Turunkan Stunting, Pemerintah dan Pakar Gizi Dorong Pemenuhan Protein Hewani
Selasa, 14 Juni 2022 - 18:44 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Hari Gizi Nasional 2022, Minum Susu Rutin Bisa Mencegah Stunting
Rendahnya konsumsi protein di Indonesia, menurut Dr. Erna, antara lain disebabkan oleh akses untuk mendapatkan protein hewani yang masih rendah pada sebagian besar masyarakat dan juga kurangnya ketelatenan orang tua dalam memberi makan anak-anaknya.
Dalam rangka Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara, Prof. Fika mengingatkan bahwa selain sebagai sumber protein, kandungan gizi pada susu sangat lengkap, mulai dari sumber energi, lemak, dan aneka vitamin dan mineral. Menurut Prof. Fika, peran susu dalam mencegah kekurangan gizi sebenarnya sangat panjang.
Air Susu Ibu (ASI) diperlukan sejak bayi baru lahir, lanjut masa anak – anak, dewasa hingga lansia dengan melanjutkan konsumsi susu sesuai tahap usia dan kebutuhan masing – masing tubuh. Untuk bayi (melalui ASI), anak-anak, dan remaja, susu diperlukan untuk pertumbuhan karena kandungan gizinya.
Pada saat dewasa, kandungan kalsium yang tinggi pada susu dapat mencegah osteoporosis, susu juga mendukung daya tahan tubuh. Jadi dari bayi lahir, dewasa hingga lansia, pasti semua butuh susu karena kebutuhan gizi lengkap yang ada di dalamnya. Harris menambahkan, Bappenas mendorong strategi khusus, yaitu meningkatkan Program Makanan Tambahan (PMT) dengan makanan lokal.
“Ada produk protein hewani lokal yang mesti digunakan sebagai PMT. Program ini selain upaya meningkatkan asupan protein hewani juga sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Meningkatkan kecintaan pada makanan lokal. Sehinga aspek budaya pembangunan karakter dalam makanan lokal juga ikut terealisasi,” papar Harris.
Untuk pemberian makan tambahan bagi anak-anak yang gizinya kurang atau gizi buruk, menurut Dr. Erna, pemerintah melalui Kementerian Sosial telah meluncurkan program Keluarga Harapan yang memberikan dana tunai untuk pembelian makanan bergizi bagi anak balitanya. Meski begitu, pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi perkembangan anak, sejak janin dalam kandungan, bahkan sebelum kehamilan, perlu terus dibangun.
Inilah mengapa edukasi gizi harus terus dilakukan, hingga ke pelosok. “Orang tua bisa melakukan konseling ke kader posyandu, puskesmas, dokter, hingga mengikut kelas ibu balita dan ibu hamil,” tutup Dr. Erna.
Rendahnya konsumsi protein di Indonesia, menurut Dr. Erna, antara lain disebabkan oleh akses untuk mendapatkan protein hewani yang masih rendah pada sebagian besar masyarakat dan juga kurangnya ketelatenan orang tua dalam memberi makan anak-anaknya.
Dalam rangka Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara, Prof. Fika mengingatkan bahwa selain sebagai sumber protein, kandungan gizi pada susu sangat lengkap, mulai dari sumber energi, lemak, dan aneka vitamin dan mineral. Menurut Prof. Fika, peran susu dalam mencegah kekurangan gizi sebenarnya sangat panjang.
Air Susu Ibu (ASI) diperlukan sejak bayi baru lahir, lanjut masa anak – anak, dewasa hingga lansia dengan melanjutkan konsumsi susu sesuai tahap usia dan kebutuhan masing – masing tubuh. Untuk bayi (melalui ASI), anak-anak, dan remaja, susu diperlukan untuk pertumbuhan karena kandungan gizinya.
Pada saat dewasa, kandungan kalsium yang tinggi pada susu dapat mencegah osteoporosis, susu juga mendukung daya tahan tubuh. Jadi dari bayi lahir, dewasa hingga lansia, pasti semua butuh susu karena kebutuhan gizi lengkap yang ada di dalamnya. Harris menambahkan, Bappenas mendorong strategi khusus, yaitu meningkatkan Program Makanan Tambahan (PMT) dengan makanan lokal.
“Ada produk protein hewani lokal yang mesti digunakan sebagai PMT. Program ini selain upaya meningkatkan asupan protein hewani juga sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Meningkatkan kecintaan pada makanan lokal. Sehinga aspek budaya pembangunan karakter dalam makanan lokal juga ikut terealisasi,” papar Harris.
Untuk pemberian makan tambahan bagi anak-anak yang gizinya kurang atau gizi buruk, menurut Dr. Erna, pemerintah melalui Kementerian Sosial telah meluncurkan program Keluarga Harapan yang memberikan dana tunai untuk pembelian makanan bergizi bagi anak balitanya. Meski begitu, pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi perkembangan anak, sejak janin dalam kandungan, bahkan sebelum kehamilan, perlu terus dibangun.
Inilah mengapa edukasi gizi harus terus dilakukan, hingga ke pelosok. “Orang tua bisa melakukan konseling ke kader posyandu, puskesmas, dokter, hingga mengikut kelas ibu balita dan ibu hamil,” tutup Dr. Erna.
(dra)
Lihat Juga :