Perlukah Masyarakat Umum Mendapatkan Vaksin Booster?
Jum'at, 10 September 2021 - 18:26 WIB
loading...
A
A
A
Mengacu pada data yang dipaparkan The Guardian pada 19 Agustus lalu, data awal menunjukkan bahwa orang mengalami penurunan tingkat antibodi pelindung berminggu-minggu atau berbulan-bulan pasca-suntikan dosis lengkap, khususnya akibat paparan varian Delta yang sangat menular. Namun, tidak jelas mengenai tingkat antibodi atau 'alat lain dalam persenjataan sistem kekebalan' yang memberikan kekebalan protektif.
"Yang penting dipahami adalah tingkat antibodi atau tentara sistem kekebalan lainnya, seperti sel-T, masih tetap diperlukan untuk melindungi tubuh dari Covid-19, terutama dalam mencegah terjadi penyakit serius atau kematian," terang laporan tersebut.
"Jika itu dapat diukur dengan pasti, lalu laboratorium membenarkan bahwa terjadi penurunan yang sangat signifikan pada antibodi setelah berupaya melawan varian baru, baru kemudian akan ada kasus yang jelas untuk pemberian vaksin booster," sebut laporan yang sama.
Menjadi catatan di sini adalah bahwa pakar WHO dengan tegas mengatakan bahwa sampai sekarang tidak ada cukup bukti ilmiah untuk penggunaan booster bagi masyarakat umum. Tapi, beda untuk mereka yang memiliki masalah sistem kekebalan yang memang membutuhkan.
"Idealnya adalah pengambil kebijakan paham betul kelompok masyarakat seperti apa yang memang berhak menerima vaksin booster. Di Inggris misalnya, booster terbukti memberi manfaat perlindungan pada kelompok lansia dalam upaya menjaga mereka dari serangan varian Delta," kata Danny Altmann, seorang profesor imunologi di Imperial College, London, Inggris.
Pernyataan lain disampaikan dr. Simon Clarke, profesor mikrobiologi seluler di University of Reading, "Bukti yang kami pegang menyatakan bahwa efektivitas vaksin booster cukup baik untuk individu yang sangat rentan, bukan masyarakat pada umumnya," terangnya.
"Yang penting dipahami adalah tingkat antibodi atau tentara sistem kekebalan lainnya, seperti sel-T, masih tetap diperlukan untuk melindungi tubuh dari Covid-19, terutama dalam mencegah terjadi penyakit serius atau kematian," terang laporan tersebut.
"Jika itu dapat diukur dengan pasti, lalu laboratorium membenarkan bahwa terjadi penurunan yang sangat signifikan pada antibodi setelah berupaya melawan varian baru, baru kemudian akan ada kasus yang jelas untuk pemberian vaksin booster," sebut laporan yang sama.
Menjadi catatan di sini adalah bahwa pakar WHO dengan tegas mengatakan bahwa sampai sekarang tidak ada cukup bukti ilmiah untuk penggunaan booster bagi masyarakat umum. Tapi, beda untuk mereka yang memiliki masalah sistem kekebalan yang memang membutuhkan.
"Idealnya adalah pengambil kebijakan paham betul kelompok masyarakat seperti apa yang memang berhak menerima vaksin booster. Di Inggris misalnya, booster terbukti memberi manfaat perlindungan pada kelompok lansia dalam upaya menjaga mereka dari serangan varian Delta," kata Danny Altmann, seorang profesor imunologi di Imperial College, London, Inggris.
Pernyataan lain disampaikan dr. Simon Clarke, profesor mikrobiologi seluler di University of Reading, "Bukti yang kami pegang menyatakan bahwa efektivitas vaksin booster cukup baik untuk individu yang sangat rentan, bukan masyarakat pada umumnya," terangnya.
Lihat Juga :