Kasus Omicron di AS Meledak hingga 1 Juta Sehari, Pakar Kesehatan Ungkap Penyebabnya

Kamis, 20 Januari 2022 - 10:48 WIB
loading...
Kasus Omicron di AS Meledak hingga 1 Juta Sehari, Pakar Kesehatan Ungkap Penyebabnya
Pakar Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Addai mengatakan infeksi Omicron bisa meledak seperti kasus yang terjadi di AS hingga 1 juta orang dalam sehari. Foto/Ilustrasi/Shutterstock
A A A
AMERIKA SERIKAT - Pakar Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19 , dr. Muhamad Fajri Adda'i mengatakan bahwa infeksi Omicron ringan, namun tetap tidak boleh dianggap remeh. Sebab infeksi Omicron bisa meledak seperti kasus yang terjadi di Amerika Serikat (AS).

Dalam unggahan video singkat di akun Instagram pribadinya @dr.fajriaddai, Kamis (20/1/2022), kasus Omicron di AS meledak parah hingga rata-ratanya lebih dari 1 juta kasus per hari. Padahal sebelumnya ledakan kasus varian Delta tidak sebanyak Omicron.

Selain itu kasus pasien yang sampai dirawat inap lebih dari 150 ribu per hari. Bahkan kematian hampir menyentuh angka 2 ribuan perhari. Dokter Fajri pun mencoba memberikan penjelasan mengenai fenomena yang terjadi tersebut.

Menurutnya varian Omicron ini memiliki kecepatan menular yang amat sangat cepat akibat mutasi genetik yang terjadi. Meski demikian, untungnya sebanyak 63 persen dari populasi masyarakat AS sudah divaksin full dosis atau divaksinasi sebanyak 2 kali.

Baca Juga: Omicron Mengganas, RSDC Wisma Atlet Rawat 2.636 Pasien Covid-19

Sementara 24 persen populasi lainnya juga sudah diberikan vaksinasi dosis booster atau vaksinasi ketiga. Sehingga dampak keparahan dari infeksi varian Omicron ini jauh lebih baik. Kalau tidak divaksin lengkap dan mendapatkan booster sebanyak itu, kemungkinan ledakan kasus akan lebih parah.



Dokter Fajri berharap semoga Indonesia tidak mengalami ledakan seperti kasus yang menimpa AS. Namun, ia meminta masyarakat tetap peduli dan waspada dalam memahami bahwa saat ini dunia masih dalam konteks pandemi Covid-19.
(hri)
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2875 seconds (11.252#12.26)