Kasus Mutasi Covid-19 B117 Terdeteksi di Indonesia, Epidemolog Ingatkan untuk Tingkatkan 3T dan 5M
Selasa, 02 Maret 2021 - 18:30 WIB
loading...
Strain baru Covid-19 B117 yang sudah ditemukan di Indonesia lebih mudah menular. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Dua kasus pertama mutasi Covid-19 B117 sudah ditemukan di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono. Menanggapi hal ini, Epidemiolog dari Griffith University Australia dr Dicky Budiman mengaku sudah tidak kaget lagi.
Pasalnya, pada akhir 2020 serta Januari silam, dia telah memprediksi bahwa tahun 2021 akan banyak strain baru Covid-19 yang lebih mudah menular daripada sebelumnya.
“Sudah saya sampaikan bahwa ini hanya masalah waktu saja ketemu (kasus dengan strain baru). Dan ketika ketemu, itu bukan berarti hanya dua, tidak, tapi sudah dimana-mana, dan ini saya harus sampaikan. Karena, strategi testing, tracing kita yang tidak memadai,” ujarnya saat dihubungi lewat pesan singkat, Selasa (2/3/2021).
Baca Juga : Waspada! Dua Kasus Mutasi Covid-19 B117 dari Inggris Ditemukan di Indonesia
Tidak hanya lebih mudah menular, dr Dicky juga mengungkapkan bahwa strain baru Covid-19 menyebabkan angka kematian meningkat. “Betul strain baru ini lebih cepat menular dan 30 persen lebih cepat menyebabkan kematian,” kata dia.
Pasalnya, pada akhir 2020 serta Januari silam, dia telah memprediksi bahwa tahun 2021 akan banyak strain baru Covid-19 yang lebih mudah menular daripada sebelumnya.
“Sudah saya sampaikan bahwa ini hanya masalah waktu saja ketemu (kasus dengan strain baru). Dan ketika ketemu, itu bukan berarti hanya dua, tidak, tapi sudah dimana-mana, dan ini saya harus sampaikan. Karena, strategi testing, tracing kita yang tidak memadai,” ujarnya saat dihubungi lewat pesan singkat, Selasa (2/3/2021).
Baca Juga : Waspada! Dua Kasus Mutasi Covid-19 B117 dari Inggris Ditemukan di Indonesia
Tidak hanya lebih mudah menular, dr Dicky juga mengungkapkan bahwa strain baru Covid-19 menyebabkan angka kematian meningkat. “Betul strain baru ini lebih cepat menular dan 30 persen lebih cepat menyebabkan kematian,” kata dia.
Lihat Juga :