Cegah Penyakit Jantung di Masa Pandemi dengan 6 Langkah Berikut Ini
Sabtu, 02 Oktober 2021 - 11:10 WIB
loading...
Di masa pandemi sekarang ini, orang dengan komorbid terutama penyakit kardiovaskular memiliki risiko yang sangat tinggi apabila terpapar Covid-19. / Foto: ilustrasi/ist
A
A
A
JAKARTA - Penyakit kardiovaskuler seperti jantung , kanker, stroke, gagal ginjal tiap tahun terus meningkat. Bahkan menempati peringkat tertinggi penyebab kematian di Indonesia terutama pada usia-usia produktif.
Data Riskesdas menunjukkan prevalensi penyakit kardiovaskular seperti hipertensi meningkat dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018), stroke 12,1 per mil (2013) menjadi 10,9 per mil (2018), penyakit jantung koroner tetap 1,5% (2013-2018), penyakit gagal ginjal kronis, dari 0,2% (2013) menjadi 0,38% (2018).
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), DR dr Isman Firdaus Sp.JP (K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FESC, FACC, FSCAI, mengungkapkan tingginya prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia disebabkan oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan pola makan yang tidak seimbang.
"Gaya hidup, merokok, dan pola makan merupakan kontributor utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK), dilaporkan 50% penderita PJK berpotensi mengalami henti jantung mendadak atau sudden cardiac death," terangnya dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Jumat, 1 Oktober 2021.
Baca juga: Obat Termahal di Dunia, Ada yang Rp30 Miliar Sekali Suntik!
Dia menuturkan, di masa pandemi sekarang ini, orang dengan komorbid terutama penyakit kardiovaskular memiliki risiko yang sangat tinggi apabila terpapar Covid-19.
Data Riskesdas menunjukkan prevalensi penyakit kardiovaskular seperti hipertensi meningkat dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018), stroke 12,1 per mil (2013) menjadi 10,9 per mil (2018), penyakit jantung koroner tetap 1,5% (2013-2018), penyakit gagal ginjal kronis, dari 0,2% (2013) menjadi 0,38% (2018).
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), DR dr Isman Firdaus Sp.JP (K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FESC, FACC, FSCAI, mengungkapkan tingginya prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia disebabkan oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan pola makan yang tidak seimbang.
"Gaya hidup, merokok, dan pola makan merupakan kontributor utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK), dilaporkan 50% penderita PJK berpotensi mengalami henti jantung mendadak atau sudden cardiac death," terangnya dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Jumat, 1 Oktober 2021.
Baca juga: Obat Termahal di Dunia, Ada yang Rp30 Miliar Sekali Suntik!
Dia menuturkan, di masa pandemi sekarang ini, orang dengan komorbid terutama penyakit kardiovaskular memiliki risiko yang sangat tinggi apabila terpapar Covid-19.
Lihat Juga :