alexametrics

Jelang New Normal, Kowani Sarankan Sekolah Lakukan Rapid Test

loading...
Jelang New Normal, Kowani Sarankan Sekolah Lakukan Rapid Test
Kowani mendukung kebijakan new normal, namun harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. / Foto: ist
A+ A-
JAKARTA - Adanya wacana anak-anak untuk kembali masuk ke sekolah seiring bakal diberlakukannya kebijakan thenew normal membuat sebagian orang tua khawatir. Bukan tanpa alasan kekhawatiran para orang tua ini, pasalnya pandemi Covid-19 masih belum juga mereda hingga saat ini.

Dengan siswa-siswi kembali masuk sekolah, dikhawatirkan sekolah dan lembaga pendidikan berpotensi menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Meskipun begitu, salah satu langkah antisipatif yang dapat dilakukan adalah melakukan rapid test di sekolah.

Sebagaimana yang diungkapkan Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubianto Wiyogo, rapid test harus dilakukan di sekolah, pesantren dan lembaga pendidikan lainnya. "Ini salah satu cara menghindari sekolah dan lembaga pendidikan jadi klaster baru penularan virus Corona," ujarnya ketika menggelar kegiatan Rapid Test Gratis Kowani di Jakarta, Sabtu (30/5).



Menurut Giwo, ketika nantinya kebijakan new normal diberlakukan dan sekolah buka lagi, protokol kesehatan yang ketat serta pola hidup sehat mutlak harus dijalankan. "Pakai masker, rajin cuci tangan, minum vitamin. Pokoknya anak-anak harus dipersiapkan dengan protokol kesehatan yang ketat dan asupan vitamin serta suasana ramah anak yang harus bisa dibangun oleh pendidik," terangnya.

Dinilai penting untuk dilakukan saat ini, Kowani pun menggandeng Kementerian Kesehatan RI untukmengadakanRapid Test Gratis Kowani pada 28-30 Mei 2020 dengan diikuti 1.000 peserta dari anggota Kowani hingga masyarakat umum. Dan surat keterangan hasil rapid test-nyabisa dipergunakan untuk berpergian menggunakan kendaraaan umum selama 14 hari ke depan.

"Tujuan kegiatan ini untuk memutus mata rantai virus corona lewat deteksi awal. Pentingnya rapid test ini agar orang tanpa gejala (OTG) bisa terdeteksi. OTG ini yang sebenarnya harus diwaspadai karena mereka bisa berkeliaran ke mana-mana," ucap aktivis pemerhati perempuan dan anak ini.

"Terbukti kemarin, beberapa orang yang awalnya terlihat sehat-sehat saja pada saat datang ke Kantor Kowani ternyata terdeteksi reaktif. Mereka langsung kita rujuk ke puskesmas terdekat sesuai KTP-nya untuk tes swab,"lanjut Giwo, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Kegiatan rapid test ini juga ingin memperlihatkan bahwa anggapan rapid test hasilnya tidak akurat itu kurang tepat, terlebih tidak sedikit yang hasil rapid test negatif, tapi justru terpapar coronavirus. "Dan kami sepakat bahwa yang hasil rapid test-nya reaktif belum tentu terpapar dan harus dirujuk untuk swab test, jika hasilnya positif langsung diisolasi mandiri," kata Giwo.

Sementara itu, mengingat belum dapat diketahui secara pasti kapan pandemi Covid-19 bakal berakhir, Giwo pun mendukung pemberlakukan kebijakan the new normal. Namun, itu harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Kehidupan tidak mungkin menunggu hingga vaksin ini ditemukan. Sehingga kehidupan baru atau the new normalmemang harus dijalani, di mana kita menjalani aktivitas seperti sediakalaberdampingan dengan Covid-19," tutup wanita 58 tahun ini.
(nug)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak