Yuk, Kenali Hiperseksual dan Penyebabnya
Selasa, 30 Juni 2020 - 20:30 WIB
loading...
Selama ini pria dinilai paling suka bercinta. Akan tetapi, wanita pun mempunyai gairah seks yang tinggi atau dikenal hiperseksual. Yuk, kenali juga penyebabnya. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Selama ini pria dinilai paling suka bercinta. Akan tetapi, wanita pun mempunyai gairah seks yang tinggi atau dikenal hiperseksual.
Belum lama ini, seorang suami berinisial SDM di Kabupaten Gresik, Surabaya ditangkap polisi karena menjual istrinya, ST dengan alasan untuk memenuhi nafsu seks istrinya yang tinggi atau hiperseksual. "Istri saya sering minta itu (hubungan seks). Siang, malam, siang, malam. Kalau kerja kan saya capek (tidak bisa melayani istri)," kata SDM.
Terkait kasus ini, wanita yang sering berhubungan seks sehingga dapat menyebabkan masalah disebut hiperseksual. Kondisi ini ditandai oleh tingginya tingkat masturbasi dan penggunaan pornografi, daripada bentuk pasif dari perilaku seksual, seperti memiliki fantasi.
Hiperseksualitas adalah topik yang sangat diperdebatkan di antara para psikiater dan peneliti pengobatan seksual, yang memiliki pendapat berbeda tentang apakah aktivitas seksual terlalu banyak benar-benar merupakan gangguan, baik untuk jenis kelamin.
Tapi mungkin yang lebih kontroversial adalah pandangan tentang hiperseksualitas pada wanita, sebuah kelompok yang biasanya diabaikan dalam sebagian besar penelitian tentang hiperseksualitas. "Sejumlah besar mitos tentang hiperseksualitas wanita masih ada," kata penulis studi tersebut seperti dilansir dari Livescience.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh wanita hiperseksual, para peneliti mensurvei hampir 1.000 wanita di Jerman yang kebanyakan mahasiswa. Pertanyaan yang diajukan, seberapa sering mereka melakukan masturbasi atau menonton film porno, dan berapa banyak pasangan seksual yang mereka miliki.
Para peneliti juga menilai perilaku hiperseksual pada peserta menggunakan kuesioner yang disebut Hypersexual Behavior Inventory, yang mencakup 19 pertanyaan tentang seberapa sering seseorang menggunakan seks untuk mengatasi masalah emosional, apakah terlibat dalam aktivitas seksual berada di luar kendali seseorang dan apakah aktivitas seksual ini mengganggu pekerjaan atau sekolah seseorang.
Belum lama ini, seorang suami berinisial SDM di Kabupaten Gresik, Surabaya ditangkap polisi karena menjual istrinya, ST dengan alasan untuk memenuhi nafsu seks istrinya yang tinggi atau hiperseksual. "Istri saya sering minta itu (hubungan seks). Siang, malam, siang, malam. Kalau kerja kan saya capek (tidak bisa melayani istri)," kata SDM.
Terkait kasus ini, wanita yang sering berhubungan seks sehingga dapat menyebabkan masalah disebut hiperseksual. Kondisi ini ditandai oleh tingginya tingkat masturbasi dan penggunaan pornografi, daripada bentuk pasif dari perilaku seksual, seperti memiliki fantasi.
Hiperseksualitas adalah topik yang sangat diperdebatkan di antara para psikiater dan peneliti pengobatan seksual, yang memiliki pendapat berbeda tentang apakah aktivitas seksual terlalu banyak benar-benar merupakan gangguan, baik untuk jenis kelamin.
Tapi mungkin yang lebih kontroversial adalah pandangan tentang hiperseksualitas pada wanita, sebuah kelompok yang biasanya diabaikan dalam sebagian besar penelitian tentang hiperseksualitas. "Sejumlah besar mitos tentang hiperseksualitas wanita masih ada," kata penulis studi tersebut seperti dilansir dari Livescience.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh wanita hiperseksual, para peneliti mensurvei hampir 1.000 wanita di Jerman yang kebanyakan mahasiswa. Pertanyaan yang diajukan, seberapa sering mereka melakukan masturbasi atau menonton film porno, dan berapa banyak pasangan seksual yang mereka miliki.
Para peneliti juga menilai perilaku hiperseksual pada peserta menggunakan kuesioner yang disebut Hypersexual Behavior Inventory, yang mencakup 19 pertanyaan tentang seberapa sering seseorang menggunakan seks untuk mengatasi masalah emosional, apakah terlibat dalam aktivitas seksual berada di luar kendali seseorang dan apakah aktivitas seksual ini mengganggu pekerjaan atau sekolah seseorang.
Lihat Juga :