Bebas Berkarya, Ifnur Hikmah Mampu Jaga Eksistensi sebagai Penulis Mandiri
Rabu, 14 September 2022 - 10:46 WIB
loading...
A
A
A
Profesi Iif sebagai penulis fiksi dimulai saat Iif berusaha untuk menerbitkan karya tulisannya. Beberapa kali mencoba mengajukan tulisannya ke beberapa penerbit, tetapi Iif tahu jika naskahnya terbit melalui penerbit konvensional akan mengalami penyuntingan besar-besaran di meja editor.
Selain itu, tawaran yang diberikan penerbit konvensional sering bertentangan dengan pendiriannya. Akhirnya, dia tertarik dan mencoba peruntungan menerbitkan tulisan pertamanya yang merupakan kolaborasi kumpulan cerpen bersama teman-teman penulis pemula melalui sebuah platform self publishing.
"Dulu mikirnya self-publishing adalah pekerjaan yang mahal dan butuh modal banyak. Ditambah, ada stigma soal kualitasnya enggak dipandang rendah karena enggak lolos meja editor. Buat gue pribadi, terbit enggaknya tergantung naskah," tutur Iif seperti dikutip dari siaran pers KaryaKarsa, Rabu (14/9/2022).
"Meski self-publishing, bukan berarti asal. Secara teknis memang menerbitkan secara independen, tapi proses pengerjaannya sama kayak penerbit konvensional. Tapi, penulis punya peran lebih besar, termasuk dalam menentukan timeline produksi," jelas dia.
Selang tiga bulan dari terbitan self publishing-nya yang pertama, Iif dan teman-teman mendapatkan tawaran untuk menerbitkan tulisannya melalui penerbit. Bahkan dia telah mengadakan peluncuran di toko buku. Setelah itu, Iif terus konsisten berkarya dan menerbitkan tulisannya secara mandiri.
Seiring dengan peningkatan produktivitas berkarya, Iif mulai kewalahan karena harus mengurus banyak hal seorang diri. Oleh karenanya, setelah merilis buku berjudul "Never Been Kissed", di mana Iif melibatkan banyak freelancer, akhirnya Iif bersama seorang temannya membentuk tim hybrid publishing independent.
Setelah 9 tahun mengembangkan profesi melalui berbagai platform self publishing, pada 2021, Iif tertarik bergabung dengan KaryaKarsa. Di sini, tidak hanya disediakan ruang untuk berkarya secara legal dan berinteraksi dengan publik, tetapi juga hadir sebagai rumah para storyteller yang mendukung pemberdayaan secara menyeluruh.
Selain itu, tawaran yang diberikan penerbit konvensional sering bertentangan dengan pendiriannya. Akhirnya, dia tertarik dan mencoba peruntungan menerbitkan tulisan pertamanya yang merupakan kolaborasi kumpulan cerpen bersama teman-teman penulis pemula melalui sebuah platform self publishing.
"Dulu mikirnya self-publishing adalah pekerjaan yang mahal dan butuh modal banyak. Ditambah, ada stigma soal kualitasnya enggak dipandang rendah karena enggak lolos meja editor. Buat gue pribadi, terbit enggaknya tergantung naskah," tutur Iif seperti dikutip dari siaran pers KaryaKarsa, Rabu (14/9/2022).
"Meski self-publishing, bukan berarti asal. Secara teknis memang menerbitkan secara independen, tapi proses pengerjaannya sama kayak penerbit konvensional. Tapi, penulis punya peran lebih besar, termasuk dalam menentukan timeline produksi," jelas dia.
Selang tiga bulan dari terbitan self publishing-nya yang pertama, Iif dan teman-teman mendapatkan tawaran untuk menerbitkan tulisannya melalui penerbit. Bahkan dia telah mengadakan peluncuran di toko buku. Setelah itu, Iif terus konsisten berkarya dan menerbitkan tulisannya secara mandiri.
Seiring dengan peningkatan produktivitas berkarya, Iif mulai kewalahan karena harus mengurus banyak hal seorang diri. Oleh karenanya, setelah merilis buku berjudul "Never Been Kissed", di mana Iif melibatkan banyak freelancer, akhirnya Iif bersama seorang temannya membentuk tim hybrid publishing independent.
Setelah 9 tahun mengembangkan profesi melalui berbagai platform self publishing, pada 2021, Iif tertarik bergabung dengan KaryaKarsa. Di sini, tidak hanya disediakan ruang untuk berkarya secara legal dan berinteraksi dengan publik, tetapi juga hadir sebagai rumah para storyteller yang mendukung pemberdayaan secara menyeluruh.
Lihat Juga :