahap. Diawali dari penurunan jumlah zat besi, lalu tuubh pun mulai membuat lebih sedikit sel darah merah. Konsentrasi belajar menurun adalah salah satu tanda dan gejala anak kekurangan zat besi. Akhirnya performa belajarnya pun turun. Ia malas mengerjakan tugas dan PR.
Secara fisik kurang zat besi bisa dilihat dari bagian bawah mata anak pucat, sering pusing, kuku dan telapak tangan tampak pucat, serta mengalami gejala 5L (lemah, letih, lesu, lelah, lalai). Sementara itu Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, M.Si, Ketua Umum HIMPAUDI Pusat pada kesempatan yang sama mengatakan, zat besi yang lebih rendah dari AKG berdampak pada rendahnya tumbuh kembang anak. Bila ini terjadi dalam jangka panjang dan di usia dini, maka tidak bisa diperbaiki lagi di masa depan. “Bonus demografi yang seharusnya menjadi jendela kesempatan, malah menjadi beban,” kata Prof. Netti.
Kekurangan gizi yang terjadi pada masa ini bersifat irreversible; bila sudah rusak maka permanen, dan tidak bisa diperbaiki. Zat besi merupakan nutrisi yang berfungsi penting untuk perkembangan otak, termasuk neurotransmitter atau pengantar sinyal saraf. “Zat besi juga berperan dalam pembentukan myelin saraf, serta berperan meningkatkan kecerdasan dan kemampuan belajar pada anak,” ujar Prof. Fika.
Baca Juga : Jalan Cepat Terbukti Tingkatkan Umur Panjang
Kekurangan zat besi tidak terjadi secara mendadak, namun bertahap. Diawali dari penurunan jumlah zat besi, lalu tuubh pun mulai membuat lebih sedikit sel darah merah. Konsentrasi belajar menurun adalah salah satu tanda dan gejala anak kekurangan zat besi. Akhirnya performa belajarnya pun turun. Ia malas mengerjakan tugas dan PR.
Secara fisik kurang zat besi bisa dilihat dari bagian bawah mata anak pucat, sering pusing, kuku dan telapak tangan tampak pucat, serta mengalami gejala 5L (lemah, letih, lesu, lelah, lalai). Sementara itu Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, M.Si, Ketua Umum HIMPAUDI Pusat pada kesempatan yang sama mengatakan, zat besi yang lebih rendah dari AKG berdampak pada rendahnya tumbuh kembang anak. Bila ini terjadi dalam jangka panjang dan di usia dini, maka tidak bisa diperbaiki lagi di masa depan. “Bonus demografi yang seharusnya menjadi jendela kesempatan, malah menjadi beban,” kata Prof. Netti.
Lihat Juga :