Awas Ancaman Penyakit Metabolik di Masa Pandemik
Kamis, 04 Juni 2020 - 09:04 WIB
loading...
Untuk mencegah timbulnya penyakit metabolik selama pandemi COVID-19, kita harus terus menerapkan pola hidup yang baik dan lakukan pengecekan kesehatan rutin. Foto Ilustrasi/NMC Healthcare
A
A
A
JAKARTA - Semasa pandemik, mau tak mau masyarakat dekat dengan gaya hidup tidak aktif atau sedentary lifestyle. Hal ini bisa berakibat berat badan bertambah sehingga memunculkan sindroma perut buncit yang ditandai dengan trigliserida yang tinggi, HDL turun, tekanan darah naik, serta gula darah yang juga naik.
Kondisi ini erat kaitannya dengan penyakit hipertensi, diabetes, obesitas, hingga asma. (Baca Juga: 5 Gerakan Olahraga yang Bisa Dilakukan di Atas Kasur )
Dikatakan dr. Roy Panusunan Sibarani Sp.PD-KEMD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam-Konsultan Endokrin Metabolik serta Ketua Komite Medis/Team COVID-19 RS Murni Teguh Sudirman Jakarta, selain gelombang kedua COVID-19 yang diperkirakan akan muncul setelah Juni ini, pada saat yang bersamaan juga muncul potensi kesehatan metabolik yang meningkat.
"Pada saat terjadi pandemi, terjadi juga perubahan pola hidup, baik secara fisik, psikis, atau kehidupan sosial selama bekerja dari rumah (WFH). Semua hal itu sudah pasti akan berpengaruh terhadap kesehatan dan yang paling menonjol terhadap kesehatan metabolik," ujarnya.
Pada era COVID-19 sekarang, semua orang terlalu fokus pada penyakit tersebut. Artinya, penyakit-penyakit seperti serangan jantung, gula tinggi, dan hipertensi jadi seperti terlupakan.
"Hanya berfokus pada COVID-19 justru membuat orang jadi tidak awas terhadap penyakit metabolik. Padahal, penyakit metabolik itu adalah penyakit degeneratif. Di mana makin tua kita, maka makin banyak kemungkinannya untuk kena penyakit diabetes, darah tinggi, dan gangguan kolesterol," kata dr. Roy.
Gangguan metabolik sendiri adalah kelainan yang memengaruhi produksi energi di dalam sel tubuh manusia sehingga mengakibatkan gangguan pada metabolisme.
Kondisi ini erat kaitannya dengan penyakit hipertensi, diabetes, obesitas, hingga asma. (Baca Juga: 5 Gerakan Olahraga yang Bisa Dilakukan di Atas Kasur )
Dikatakan dr. Roy Panusunan Sibarani Sp.PD-KEMD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam-Konsultan Endokrin Metabolik serta Ketua Komite Medis/Team COVID-19 RS Murni Teguh Sudirman Jakarta, selain gelombang kedua COVID-19 yang diperkirakan akan muncul setelah Juni ini, pada saat yang bersamaan juga muncul potensi kesehatan metabolik yang meningkat.
"Pada saat terjadi pandemi, terjadi juga perubahan pola hidup, baik secara fisik, psikis, atau kehidupan sosial selama bekerja dari rumah (WFH). Semua hal itu sudah pasti akan berpengaruh terhadap kesehatan dan yang paling menonjol terhadap kesehatan metabolik," ujarnya.
Pada era COVID-19 sekarang, semua orang terlalu fokus pada penyakit tersebut. Artinya, penyakit-penyakit seperti serangan jantung, gula tinggi, dan hipertensi jadi seperti terlupakan.
"Hanya berfokus pada COVID-19 justru membuat orang jadi tidak awas terhadap penyakit metabolik. Padahal, penyakit metabolik itu adalah penyakit degeneratif. Di mana makin tua kita, maka makin banyak kemungkinannya untuk kena penyakit diabetes, darah tinggi, dan gangguan kolesterol," kata dr. Roy.
Gangguan metabolik sendiri adalah kelainan yang memengaruhi produksi energi di dalam sel tubuh manusia sehingga mengakibatkan gangguan pada metabolisme.
Lihat Juga :