Jelang New Normal, Kowani Sarankan Sekolah Lakukan Rapid Test
Minggu, 31 Mei 2020 - 22:40 WIB
loading...
A
A
A
"Tujuan kegiatan ini untuk memutus mata rantai virus corona lewat deteksi awal. Pentingnya rapid test ini agar orang tanpa gejala (OTG) bisa terdeteksi. OTG ini yang sebenarnya harus diwaspadai karena mereka bisa berkeliaran ke mana-mana," ucap aktivis pemerhati perempuan dan anak ini.
"Terbukti kemarin, beberapa orang yang awalnya terlihat sehat-sehat saja pada saat datang ke Kantor Kowani ternyata terdeteksi reaktif. Mereka langsung kita rujuk ke puskesmas terdekat sesuai KTP-nya untuk tes swab,"lanjut Giwo, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Kegiatan rapid test ini juga ingin memperlihatkan bahwa anggapan rapid test hasilnya tidak akurat itu kurang tepat, terlebih tidak sedikit yang hasil rapid test negatif, tapi justru terpapar coronavirus. "Dan kami sepakat bahwa yang hasil rapid test-nya reaktif belum tentu terpapar dan harus dirujuk untuk swab test, jika hasilnya positif langsung diisolasi mandiri," kata Giwo.
Sementara itu, mengingat belum dapat diketahui secara pasti kapan pandemi Covid-19 bakal berakhir, Giwo pun mendukung pemberlakukan kebijakan the new normal. Namun, itu harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
"Kehidupan tidak mungkin menunggu hingga vaksin ini ditemukan. Sehingga kehidupan baru atau the new normalmemang harus dijalani, di mana kita menjalani aktivitas seperti sediakalaberdampingan dengan Covid-19," tutup wanita 58 tahun ini.
"Terbukti kemarin, beberapa orang yang awalnya terlihat sehat-sehat saja pada saat datang ke Kantor Kowani ternyata terdeteksi reaktif. Mereka langsung kita rujuk ke puskesmas terdekat sesuai KTP-nya untuk tes swab,"lanjut Giwo, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Kegiatan rapid test ini juga ingin memperlihatkan bahwa anggapan rapid test hasilnya tidak akurat itu kurang tepat, terlebih tidak sedikit yang hasil rapid test negatif, tapi justru terpapar coronavirus. "Dan kami sepakat bahwa yang hasil rapid test-nya reaktif belum tentu terpapar dan harus dirujuk untuk swab test, jika hasilnya positif langsung diisolasi mandiri," kata Giwo.
Sementara itu, mengingat belum dapat diketahui secara pasti kapan pandemi Covid-19 bakal berakhir, Giwo pun mendukung pemberlakukan kebijakan the new normal. Namun, itu harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
"Kehidupan tidak mungkin menunggu hingga vaksin ini ditemukan. Sehingga kehidupan baru atau the new normalmemang harus dijalani, di mana kita menjalani aktivitas seperti sediakalaberdampingan dengan Covid-19," tutup wanita 58 tahun ini.
(nug)
Lihat Juga :