Kolaborasi Pemerintah-Swasta Atasi Stunting lewat Edukasi Air Bersih dan Pembuatan Camilan Es Potong
Minggu, 06 Oktober 2024 - 23:23 WIB
loading...
Acara Gebyar 10 Program Pokok PKK di Semarang belum lama ini menyisipkan kegiatan pemecahan rekor MURI es potong raksasa. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika anak mengalami gagal tumbuh akibat kekurangan gizi. Stunting tidak hanya mempengaruhi kondisi fisik anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan kemampuan jangka panjang anak karena perkembangan otak yang kurang optimal.
Hingga saat ini, angka stunting di Indonesia masih jauh dari target penurunan sebesar 14 persen di tahun 2024. Presiden Jokowi menegaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan asupan makanan, tetapi juga erat kaitannya dengan kesehatan lingkungan dan ketersediaan air bersih.
Upaya penurunan stunting, selain memfokuskan pada pemberian makanan bergizi, juga harus memperhatikan aspek sanitasi dan akses air bersih. Menurut riset Kementerian Kesehatan, sekitar 60 persen kasus stunting di Indonesia disebabkan oleh buruknya sanitasi dan kurangnya akses air bersih, sementara gizi buruk menyumbang 40 persen.
Tak heran, jika akses terhadap air bersih menjadi salah satu tujuan utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dengan target pencapaian pada 2030. Air bersih berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk mandi, mencuci, hingga dikonsumsi untuk kebutuhan minum dan memasak. Konsumsi air kotor dapat menyebabkan infeksi mikroorganisme seperti patogen dan bakteri E.coli, yang pada akhirnya mengganggu sistem pencernaan dan berkontribusi pada masalah stunting di Indonesia.
Upaya penurunan stunting memerlukan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai sektor, mulai kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur sanitasi. Peningkatan akses terhadap makanan bergizi, edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh yang baik, serta perbaikan layanan kesehatan ibu dan anak menjadi langkah-langkah penting dalam menekan angka stunting. Dukungan dan kolaborasi dari pemerintah, sektor swasta, serta masyarakat sangat dibutuhkan agar target penurunan stunting dapat tercapai dan generasi mendatang tumbuh dengan sehat serta optimal.
Hingga saat ini, angka stunting di Indonesia masih jauh dari target penurunan sebesar 14 persen di tahun 2024. Presiden Jokowi menegaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan asupan makanan, tetapi juga erat kaitannya dengan kesehatan lingkungan dan ketersediaan air bersih.
Upaya penurunan stunting, selain memfokuskan pada pemberian makanan bergizi, juga harus memperhatikan aspek sanitasi dan akses air bersih. Menurut riset Kementerian Kesehatan, sekitar 60 persen kasus stunting di Indonesia disebabkan oleh buruknya sanitasi dan kurangnya akses air bersih, sementara gizi buruk menyumbang 40 persen.
Tak heran, jika akses terhadap air bersih menjadi salah satu tujuan utama dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dengan target pencapaian pada 2030. Air bersih berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk mandi, mencuci, hingga dikonsumsi untuk kebutuhan minum dan memasak. Konsumsi air kotor dapat menyebabkan infeksi mikroorganisme seperti patogen dan bakteri E.coli, yang pada akhirnya mengganggu sistem pencernaan dan berkontribusi pada masalah stunting di Indonesia.
Upaya penurunan stunting memerlukan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai sektor, mulai kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur sanitasi. Peningkatan akses terhadap makanan bergizi, edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh yang baik, serta perbaikan layanan kesehatan ibu dan anak menjadi langkah-langkah penting dalam menekan angka stunting. Dukungan dan kolaborasi dari pemerintah, sektor swasta, serta masyarakat sangat dibutuhkan agar target penurunan stunting dapat tercapai dan generasi mendatang tumbuh dengan sehat serta optimal.
Lihat Juga :