Waspada! Emosional Bisa Pengaruhi Sakit Punggung

loading...
Waspada! Emosional Bisa Pengaruhi Sakit Punggung
Para ahli percaya emosi negatif dapat memengaruhi nyeri punggung bawah dan berhipotesis bahwa meditasi adalah obat untuk menghilantgkan rasa sakit. Foto/Istomewa.
JAKARTA - Sakit punggung bisa menyerang kapan saja dan bisa berdampak negatif pada kehidupan seseorang. Para ahli percaya emosi negatif dapat memengaruhi nyeri punggung bawah dan berhipotesis bahwa meditasi adalah obat yang lebih baik daripada obat penghilang rasa sakit.

Faktor emosional yang dapat meningkatkan risiko sakit punggung seseorang menjadi kronis meliputi, percaya bahwa rasa sakit dan aktivitas itu berbahaya. Ini merupakan keyakinan seseorang, tetapi bisa diperkuat oleh anggota keluarga yang berusaha melindungi mereka.

Baca juga: Song Joong Ki Kembali Banyak Bicara Usai Cerai dengan Song Hye Kyo

Selain itu, tindakan negatif dapat memperkuat keyakinan bahwa seseorang sedang tidak sehat, misalnya, berbaring di tempat tidur untuk waktu yang lama. Memiliki suasana hati yang rendah atau negatif, depresi, kecemasan atau stres. Memiliki harapan rendah tentang seberapa baik pengobatan akan berhasil.

Faktor lainnya berupa mengandalkan terlalu banyak pada perawatan pasif atau tidak mengharapkan seseorang melakukan apa pun, seperti obat penghilang rasa sakit, kompres panas dan dingin, pijat dan elektroterapi. Orang dapat mencari dukungan psikologis untuk membantu pemulihan punggung mereka.



National Health Service (NHS) merekomendasikan untuk mencoba terapi perilaku kognitif (CBT), yang bisa menjadi bagian pengobatan berguna jika seseorang sedang berjuang untuk mengatasi rasa sakit mereka. CBT, bersama dengan teknik kesadaran, telah terbukti membantu sakit punggung kronis.

Dilansir dari Express, Rabu (10/2) dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Jama Network, efek pengurangan stres berbasis kesadaran vs terapi perilaku kognitif pada nyeri punggung dianalisis.

Daniel C. Cherkin, Ph.D., dari Group Health Research Institute, Seattle, dan rekannya secara acak menugaskan 342 orang dewasa berusia 20 hingga 70 tahun dengan nyeri punggung bawah kronis untuk menerima MBSR, terapi perilaku kognitif, atau perawatan biasa.

Studi tersebut mencatat CBT dan MBSR diberikan dalam delapan kelompok setiap dua jam mingguan. Perawatan biasa termasuk perawatan lain apa pun, jika ada, yang diterima peserta. Usia rata-rata peserta adalah 49 tahun dengan durasi rata-rata sakit punggung adalah 7,3 tahun.

Para peneliti menemukan bahwa pada 26 minggu, persentase peserta dengan perbaikan yang bermakna secara klinis pada ukuran keterbatasan fungsional lebih tinggi pada mereka yang menerima MBSR (61%) dan CBT (58%) daripada untuk perawatan biasa (44%).



Persentase peserta dengan perbaikan yang bermakna secara klinis pada nyeri yang mengganggu pada minggu ke 26 adalah 44% pada kelompok MBSR dan 45% pada kelompok CBT, versus 27% pada kelompok perawatan biasa. Temuan MBSR bertahan dengan sedikit perubahan pada 52 minggu untuk kedua hasil primer.

Baca juga: Biaya Rumah Tangga Andhika Pratama Ussy Capai Rp450 Juta per Bulan

"Efeknya berukuran sedang, yang merupakan tipikal dari perawatan berbasis bukti yang direkomendasikan untuk nyeri punggung bawah kronis. Manfaat ini luar biasa mengingat hanya 51% dari mereka yang secara acak menerima MBSR dan 57% dari mereka yang secara acak menerima CBT menghadiri setidaknya enam dari delapan sesi," tulis penulis penelitian.

Temuan ini menunjukkan bahwa MBSR menjadi pilihan pengobatan yang efektif untuk pasien dengan nyeri punggung bawah kronis.
(tdy)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top