5 Kuliner Khas Jawa Barat yang Penuh Filosofi, Cita Rasa Melegenda
Senin, 07 Maret 2022 - 13:24 WIB
loading...
A
A
A
Bubur suro terbuat dari bubur beras, santen kelapa, dan lauk pauk. Lauk pauknya seperti sambal goreng, dendeng daging sapi suwir, ayam suwir, ikan asin jambal, ebi, serundeng kuning, kacang tanah goreng, buah delima pretel, buah jerus gede suwir, daung kemangi, dan bahan lainnya.
Selain itu, bubur suro juga disajikan bersama aneka hasil bumi, seperti kacang-kacangan, kelapa, umbi-umbian, dan buah-buahan. Dalam pembuatannya, bubur suro mengandung filosofi, yakni agar senantiasa bersyukur dan bersedekah.
Pasalnya, bahan-bahan pembuatan bubur ini berasal dari sukarela masyarakat dan diolah di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon. Untuk penyajiannya, bubur suro ditempatkan di wadah yang terbuat dari daun klutuk yang dibentuk seperti perahu sebagai pengingat Nabi Nuh.
Biasanya sebelum disajikan, terdapat beberapa upacara adat yang lebih dulu digelar di lingkungan Keraton Kanoman Cirebon.
Baca Juga: Valerie dan Arsyan Jadi Pemenang Tantangan Jakarta Street Food MasterChef Indonesia Season 9
5. Empal Gentong
![5 Kuliner Khas Jawa Barat yang Penuh Filosofi, Cita Rasa Melegenda]()
Empal gentong merupakan sajian kuliner istimewa khas Cirebon. Sekilas, kuliner ini mirip dengan gulai. Padahal, dari cara pembuatan dan penyajiannya berbeda. Pada awalnya, empal gentong dibuat dari daging kerbau. Salah satu keunikannya, daging kerbau tersebut dimasukkan ke dalam gentong yang terbuat dari tanah kemudian dimasak dengan menggunakan kayu asam.
Empal gentong awalnya diciptakan oleh masyarakat Desa Battembat pada 1950-an. Kala itu, jumlah kerbau ternak di desa itu sangatlah banyak, sehingga para wanita desa ditantang untuk menyajikan kuliner lezat dari daging kerbau.
Namun, lambat laun, bahan dasar empal gentong tak melulu menggunakan daging kerbau, beralih ke daging sapi karena memasuki 1980-an, daging kerbau mulai sulit didapatkan. Para peternak saat itu dikisahkan mulai beralih beternak sapi.
Sumber lainnya menyebutkan bahwa empal gentong sedianya telah hadir sejak abad ke-15 di Cirebon. Kuliner ini merupakan produk akulturasi dari empat budaya, yakni budaya Arab, China, India dan Indonesia. Kala itu, Cirebon ibarat menjadi persinggahan pedagang dari Jalur Sutra.
Selain itu, bubur suro juga disajikan bersama aneka hasil bumi, seperti kacang-kacangan, kelapa, umbi-umbian, dan buah-buahan. Dalam pembuatannya, bubur suro mengandung filosofi, yakni agar senantiasa bersyukur dan bersedekah.
Pasalnya, bahan-bahan pembuatan bubur ini berasal dari sukarela masyarakat dan diolah di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon. Untuk penyajiannya, bubur suro ditempatkan di wadah yang terbuat dari daun klutuk yang dibentuk seperti perahu sebagai pengingat Nabi Nuh.
Biasanya sebelum disajikan, terdapat beberapa upacara adat yang lebih dulu digelar di lingkungan Keraton Kanoman Cirebon.
Baca Juga: Valerie dan Arsyan Jadi Pemenang Tantangan Jakarta Street Food MasterChef Indonesia Season 9
5. Empal Gentong
.jpg)
Empal gentong merupakan sajian kuliner istimewa khas Cirebon. Sekilas, kuliner ini mirip dengan gulai. Padahal, dari cara pembuatan dan penyajiannya berbeda. Pada awalnya, empal gentong dibuat dari daging kerbau. Salah satu keunikannya, daging kerbau tersebut dimasukkan ke dalam gentong yang terbuat dari tanah kemudian dimasak dengan menggunakan kayu asam.
Empal gentong awalnya diciptakan oleh masyarakat Desa Battembat pada 1950-an. Kala itu, jumlah kerbau ternak di desa itu sangatlah banyak, sehingga para wanita desa ditantang untuk menyajikan kuliner lezat dari daging kerbau.
Namun, lambat laun, bahan dasar empal gentong tak melulu menggunakan daging kerbau, beralih ke daging sapi karena memasuki 1980-an, daging kerbau mulai sulit didapatkan. Para peternak saat itu dikisahkan mulai beralih beternak sapi.
Sumber lainnya menyebutkan bahwa empal gentong sedianya telah hadir sejak abad ke-15 di Cirebon. Kuliner ini merupakan produk akulturasi dari empat budaya, yakni budaya Arab, China, India dan Indonesia. Kala itu, Cirebon ibarat menjadi persinggahan pedagang dari Jalur Sutra.
(dra)
Lihat Juga :