Waduh, Polusi Udara Berpotensi Kurangi Angka Harapan Hidup Orang Indonesia
Kamis, 09 September 2021 - 21:31 WIB
loading...
Direktur AQLI, Kenneth Lee saat memberikan pemaparannya dalam Webinar bertajuk Clean Air Crisis, What Should We Do? pada Kamis (9/9/2021). / Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Indonesia dalam satu dekade terakhir mengalami peningkatan jumlah polusi udara . Menurut data terbaru Air Quality Life Index (AQLI), sebuah lembaga nirlaba dari University of Chicago, saat ini lebih dari 93 persen dari 262 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah dengan tingkat Particulate Matter (PM) 2.5 rata-rata tahunan yang melebihi ambang batas pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Baca juga: Indonesia Siap Produksi Vaksin Covid-19 dengan Metode mRNA
Direktur AQLI, Kenneth Lee mengatakan, tingginya angka polusi udara akan berdampak terhadap angka harapan hidup Indonesia. Menurutnya, rata-rata orang Indonesia diperkirakan dapat kehilangan 2,5 tahun dari usia harapan hidupnya akibat polusi udara saat ini.
"Karena kualitas udara tidak memenuhi ambang batas aman sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk konsentrasi partikel halus (PM2.5)," ujar Ken dalam Webinar bertajuk 'Clean Air Crisis, What Should We Do?' yang digelar Komunitas Bicara Udara bersama aplikasi Nafas Indonesia dan AQLI, Kamis (9/9/2021).
Ken menuturkan bahwa berdasarkan data dari Energy Policy Institute di University of Chicago (EPIC), dampak kesehatan dari polusi udara paling besar terjadi di Depok, Bandung, dan Jakarta, di mana konsentrasi polusi udara adalah yang tertinggi.
Baca juga: Indonesia Siap Produksi Vaksin Covid-19 dengan Metode mRNA
Direktur AQLI, Kenneth Lee mengatakan, tingginya angka polusi udara akan berdampak terhadap angka harapan hidup Indonesia. Menurutnya, rata-rata orang Indonesia diperkirakan dapat kehilangan 2,5 tahun dari usia harapan hidupnya akibat polusi udara saat ini.
"Karena kualitas udara tidak memenuhi ambang batas aman sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk konsentrasi partikel halus (PM2.5)," ujar Ken dalam Webinar bertajuk 'Clean Air Crisis, What Should We Do?' yang digelar Komunitas Bicara Udara bersama aplikasi Nafas Indonesia dan AQLI, Kamis (9/9/2021).
Ken menuturkan bahwa berdasarkan data dari Energy Policy Institute di University of Chicago (EPIC), dampak kesehatan dari polusi udara paling besar terjadi di Depok, Bandung, dan Jakarta, di mana konsentrasi polusi udara adalah yang tertinggi.
Lihat Juga :