alexametrics

Pakai Kondom, Kualitas Bercinta Tidak Akan Berkurang

loading...
Pakai Kondom, Kualitas Bercinta Tidak Akan Berkurang
Stigma negatif kondom sebagai sebuah alat kontrasepsi masih menjadi salah satu hambatan terhadap peningkatan penggunaan kondom di Indonesia. / Foto: Insider
A+ A-
JAKARTA - Hingga saat ini, stigma negatif kondom sebagai sebuah alat kontrasepsi masih menjadi salah satu hambatan terhadap peningkatan penggunaan kondom di Indonesia. Stigma itu diakibatkan karena kampanye kondom selalu dikaitkan dengan cara pencegahan penularan HIV-AIDS ke ruang publik, sehingga yang terpatri di masyarakat adalah kondom hanya sebagai alat kenakalan laki-laki.

(Baca juga: Ini Posisi Seks yang Dapat Membakar Kalori Paling Banyak)

Padahal penggunaan kondom diperlukan sebagai alat triple protections yakni pencegahan terhadap infeksi menular seksual dan HIV-AIDS, pencegahan terhadap kehamilan tidak direncanakan, serta pencegahan terhadap Covid-19. Faktanya, kondom adalah alat kontrasepsi non hormonal, sangat efektif dan efisien, paling mudah didapat dengan harga terjangkau daripada alat kontrasepsi lainnya.

"Mindset masyarakat perlu diluruskan, karena kondom memiliki ketebalan antara 0.05 hingga 0.03 milimeter, sehingga tidak akan memengaruhi kualitas bercinta pasangan. Selain itu, kondom merupakan alat kontrasepsi yang paling minim risiko, dan tidak memiliki efek hormonal, sekaligus dapat menambah kepuasan bercinta dengan pasangan," papar pakar HIV Indonesia, Dr. Adi Sasongko dalam keterangan tertulis DKT Indonesia, Jumat (26/6).

Lebih lanjut, penggunaan kondom juga membiasakan laki-laki untuk lebih bertanggung-jawab dan tidak egois. Karena selama ini, kesadaran penggunaan alat kontrasepsi titik beratnya ada pada kaum perempuan. Untuk menyukseskan program kondom sebagai triple protections, dibutuhkan partisipasi dan kesadaran kaum pria secara menyeluruh. Karena hingga saat ini, program tersebut masih terkendala beberapa hal.

(Baca juga: Demonstran Nakal AS Tawarkan Seks pada Polisi yang Bersedia Mundur)

Seperti halnya masyarakat yang masih menganggap tabu pendidikan kesehatan seksual reproduksi, serta stigma terhadap kondom yang selalu dianggap negatif dan tabu, serta mengubah kampanye kondom sebagai salah satu alat kesehatan keluarga di ruang publik.

"Dengan berpartisipasi menggunakan kondom, berarti kita turut menjadi lelaki andalan yang peduli, setara, serta bertanggung-jawab kepada keluarga," kata Head of Market Access & Programs DKT Indonesia, Basuki Dwi Harjanto.
(nug)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak